UMJT dan UMY Gelar Seminar Media Hadapi Disrupsi di Madiun
Tulisan dari Universitas Muhammadiyah Jawa Timur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Seminar Media dan Komunikasi Menghadapi Disrupsi di kampus I UMJT, Senin,12 Oktober 2026.
Selain diikuti civitas akademika UMJT , seminar ini juga diikuti sejumlah akademisi dari perguruan tinggi di wilayah Madiun Raya.
Hadir sebagai narasumber seminar ini adalah Dr. Senja Yustitia,S.Sos., M.Si Ketua Program Studi Media dan Komunikasi Program Magister UMY.
Wakil Rektor I UMJT, Dr. Fajar Junaedi, M.Si menyampaikan, seminar media komunikasi ini dilakukan bertujuan mewujudkan iklim akademik di kampus sehingga suasana akademik semakin kuat.
Seminar ini juga menjadi bagian dari untuk meningkatkan kerjasama dalam mengembangkan ilmu komunikasi.
"UMJT mengembangkan berbagai kegiatan akademik bagi mahasiswa seperti seminar seperti ini agar mahasiswa merasakan iklim akademik. Ini menjadikan UMJT pilihan bagi mahasiswa m," ujar Fajar Junaedi.
Sementara itu, Dr. Senja Yustitia,S.Sos., M.Si menyampaikan apresiasi terhadap seminar media dan komunikasi yang dilaksanakan UMJT dengan menghadirkan tema mengenai disrupsi.
Senja Yustitia juga menyampaikan mahasiswa cukup banyak memberi respon dengan bertanya mengenai tema maupun diluar tema. Memang seperti itulah seharusnya forum Ilmiah, harus mampu menampilkan dan merangsang keberagaman berfikir.
"Dan tadi sudah muncul (keberagaman berpikir). Tapi memang harus secara kontinyu dilaksanakan agar semakin banyak orang bertukar informasi dan saling mendiskusikan informasi. Seperti itu yang bagus," terang Senja Yustisia
Industri Komunikasi
Dalam penyampaian materinya, Senja Yustisia mengatakan industri komunikasi sangat terbuka terhadap perubahan apa pun. Salah satunya dengan terjadinya disrupsi atau juga teknologi AI.
"Situasi sosial politik Indonesia hari ini yang secara umum mengalami otoritarianisme dengan kebebasan berekspresi yang stagnan cenderung menurun," ujar Senja Yustitia.
Sementara di sisi lain publik luas sangat aktif memproduksi dan mereproduksi pesan, memiliki argumentasi yang disalurkan di berbagai medium.
"Publik itu perlu kita lihat sebagai orang yng berada dalam lingkungan yang sama misalnya ada satu informasi dari satu pihak, maka pihak itu jangan senang senang dulu karena masyarakat juga punya data. Misalnya media merekonstruksi hal tertentu maka dia harus tahu public punya perspektif yang berbeda satu sama lain," ujar Senja Yustisia.
Senja Yustitia menekankan bahwa media itu mesti bisa dan mampu menunjukkan keberagaman informasi. Kalau informasi itu sifatnya homogen, tidak akan memberi jalan keluar bagi nalar, pikiran, dan kritis.
'Informasi itu mestinya bermacam-macam, beragam, dan beragam. Untuk itu, acara ini diadakan untuk membangun kesadaran bahwa ruang disrupsi di industri komunikasi itu sangat banyak. Bisa dari teknologi, situasi sosial politik dan keberadaan khalayak.Nah, ini penting bagi mahasiswa komunikasi dalam ikut serta dalam diskusi-diskusi seperti ini," terang Senja Yustitia.(Pujoko)

