Konten dari Pengguna

Mengapa Negara Muslim 'Tidak' Membantu Palestina?

Mhd Alfahjri Sukri
Merupakan Dosen Politik Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar - Founder Ranah Institute - Tim Centre for Global Studies (CGS) Rumah Produktif Indonesia (RPI)
3 November 2023 12:36 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mhd Alfahjri Sukri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Warga Palestina mencari korban usai serangan Israel di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Rabu (1/11/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina mencari korban usai serangan Israel di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Rabu (1/11/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Melalui TV Turki, pesan tersebut disampaikan oleh salah seorang warga Palestina. Masyarakat yang saat ini digempur habis-habisan oleh Israel sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 hingga sekarang. Sebuah pernyataan sebagai bentuk kekecewaan pada negara-negara Muslim.
Pesan dari warga Palestina itu tersebar luas di media sosial. Menimbulkan berbagai komentar netizen, termasuk dari Indonesia. Dari pantauan penulis melalui Instagram, salah satu pertanyaan besar yang muncul dari netizen Indonesia adalah mengapa negara muslim tidak membantu Palestina? Mengapa negara Muslim tidak menyerang Israel?
Pertanyaan yang wajar untuk dipertanyakan, karena jumlah penganut umat Islam yang banyak. World Population Review menyebutkan, terdapat 1,91 miliar jiwa penganut Islam pada 2023. Agama terbesar kedua setelah Kristen. Di prediksi oleh Pew Research Center penganut Islam pada 2050 akan melampui Kristen.
ADVERTISEMENT
Adapun, jumlah negara-negara dengan mayoritas penganut Islam, menurut Ahmad T Kuru (2020) dalam bukunya “Islam, Otoritarisme, dan Ketertinggalan”, berjumlah 49 negara. Rata-rata negara mayoritas Muslim tersebut berada di kawasan Timur Tengah, tempat konflik Israel-Palestina berlangsung.
Dari jumlah negara muslim yang banyak, tidak satu pun negara muslim yang mengirimkan bantuan militer pada Palestina. Mengapa hal tersebut terjadi? Dan mengapa negara muslim tidak akan melawan Israel atau mengirim bantuan militer pada Palestina? Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan melalui kacamata politik global.

Konteks Politik Global

Dalam buku “Politik Global” Andrew Heywood memaparkan, perkembangan globalisasi menyebabkan batas-batas negara semakin pudar serta hubungan antar negara saling berkaitan dan membutuhkan. Hubungan negara-negara saat ini seperti jaring laba-laba, di mana mengarah pada dominasi oleh negara-negara “kuat” terhadap negara yang “lemah”.
Sumber: Modifikasi oleh penulis dari pandangan Andrew Heywood dalam bukunya yang berjudul "Politik Global".
Keterkaitan dan ketergantungan antar negara itu dapat kita lihat pada perubahan sikap negara-negara Muslim terhadap Israel, terutama negara-negara yang berada di kawasan Timur Tengah. Sebelum tahun 2020, beberapa negara seperti Turki, Yordania, Mesir dan lainnya sudah mengakui Israel serta menjalin hubungan diplomatik.
ADVERTISEMENT
Setelah 2020, terdapat negara yang berubah sikap dengan mengakui dan membangun hubungan dengan Israel melalui perantara Amerika Serikat lewat Persetujuan Abraham. Negara tersebut seperti Maroko, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Sudan. Melalui Persetujuan Abraham, AS mencoba menjembatani hubungan antar negara Muslim dengan Israel, termasuk dengan menargetkan Arab Saudi.
Dari 49 negara-negara Muslim, masih terdapat 25 negara muslim (sekitar 51 persen) yang tidak mengakui Israel. Jumlah negara muslim yang mengakui Israel terus meningkat seiring dengan lobi-lobi yang dimainkan Amerika Serikat.
Data dari World Integrated trade Solution (WITS) menunjukkan, terdapat beberapa negara yang memiliki hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan Israel, negara tersebut seperti Turki, Uni Emirat Arab, Mesir, Azerbaijan, Yordania, dan negara lainnya.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, sebagian besar negara-negara Muslim memiliki hubungan diplomatik dan kerja sama berbagai bidang dengan Amerika Serikat yang notabenenya adalah pendukung garis keras Israel.
Perubahan sikap dari negara-negara Muslim tersebut, tentunya berkaitan dengan kepentingan nasional masing-masing negara, khususnya bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hans Morgenthau, bahwa sikap negara-negara dalam area internasional berlandaskan kepada pencapaian serta mempertahankan kepentingan nasional masing-masing negara.
Itu juga tampak dari sikap negara Arab Saudi dengan Israel. Elie Podeh dalam tulisannya berjudul “Saudi Arabia and Israel: From Secret to Public Engagement, 1948–2018” menyebutkan, Arab Saudi dan Israel telah lama menjalin hubungan rahasia melalui pihak ketiga yaitu Amerika Serikat. Salah satu faktornya adalah Israel dan Arab Saudi memiliki musuh yang sama yaitu Iran. Namun, saat ini normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi sudah terjalin dengan bantuan China.
ADVERTISEMENT
Gambaran di atas menunjukkan bagaimana negara-negara Muslim hanya berfokus pada kepentingan negara masing-masing. Ini juga tidak lepas dari catatan sejarah, di mana negara Muslim pernah mengalami kekalahan perang dengan Israel. Beberapa perperangan telah terjadi mulai dari Perang Arab-Israel pada 1948, Perang Enam Hari pada 1967, dan Perang Yom Kippur pada 1973. Negara-negara muslim yang terlibat dalam perang dengan Israel tersebut yaitu Yordania, Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi dan lainnya.

