Konten dari Pengguna

Meikarta Bagai Surga Dunia

Fajarudin Shodiq

Fajarudin Shodiq

Tuhan Berkati Semua

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajarudin Shodiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meikarta Bagai Surga Dunia
zoom-in-whitePerbesar

Tak ada yang lebih melelahkan dan membosankan selain tinggal atau beraktivitas di Jakarta. Jalanan macet, udara pengap penuh polusi miskin oksigen, kriminalitas mengancam belum lagi banjir tahunan. Jakarta kota metropolitan megah penuh bangunan beton indah menjulang tinggi, jalanan dihiasi mobil-mobil mewah lalu kenapa berkesan tidak nyaman, tidak aman dan tidak ramah lingkungan?

Manusia berjubel di Jakarta bagai musafir berkelana di padang pasir, panas, haus rasa kemanusiaan dan lapar toleransi. Jakarta hanya menyisakan jiwa kering kerontang setelah bekerja bersimbah peluh.

Seperti Laron, Orang-Orang Berbondong Menuju Kota Raksasa Meikarta Menteri PUPR Tegur Pengembang Meikarta? Panggung Sandiwara Meikarta

Meikarta kota impian yang masih dalam mimpi hadir disamping Jakarta, menawarkan mimpi oase indah di tengah kepenatan dan kepengapan kota Jakarta. Disebut sebagai kota mandiri. Meikarta akan dilengkapi berbagai bangunan infrastruktur dengan teknologi canggih seperti hotel, apartemen, bandara international, jalan tol, light rapid transportation, shopping mall, fast train menuju bandung dll. Meikarta didesain bagai surga dunia karena semua kemudahan kenyamanan dan keindahan yang diidamkan manusia Jakarta hadir di surga Meikarta. Sebuah antonim yang sempurna dari bumi Jakarta yang sumpek seperti neraka.

Meikarta, lupa satu hal bahwa manusia itu bukan hanya makhluk materi tapi juga berjiwa. Semua infrastruktur canggih Meikarta bisa saja memanjakan manusia dari segi materi, namun belum tentu mampu mengisi jiwa manusia yang kosong hampa dari sentuhan kemanusiaan.

Apa yang Bisa Diharapkan Dari Meikarta?

Di Meikarta semua mungkin tampak indah dan lancar. Keinginan dan kebutuhan ego manusia bakal dilayani secara mekanis dan digital. Interaksi antarmanusia semakin minimalis. Semua tampak sibuk, tapi tak saling kenal. Komunikasi keluarga cukup via HP.

Tanpa interaksi batin, sesama anggota keluarga saling terasing. Oase Meikarta makin lama mengering seperti Jakarta. Lalu apakah akan terus dibangun Meikarta-Meikarta lain?

Kota seperti Meikarta bukanlah obat penyembuh bagi Jakarta. Begitupun kota-kota metropolitan lain yang tengah sakit parah bukan fisik, melainkan rohaninya. Manusia metropolitan semestinya diterapi batinnya untuk belajar mengenali kembali sisi kemanusiannya. Sisi kemanusiaan yang tergerus budaya materialisme. Yang hanya mengutamakan hasil dengan menggunakan segala macam cara. Simak Selengkapnya DF/Sumber