Ketika Sosok Ayah Hanya Ada dalam Kartu Keluarga

Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung 2026-2027 Founder Komunitas Literasi Serikat Rasionalis Mahasiswa S1 PIAUD - Universitas Muhammadiyah Bandung
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Fajar Abidin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak-anak adalah fondasi masa depan. Pada rentang usia emas (Golden Age) 0–8 tahun, tumbuh kembang mereka tak hanya soal nutrisi, tetapi juga tentang rasa aman, pembentukan karakter, dan kestabilan emosi.
Namun, di balik proses tumbuh kembang tersebut, ada tantangan besar yang kerap terabaikan yaitu fenomena fatherless—kondisi ketika anak kehilangan peran dan kehadiran sosok ayah dalam pengasuhannya.
Fatherless Bukan Hanya Soal Kehadiran Fisik, Tapi Juga Hubungan Emosional
Banyak yang menganggap fatherless hanya terjadi akibat kematian atau perceraian. Padahal, fenomena ini juga mencakup sosok ayah yang cuma formalitas. Artinya, ayah ada secara fisik di rumah, tetapi "absen" secara emosional dan interaksi.
Ibu kerap dibiarkan menanggung sendirian seluruh beban pengasuhan. Padahal, pengasuhan anak sejatinya adalah tugas berdua.
"Ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan benteng perlindungan, tauladan kebaikan, dan pengatur regulasi emosi bagi anak."
Realita Angka di Indonesia
Kondisi ini bukan sekadar asumsi belaka. Berbagai data menunjukkan betapa mendesaknya isu ini:
Tingginya Angka Perceraian: Data BPS mencatat ratusan ribu kasus perceraian di Indonesia yang mayoritas dipicu oleh perselisihan terus-menerus. Kondisi ini membuat banyak anak mendadak kehilangan figur ayah.
Absennya Peran Ayah: Data Pendataan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN mencatat lebih dari 25% keluarga di Indonesia mengalami kondisi fatherless, baik secara fisik maupun psikologis.
Kerentanan Anak: Laporan Bappenas dan UNICEF menunjukkan jutaan anak Indonesia masih mengalami serangkaian keterbatasan hidup, yang dampaknya kian berat jika tidak didampingi figur orang tua yang utuh.
Dampak Panjang Bagi Masa Depan Anak
Ketidakhadiran sosok ayah terutama di bawah usia 5 tahun memberikan dampak domino pada anak:
Kesehatan Mental & Emosi: Anak rentan mengalami penurunan harga diri (self-esteem), merasa kesepian, cemas, hingga depresi.
Prestasi Akademik: Anak cenderung kurang percaya diri, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan motivasi belajar di sekolah.
Perilaku Berisiko: Tanpa bimbingan dan kontrol emosional yang seimbang dari kedua orang tua, anak memiliki risiko lebih tinggi terlibat kenakalan remaja saat dewasa.
Keseimbangan Pengasuhan Adalah Kunci
Keluarga ibarat sebuah tim. Ketika fungsi kepemimpinan dan kasih sayang hanya dibebankan pada satu pihak (ibu), ketimpangan akan terjadi.
Sudah saatnya kita mengubah narasi lama bahwa "tugas ayah hanya mencari uang." Kehadiran ayah lewat sapaan hangat, mendengarkan cerita anak, dan terlibat dalam aktivitas harian adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental dan karakter generasi penerus bangsa.