Kondisi Negara Muslim Saat Ini

Warga Palestina mencari korban usai serangan Israel di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Rabu (1/11/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS
Negara muslim tidak dapat melakukan apa-apa ketika Israel membantai warga Palestina. Ini disebabkan oleh kondisi negara-negara muslim saat ini yang menghadapi kemiskinan, ketertinggalan ekonomi, dan terjebak dalam berbagai konflik.
Global Finance yang mengolah data dari International Monetary Fund menyebutkan, pada April 2023 dari 20 besar negara miskin di dunia, terdapat delapan negara muslim di dalamnya yaitu Somalia, Niger, Chad, Yaman, Sieera Leone, Eritrea, Mali, dan Burkina Faso. Data dilihat dari GDP (Gross Domestic Product) dan PPP (Purchasing Power Parity). Sedangkan negara muslim yang masuk dalam 20 besar negara kaya di dunia hanya ada tiga negara yaitu Qatar, Uni Emirat Arab, dan Brunei Darussalam.
ADVERTISEMENT
Berkaitan dengan konflik dan instabilitas politik, data dari Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED) yang meneliti dari Juli 2022 hingga Juli 2023 menunjukkan, empat dari 10 negara yang mengalami konflik ekstrem berasal dari negara-negara muslim yaitu Suriah, Nigeria, Yaman, dan Irak. Dan terdapat delapan negara muslim dari 20 negara yang terlibat konflik yang tinggi yaitu Palestina, Afghanistan. Burkina faso, Mali, Sudan, Pakistan, Somalia, Bangladesh, dan Niger.
Di sisi lain, negara-negara muslim dilanda dengan serangan teroris. Global Terrorim Index menyebutkan, kawasan yang sangat terdampak atas serangan teroris adalah kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang menyebabkan lebih 51 ribu jiwa meninggal dengan lebih dari 20 ribu serangan teroris.
ADVERTISEMENT
Dunia Islam juga dihadapkan pada konflik internal yang tidak berkesudahan di beberapa negara seperti Libya, Suriah, dan Yaman, serta perang dingin antar sesama negara muslim. Organisasi Islam internasional seperti Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)/OIC juga mengalami mati suri dan tidak punya kekuatan di dunia internasional.
Kondisi saat ini diperparah dengan ketergantungan negara-negara Muslim terhadap negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat sebagai bekingan terkuat Israel. Negara-negara Muslim juga seperti dikepung oleh tentara Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Timur Tengah.
Hingga tahun 2020, pangkalan militer AS berada di beberapa negara seperti di Suriah (800 tentara), Irak (6.000), Yordania (3.000), Kuwait (13.000), Qatar (13.000), Bahrain (7.000), Arab Saudi (3.000), Uni Emirat Arab (5.000), dan Oman. Ini setidaknya menunjukkan mengapa mayoritas negara-negara Muslim di Timur Tengah tidak ingin terlibat konflik langsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
ADVERTISEMENT

Apa yang harus kita lakukan?

Tulisan ini ingin melihat secara realistis, bukan bermaksud pesimis. Tidak mudah bagi negara-negara Muslim untuk bersikap. Mengharapkan negara-negara Muslim mengirimkan bantuan militer ke Palestina adalah hal sulit terjadi.
Terlalu besar risiko yang akan dihadapi oleh negara-negara muslim, dan tentunya akan berdampak pada instabilitas politik dan ekonomi negara-negara mereka. Salah langkah, dapat memporak-porandakan negara mereka. Yang bisa dilakukan negara muslim adalah menggunakan cara diplomatik yang juga tidak didengar oleh AS dan Israel saat ini. Terlalu berharap pada negara-negara muslim hanya akan menghasilkan kekecewaan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Sebagai umat islam, menurut penulis terdapat tiga langkah yang bisa kita lakukan.
Pertama, melakukan protes mengecam tindakan Israel, baik secara langsung maupun bersuara melalui media sosial. Setidaknya, itu akan membuka mata dunia tentang kekejaman Israel. Tindakan ini telah berlangsung di berbagai negara.
ADVERTISEMENT
Kedua, ikut membantu melalui donasi kepada lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya. Kondisi saat ini, warga Palestina sangat membutuhkan uluran tangan dari sahabat muslim lainnya. Ketiga, boikot produk-produk Israel. Salah satu langkah paling jitu untuk mematikan ekonomi Israel di negara-negara Muslim.
Itu adalah beberapa tindakan yang dapat kita lakukan sebagai sesama manusia dalam membantu masyarakat Palestina. Konflik yang terjadi saat ini bukanlah konflik agama, tetapi genosida atas warga Palestina. Semoga Allah berikan kesabaran dan pertolongan bagi saudara kita di sana [].