Konten dari Pengguna

Indonesia Negara Paling Flourish, Yakin?

Fajar Ruddin

Fajar Ruddin

Mengajar di Fakultas Psikologi UMS

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Ruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anak Indonesia (sumber: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Indonesia (sumber: Pixabay)

Indonesia secara mengejutkan menduduki peringkat pertama survey The Global Flourishing Study. Survey ini begitu fenomenal karena diikuti lebih dari 200.000 partisipan dari 22 negara, yang terdiri dari negara berkembang hingga maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.

Hasil ini begitu menyita perhatian di tengah kondisi negeri yang dilanda gonjang-ganjing. Maka tidak sedikit yang meragukan validitas survey tersebut, termasuk saya. Akan tetapi, keraguan tersebut mungkin perlu ditepikan mengingat pelaksana survey bukan lembaga yang berkantor di ruko semi-gaib. Jauh dari itu, survey ini diinisiasi oleh institusi kelas dunia seperti Universitas Harvard, Universitas Baylor, Gallup, dan Center for Open Science (COS). Tapi pertanyaannya, kok bisa Indonesia menjadi negara paling flourish?

Sebelum membahas hal tersebut, izinkan saya memberikan sedikit uraian terkait flourishing. Sebetulnya para ilmuwan sendiri belum menyepakati definisi dari flourishing karena konsep ini memang rumit dan multidimensi. Dalam konteks psikologi, flourishing biasanya merujuk pada keadaan individu yang memiliki psikopatologis rendah, dan di saat yang sama memiliki well-being yang tinggi. Kondisi ini kadang juga disebut sebagai complete mental health karena menandakan kondisi paripurna dari individu.

Menariknya, daftar pertanyaan dalam survey tersebut tidak hanya berkutat pada penyakit atau kebahagiaan saja, dimana biasanya negara-negara Skandinavia unggul, tapi juga terdiri dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial, politik, keyakinan, bahkan pengalaman masa kecil. Dan bisa jadi, karena luasnya indikator itulah akhirnya ranking Indonesia bisa melejit.

Alih-alih hanya menilai dari seberapa bahagianya seseorang atau seberapa makmurnya mereka secara materiil, survei ini melihat makna, relasi sosial, harapan masa depan, dan kepuasan hidup secara keseluruhan. Hal itu diyakini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia. Bahkan dihitung atau tidaknya indikator finansial dalam survey tersebut, tidak mengubah posisi puncak Indonesia.

Dengan demikian, kita patut merenungkan: apa sebenarnya yang membuat masyarakat Indonesia merasa hidupnya bermakna dan memuaskan, bahkan lebih dari warga negara-negara maju?

Pertama, kemungkinan besar tingkat religiusitas masyarakat Indonesia yang tinggi berkontribusi signifikan terhadap skor flourishing. Dalam banyak kajian psikologi, religiusitas terbukti memberikan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, memberikan makna atas penderitaan, serta menyediakan struktur dan arah hidup. Doa, ibadah, dan nilai-nilai spiritual seperti sabar, ikhlas, dan syukur bukan hanya ekspresi keagamaan, tetapi juga menjadi mekanisme koping yang ampuh dalam menghadapi kesulitan hidup.

Selain religiusitas, ikatan sosial yang kuat juga memainkan peran penting. Coba sebutkan berapa komunitas yang Anda ikuti? Perkumpulan arisan, pengajian, RT/RW, PKK, fans sepak bola, idol, hingga pencinta hewan adalah bentuk kolektivisme yang unik di tengah masyarakat Indonesia. Dengan perasaan kebersamaan yang begitu kuat, masyarakat bisa saling menopang, baik secara emosional maupun material. Hubungan sosial yang hangat dan suportif ini terbukti dalam berbagai studi sebagai salah satu pilar utama dari kesejahteraan psikologis.

Selanjutnya, pandangan hidup yang cenderung nrimo namun tetap optimis menjadi kekhasan psikologis masyarakat kita. Maka tidak jarang kita mendengar ungkapan syukur di tengah musibah yang sedang dihadapi. Misalnya ketika seseorang baru kecelakaan, kita akan mendengar ungkapan seperti “untung yang rusak cuma spion”. Padahal dia baru saja celaka. Bentuk nrimo sekaligus optimis dan syukur ini juga bisa berperan sebagai strategi koping yang dapat meredam stres dan memberi kedamaian pada batin.

Namun demikian, tingginya skor flourishing ini bukan tanpa catatan. Kita tentu harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam euforia semu. Ada potensi bahwa rasa bahagia atau puas yang dirasakan sebagian masyarakat justru lahir dari penyesuaian terhadap keterbatasan yang dianggap sebagai kewajaran. Sehingga pada akhirnya akan muncul normalisasi terhadap penderitaan. Tanda-tandanya sudah nampak, misalnya dari ungkapan-ungkapan yang merendahkan pekerja yang menuntut hak. “Kalau tidak mau digaji segitu, ya sudah resign saja, masih banyak yang mau kerja.” Ungkapan-ungkapan seperti ini ironisnya bukan hanya muncul dari pemberi kerja, melainkan juga dari masyarakat sesama pekerja. Hal ini sudah menjurus pada normalisasi penderitaan. Flourishing yang bersumber dari low expectations atau normalisasi penderitaan tentu berbeda kualitasnya dengan flourishing yang lahir dari pemenuhan potensi diri secara utuh.

Jika kondisi semacam ini dibiarkan, kita berisiko menciptakan masyarakat yang tampak "bahagia" di permukaan, namun sesungguhnya memendam ketidakadilan struktural yang telah diterima sebagai takdir. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi bentuk resiliensi palsu di mana masyarakat bertahan bukan karena didukung oleh sistem yang adil dan sehat, melainkan karena mereka sudah terlalu lelah untuk berharap lebih.

Inilah mengapa penting untuk membedakan antara flourishing yang didorong oleh ketahanan budaya, dengan flourishing yang tumbuh dalam ekosistem sosial yang benar-benar memberdayakan. Keduanya bisa tampak serupa secara statistik, tetapi sangat berbeda dalam dampaknya terhadap kualitas hidup, kesempatan berkembang, dan keadilan sosial. Maka, tugas kita bukan sekadar merayakan tingginya skor flourishing, tapi juga menggali apa yang menopang skor itu, selain memastikan bahwa akar-akar tersebut berasal dari kekuatan sejati, bukan semata-mata dari kemampuan bertahan di tengah sistem yang belum berpihak.