Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral: Toleransi Beragama di Indonesia

Fajar Al Fathan
Mahasiswa Aktif Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
9 Juli 2023 15:37 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fajar Al Fathan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi toleransi (sumber: https://pixabay.com/illustrations/handshake-cooperate-connect-unity-2009195/)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi toleransi (sumber: https://pixabay.com/illustrations/handshake-cooperate-connect-unity-2009195/)
ADVERTISEMENT
Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, etnis, agama, dan bahasa yang kaya raya. Dengan hal tersebut memerlukan peningkatan jiwa untuk menciptakan dan memelihara suasana kebebasan beragama dan kerukunan umat beragama, yang demikian tersebut amat penting dilakukan agar terwujud masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, damai, bersatu dan tenteram (Abror Mhd., 2020). Untuk mengelola situasi keagamaan di Indonesia yang sangat beragam seperti digambarkan di atas, pemahaman keagamaan masyarakat sangat mempengaruhi terwujudnya sikap toleransi antar umat beragama, agama yang mendorong terciptanya kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan, yakni dengan meningkatkan jiwa toleransi beragama di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Untuk meningkatkan jiwa toleransi beragama maka perlu adanya sikap toleransi antar umat beragama. Toleransi dalam beragama berarti saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Seperti pentingnya bagi masyarakat untuk memiliki sikap lapang dada dan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang menganut agama lain selain agama Islam untuk beribadah sesuai dengan keyakinan agama mereka. Dengan adanya toleransi maka akan dapat melestarikan persatuan dan kesatuan bangsa, mendukung dan mensukseskan pembangunan, serta menghilangkan kesenjangan. Hubungan antar umat beragama didasarkan pada prinsip persaudaraan yang baik, bekerjasama untuk menghadapi musuh dan membela golongan yang menderita (Nisvilyah, 2013).
Toleransi beragama melibatkan pengakuan bahwa pemeluk agama mengakui keberadaan agama-agama lain dengan segala sistem dan ritual ibadahnya, serta memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk menjalankan keyakinan agama yang mereka anut. Allah yang diyakini umat Islam, tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya Islam melarang untuk mencela sesembahan dalam agama manapun (Abu Bakar, 2015).
ADVERTISEMENT
Toleransi dapat dilihat dari berbagai contoh keberagaman dalam beragama yaitu dengan berdirinya dua tempat beribadah yang berbeda yaitu Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral dengan letaknya yang berseberangan di pusat Jakarta. Masjid Istiqlal selesai dibangun pada tahun 1961 dan diresmikan pada 11 Februari 1978. Sementara, Gereja Katedral sudah dibangun sejak 1892 dan diresmikan pada 21 April 1901.
Dari kedua tempat ibadah tersebut menjadi simbol dari toleransi serta keadaan hidup yang berdampingan secara damai antar umat beragama di Indonesia. Yang dimana setiap ada kegiatan baik itu di Masjid Istiqlal maupun di Gereja Katolik Katedral memiliki hubungan baik. Adapun beberapa fakta yang menjadikan Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral memiliki hubungan baik sepertseperti pemanfaatan lahan parkir untuk umat katolik yang akan beribadah di Gereja Katedral diperbolehkan untuk menggunakan lahan parkir di Masjid Istiqlal, tepatnya di area basement dengan kapasitas lebih dari 500 kendaraan. Dan begitu juga dengan umat muslim melakukan ibadah hari raya, Gereja Katedral juga memberikan lahan parkirnya bagi umat muslim yang ingin beribadah di Masjid Istiqlal. Kedua tempat ibadah ini memiliki terowongan penyeberangan persahabatan bawah tanah yang menghubungkan masjid dan gereja itu dengan berjalan kaki. Terowongan itu menggambarkan kerukunan umat beragama karena tidak terkesan hanya sebagai lorong bawah tanah saja, tapi ada pesan-pesan yang bisa disampaikan kepada publik, sebagai simbol keragaman di Indonesia. Lalu kedua tempat ibadah ini sering menjadi tuan rumah perayaan keagamaan yang dihadiri oleh para pemimpin agama dari berbagai denominasi. Dan di saat-saat hari penting seperti Idul Fitri dan Natal, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral saling membuka pintu untuk saling berbagi kegembiraan dalam semangat persaudaraan.
ADVERTISEMENT
Sehingga sangat jelas, nilai-nilai toleransi dan kerukunan di kedua tempat ibadah ini sangat tinggi dan menjadi cerminan modernisasi dan role model yang sangat baik tentang menjaga kerukunan dan kedamaian. Selain dari cerminan modernisasi, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral juga menjadi cerminan dari kebhinekaan di Jakarta. Begitu banyak perbedaan agama, suku, bahasa hingga adat istiadat. Keberadaan kedua tempat ibadah ini mengajarkan kita tentang pentingnya saling menghormati dan hidup berdampingan meskipun berbeda keyakinan. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral adalah contoh yang inspiratif tentang bagaimana bangunan suci dapat menjadi jembatan persatuan dan menguatkan nilai-nilai kehidupan beragama yang damai di tengah masyarakat multikultural.
Daftar Pustaka:
Abror Mhd. (2020). Moderasi Beragama dalam Bingkai Toleransi ( Kajian Islam dan Keberagaman ). Rusydiah, 1(1), 137–148. https://doi.org/https://doi.org/10.35961/rsd.v1vi2i.174
ADVERTISEMENT
Abu Bakar. (2015). KONSEP TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA. UIN Syarif Kasim Riau, 7(2), 123–131. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24014/trs.v7i2.1426
Nisvilyah, L. (2013). Toleransi antarumat beragama dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa (studi kasus umat islam dan kristen Dusun Segaran Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto) Kabupaten Mojokerto). Kajian Moral Dan Kewarganegaraan, 2(1), 383. https://doi.org/https://doi.org/10.26740/kmkn.v2n1.p382-396