Konten dari Pengguna

Titi Kala Mangsa

Fajar Widi

Fajar Widiverified-green

Ex Tech Journalist to Martech, Startup to Enterprise. Stock Market Enthusiast. Was viral at 2017, 1st man that use bitcoin as marriage dowry.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Widi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepenggal lirik dari Sudjiwo Tedjo pagi ini menyadarkan saya arti pentingnya dampak distrupsi teknologi.

Titi Kala Mangsa
zoom-in-whitePerbesar

Wong takon, Wong sing tur kang angkoro

Antarane riko aku iki, Sumebar ron ronane koro

Janji sabar, Sabar sak wetoro wektu

Kala mangsane

Titi kolo mongso

Pamudjiku ti biso Sinutra korban jiwanggo

Pamungkase kang tur angkoro

Titi kolo mongso

Sepenggal lirik dari Sudjiwo Tedjo di atas kembali menyayat hati saya ketika mendengar kabar bahwa salah satu media cetak yang cukup legendaris dari kota kelahiran saya besok tidak terbit lagi :(.

embed from external kumparan

Ya, Berita Nasional (BERNAS) membawa satu memori indah tersendiri dengan kehidupan saya waktu kecil di Jogja. BERNAS lah koran tempat saya belajar mengeja waktu SD. BERNAS lah koran yang membuat bara api jurnalisme menyala dalam dada saat kuliah. Bukan media sekelas TEMPO, bukan pula koran lokal Kedaulatan Rakyat, atau bahkan detik.com

Mungkin sudah seringkali dibahas perihal masalah 'senjakala media cetak ini". Mungkin saya sudah bosan dengan berbagai hipotesa dan teori mengenai distrupsi tersebut dan dampaknya bagi bisnis.

Sebuah diskusi dengan rekan-rekan jaman kuliah cukup menggetarkan lubuk sanubari saya dalam bekerja pada sebuah instansi yang menjawab distrupsi teknologi. Terlebih saat kita diposisi sebagai pemain baru yang bakal menggusur habitus lama dalam sebuah literasi media.

"Media cetak mempunyai andil besar dalam mengawal kearifan lokal dan kewarasan publik melalui interaksi2 sosial yang dibangun oleh tukang2 loper koran..., kios2 bensin eceran & koran ato majalah.., bakul2 koran eceran menjajakan di persimpangan jalan... koran2 dinding yang dulu banyak dijumpai di setiap Kelurahan ato RW.. yang mau tidak mau ada interaksi sosial, ada ruang diskusi, ada ruang konfirmasi disitu, yang secara sadar atau tidak, Literasi Media lahir dari rahim interaksi masyarakat yang dimediasi oleh kehadiran media cetak itu sendiri.."

Tapi jaman sudah berubah. Perusahaan jasa transportasi tergerus perusahaan aplikasi. Pasar tradisional dan mall tergerus e-commerce. Pundi-pundi bisnis kapitalis untuk keuntungan pribadi tergerus economic sharing. Perusahaan remitance tergerus blockchain. Media cetak tergerus Online. Ya mungkin inilah yang saya sebut 'Titi Kala Mangsa'.

Lugasnya industri media cetak sangat boleh terkonversi menjadi online dengan segala turunannya. Itu fakta pasar dan logika bisnis yang harus dijalani demi kelangsungan hidup.

"Namun janganlah lupa, bahwa yang ditinggalkan itu sejatinya adalah kebutuhan untuk mengawal literasi pembacamu," ujar rekan saya tersebut menambahkan.

Alam semesta seraya menyadarkan saya di titik ini. Mungkin iniah arti dari Omni-Presence. Kenapa bisa pas sekali ketika saya berusaha menjawab tantangan sebuah bisnis konten dengan level user generated content secara large scale?

Ya itulah PR bersama yang harus dipecahkan.

Titi Kala Mangsa (Pada Suatu Ketika) ini mempunyai arti tersendiri tentang manusia yang harus berusaha membuat peradaban lebih baik di tengah rusaknya kondisi peradaban itu sendiri.

Mungkin inilah jaman baru dimana digital menjadi sebuah dimensi tersendri yang bakal menjawab tuntutan jaman. Kita hanya bisa menjalankannya. Jauh di dalam hati saya pun bernyanyi Titi Kala Mangsa. Coba dirasakan lagu berikut ini. Semoga Anda merasakan apa yang saya rasakan.

embed from external kumparan