Konten dari Pengguna

Saat Perempuan Marah: Bukan Drama, Tapi Bahasa Luka

Muhammad Fajar Hidayatulloh

Muhammad Fajar Hidayatulloh

Mahasiswa S1 UIN Sunan Ampel Surabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fajar Hidayatulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Orang sedang mengangkat Sebuah Tulisan. Sumber Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Foto Orang sedang mengangkat Sebuah Tulisan. Sumber Foto: Unsplash.

Katanya, perempuan itu tulang rusuk yang bengkok. Tapi bukankah bengkoknya tulang rusuk itu justru yang membuat jantung tetap aman?

'Ketika "Bengkok" Dijadikan Alasan'

Di salah satu hadits yang cukup sering dikutip dalam majelis pernikahan, Nabi bersabda:

“Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok adalah bagian atasnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sayangnya, sebagian orang berhenti di kata "bengkok". Lalu membingkai perempuan dengan kata-kata seperti: lemah, emosional, tidak rasional. Tapi, jika kita mau berpikir sedikit lebih dalam—tulang rusuk itu memang bengkok bukan karena cacat, tapi karena fungsinya melindungi jantung.

Jadi kalau memang ada kebengkokan dalam perempuan, boleh jadi itu bukan kekurangan. Tapi cara Tuhan menyelipkan kelembutan di balik ketegasan.

Emosi Itu Bukan Monopoli Gender

Dalam banyak situasi, kita mengira perempuan lebih emosional daripada laki-laki. Benarkah demikian? Atau itu hanya bias budaya? Laki-laki marah dianggap tegas, dominan, pemimpin. Perempuan marah? Langsung diberi label “baper”, “drama”, atau “tidak stabil”.

Padahal emosi tidak dilahirkan oleh jenis kelamin. Emosi adalah bagian dari sistem manusia. Dalam jurnal psikologi oleh Al Baqi (2015), marah muncul sebagai bentuk reaksi terhadap frustrasi. Tidak ada kaitan langsung antara rahim dan rentannya ledakan emosi. Yang berbeda hanyalah cara mengekspresikannya.

Tuhan Menciptakan Perbedaan dengan Tujuan

Foto Orang Sedang Membaca Al-Qur'an. Sumber Foto: Unsplash.

Al-Qur'an telah menjelaskan secara terang:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal..."(QS. Al-Hujurat: 13)

Laki-laki dan perempuan bukan untuk saling mengalahkan. Tapi untuk saling melengkapi dan memahami. Maka marahnya perempuan pun adalah bagian dari dinamika kehidupan yang perlu dipahami—bukan dijadikan bahan olok-olok atau penghakiman budaya.

lantas bagaimana perempuan marah dan bagaimana cara mengatasinya?

cara perempuan mengekspresikan marah sangat dipengaruhi oleh budaya. Dalam budaya Jawa misalnya, seperti dijelaskan Al Baqi (2015), perempuan memilih untuk “tersenyum” saat marah. Bukan karena tidak marah, tapi karena terikat norma sosial untuk tetap tampak anggun. Akhirnya, kemarahan itu berubah menjadi sindiran halus, air mata, atau tulisan di catatan harian.

bagaimana mengatasinya? Kuncinya adalah validasi. Jangan buru-buru menyuruh mereka "sabar", karena itu sama seperti menyuruh orang tenggelam untuk "jangan panik". Dalam perspektif psikologi Islam (Wigati, 2013), emosi marah harus dikompensasikan. Artinya, perempuan perlu ruang untuk mengungkapkan dan mengelola amarahnya—dengan wudhu, shalat, bicara jujur, atau sekadar didengarkan tanpa disela.

Penting juga memahami bahwa marah adalah emosi yang sah. Bahkan Rasulullah pun pernah marah, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk membela nilai.

Saya pernah membaca—bahwa marah itu ibarat api. Ia bisa menghanguskan. Tapi juga bisa menghangatkan.

Perempuan tidak sedang mencari pembenaran untuk marah. Mereka hanya ingin dipahami bahwa marah itu bukan kegilaan emosional, tapi bentuk protes ketika hati mereka tak lagi cukup untuk menyimpan luka.

Maka jika suatu saat kau melihat perempuan marah, jangan buru-buru menilai mereka berlebihan. Mungkin kau hanya belum cukup mengerti bahasa luka yang mereka sedang suarakan.

Dan bukankah memahami kemarahan adalah bagian dari cinta?

"Tuhan menciptakan marah bukan untuk dijinakkan, tapi untuk dijadikan bukti bahwa hati manusia masih bekerja."