Pencarian populer

Otot Komplain vs Otot Syukur

Memasuki tahun 2019, saya mendapatkan pemahaman baru soal otot. Kali ini saya tidak akan ngomongin otot yang digunakan untuk memperbaiki bentuk tubuh. Itu sudah so yesterday.

2018 lalu boleh dibilang saya memang lebih berfokus ke pengembangan fisik (ikut gym, basket, keto diet). Hasilnya pun bisa dilihat di instagram saya.

Loading Instagram...

2019 ini saya bakal lebih berfokus ke kesehatan pikiran. Sebenarnya ini bukan hal baru bagi saya.

Ceritanya di penghujung 2018 lalu, alam semesta mempertemukan saya dengan mas Adji Santosoputro yang mengenalkan saya pada konsep mindfulness.

Saya dan mas Adjie ini sebenarnya sama-sama orang Jogja. Namun kita baru ketemu di kelas kumparan yang membicarakan masalah kesehatan pikiran. Mas Adjie kala itu sempat memberi saya sebuah buku yang cukup apik berjudul "Merawat Bahagia"

Loading Instagram...

Soal apa itu konsep mindfulness mungkin tidak akan saya bahas sekarang. Sepertinya terlalu berat jika di awal tahun sudah membicarakan konsep ilmu seperti ini.

Nah, sebagai gantinya saya akan mempersimpel pemahaman mindfulness dengan memahami dua otot dalam diri kita dulu. Namanya otot syukur dan otot komplain.

  • Otot syukur - Adalah otot yang bekerja ketika kita senantiasa bersyukur. Mulai dari hal-hal sederhana saja. Semisal ketika bangun tidur kita masih bisa bernafas lega.

  • Otot komplain - Adalah otot yang bekerja saat kita ngotot mengkomplain sesuatu. Entah dalam lingkungan pekerjaan, sosial, rumah, dan kehidupan pribadi kita.

Jika boleh jujur kira-kira berapa banding berapa rasio kedua otot itu bekerja tiap hari pada diri kita?

Sejujurnya saya agak malu menulis ini. Saya yang baru belajar di universitas kehidupan ini masih memiliki rasio 70:30 untuk otot komplain. Artinya dalam satu hari 70 persen waktu saya gunakan untuk komplain.

Agaknya ini yang bakal saya perbaiki di 2019.

Jika berada di lingkungan startup biz salah satu challenge terbesarnya adalah berdamai dengan diri sendiri. Anda mungkin bisa lihat secara tampilan UI saya orangnya memang kalem. Tetapi sejatinya saya adalah seorang yang sangat pushy dan perfeksionis.

Jika ada sesuatu yang tidak beres saya akan terus nge-push pekerjaan atau orang tersebut. Secara tidak sadar ini akan membuat otot komplain saya produktif. Jika tidak dimaintain dengan baik dan benar ini tidak bagus bagi kesehatan pikiran kita. Bisa-bisa kita kena stroke.

Lantas bagaimana solusinya?

Dalam buku Merawat Bahagia yang ditulis mas Adjie, kita senantiasa diingatkan untuk selalu bersyukur pada hal-hal yang kecil. Kuncinya ada di pikiran kita sendiri.

Pikiran kita menjadi demikian lemah dan mudah mengembara sehingga kita menjadi tidak fokus dan lupa mensyukuri nikmat dan napas yang dihadirkan Tuhan.

Kita juga sering menyesali atas apa yang sudah terjadi dan khawatir akan apa yang akan terjadi di masa depan. Alhasil tiap hari kita terjebak pada fase "ketidakbahagiaan".

Setiap waktu kita terkungkung oleh pikiran yang sakit. Setiap waktu proses pengambilan keputusan kita terjerat denga ketidakwarasan jiwa.

2019 ini yang jelas saya ingin menata kembali alam pikiran yang stres dan lari ke sana-ke mari. Saatnya menuju hidup yang lebih sehat, waras, serta bahagia. Merawat bahagia adalah buku yang mengajak kita untuk lebih memahami hal-hal esensial yang sering kita lupakan.

Loading Instagram...
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: