Menyikapi Kasus Aksi Cepat Tanggap

Merupakan Dosen Politik Islam IAIN Batusangkar - Founder Ranah Institute - Tim Centre for Global Studies (CGS) Rumah Produktif Indonesia (RPI)
Konten dari Pengguna
5 Juli 2022 15:51
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Mhd Alfahjri Sukri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”
Peribahasa tersebut cocok untuk menggambarkan kondisi carut marut yang melanda Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Akibat ulah segelintir orang yang ingin hidup mewah, rusak semua kebaikan yang sudah dilakukan.
ADVERTISEMENT
ACT menjadi trending topic setelah terbitnya majalah Tempo edisi 4-10 Juli 2022 yang berjudul “Kantong Bocor Dana Umat”. Melalui majalah tersebut, tim Tempo melaporkan berbagai dugaan penyelewengan dana sumbangan umat serta hidup mewah para pimpinannya. Praktis, kasus ini membuat heboh seluruh Indonesia.
Tulisan ini tak akan membahas soal isi detail laporan Tempo tersebut. Bagi yang penasaran silakan dibaca sendiri. Namun, tulisan ini hendak melihat ragam respons dari netizen Indonesia, serta bagaimana kita seharusnya menyikapinya.
Sumber foto: Pixabay/LoboStudioHamburg. https://pixabay.com/photos/phone-display-apps-applications-292994/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Pixabay/LoboStudioHamburg. https://pixabay.com/photos/phone-display-apps-applications-292994/
Setelah trending di twitter dengan tagar #JanganPercayaACT dan #Aksi Cepat Tanggap, penulis berupaya membaca laporan Tempo tersebut. Dalam laporan itu, Tempo sudah berupaya untuk menyajikan data, baik dari lapangan maupun dari wawancara langsung sejumlah orang, termasuk petinggi dan mantan petinggi ACT.
ADVERTISEMENT
Kemudian, penulis melihat berbagai media sosial di Twitter, Instagram dan Facebook untuk memantau bagaimana respons netizen Indonesia. Secara umum terdapat tiga respons. Pertama, kelompok yang kecewa dengan kejadian tersebut dan ada yang melampiaskan kemarahannya melalui kolom komentar. Kedua, kelompok yang mencoba untuk tetap mendukung ACT. Ketiga, buzzer yang terus menyudutkan ACT dan mengaitkannya dengan isu politik.
Ada yang menyebutkan, bahwa yang nyinyir adalah kelompok yang tidak berdonasi ke ACT atau yang suka dengan perpecahan Islam. Namun, ia lupa buat jalan-jalan ke kolom komentar dan media sosial. Di sana kita akan menemukan kekesalan dari orang-orang yang pernah berdonasi ke salah satu lembaga kemanusiaan besar di Indonesia ini.
Tagar #JanganPercayaACT sempat trending. Foto: https://twitter.com/search?q=%23JanganPercayaACT
zoom-in-whitePerbesar
Tagar #JanganPercayaACT sempat trending. Foto: https://twitter.com/search?q=%23JanganPercayaACT
Bisa juga dilihat, apakah akun tersebut buzzer atau akun asli (bukan anonim). Sayangnya, kolom komentar di akun-akun ACT maupun yang berafiliasi dengan lembaga tersebut saat ini ditutup atau dibatasi. Kita juga dapat melihat cerita-cerita orang yang pernah bersentuhan dengan ACT di media sosial, baik cerita yang negatif maupun positifnya.
ADVERTISEMENT
Respons ACT
ACT sendiri sudah mengeluarkan pernyataan resmi di hari yang sama. Bagi sebagian yang sudah membaca press releasenya mungkin akan kebingungan karena kurang menjawab persoalan yang ada dan kurang memuasakan. Namun, saya melihat pernyataan tersebut adalah langkah dan keyakinan ACT untuk berubah.
Di samping itu, ACT juga tak menampik adanya permasalahan dahulu yang berdampak pada ACT saat ini. Dalam konferensinya, Ibnu Khajar selaku pimpinan ACT lebih menekankan pada upaya perbaikan dalam diri ACT yang sudah dilakukan sejak awal tahun 2022.
"Sejak 11 Januari 2022 tercipta kesadaran kolektif untuk memperbaiki kondisi lembaga. Dengan masukan dari seluruh cabang, kami melakukan evaluasi secara mendasar,” ujar Ibnu Khajar.
Apa yang saya lihat adalah saat ini ACT berupaya untuk bangkit kembali. Berjuang untuk mengembalikan “TRUST” masyarakat atas lembaga yang saat ini berada dalam ujian terberat.
Dan memang tak mudah untuk mengembalikan “kepercayaan” tersebut. Di tambah, ini adalah lembaga yang menggunakan label Islam. Pastinya, banyak yang kecewa serta juga berdampak ke lembaga Islam lainnya. Tentunya juga menjadi makanan buzzer.
ADVERTISEMENT
Tapi perlu kita apresiasi upaya yang saat ini dilakukan ACT. Kita dapat melihatnya dari upaya Ibnu Khajar selaku pimpinan. Ia melakukan upaya restrukturisasi, melakukan penghematan, mengubah sistem kepemimpinan yang dulunya one man show ke arah yang lebih demokratis, menghilangkan fasilitas mewah serta hanya menyewa kendaraan bagi pimpinannya, dan adanya Dewan Syariah yang melakukan pengawasan.
Pelajaran bagi Semua
Kekuasaan bisa mengubah seseorang. Kekuasaan yang berlebih dapat membuat orang bersikap otoriter dan melakukan sesuatu di luar kewenangan. Kemewahan dapat menghilangkan akal sehat seseorang.
Begitulah salah satu gambaran masalah yang menimpa ACT. Gaji pimpinan dulu yang fantastis, serta sifat one man show dapat kita lihat pada laporan majalah Tempo tersebut. Dapat dilihat dari argumen pemimpin dan mantan pemimpinnya. Ibaratnya ini adalah permasalahan lama, yang kemudian baru meledak saat ini. Kepolisian sudah bergerak mengusut kasus tersebut.
Ambil pelajaran dari setiap masalah. Sumber: https://pixabay.com/illustrations/lightbulb-bulb-light-idea-energy-1875247/
zoom-in-whitePerbesar
Ambil pelajaran dari setiap masalah. Sumber: https://pixabay.com/illustrations/lightbulb-bulb-light-idea-energy-1875247/
Apa pelajaran yang dapat diambil?, kasus ini adalah warning bagi lembaga Islam lainnya. Luruskan kembali niat sesuai tujuan mulia lembaga. Perbaiki sistem organisasi. Jangan lagi menekankan pada penyelewengan “samina wa athona”, di mana pimpinan tak dapat dikritik. Tingkatkan nalar kritis agar lembaga selamat dari kasus-kasus serupa.
ADVERTISEMENT
Masalah tersebut juga menampakkan sisi manusia yang punya banyak kelemahan dengan kekuasaan. Manusia, apakah dia pemimpin, ustaz, pendeta, cendikiawan dan lainnya, bukan orang yang maksum. Allah jadikan ini sebagai pelajaran bagi kita semua.
Menyikapinya
Saya pribadi lebih menyikapi ini dengan menjadikan pembelajaran berharga, terutama bagi lembaga Islam lainnya. Dibandingkan terus-terusan menyangkal atau bersifat “denial”, mari kita mencoba berpikiran terbuka.
Memang ada yang berpandangan seperti “ini adalah serangan atas umat Islam” atau “ini memecah umat Islam”. Tapi, bagaimanapun kasus ini berangkat dari masalah yang dilakukan oleh internal masa lalu ACT itu sendiri.
Dibandingkan menyalahkan orang lain, lebih baik jadi evaluasi bagi umat Islam semua. Karena memang ketika kesalahan terjadi dan tak dapat menerima kenyataan, tindakan yang paling mudah adalah melempar kesalahan.
Pembangunan u;ang perlu dilakukan untuk mengembalikan citra baik lembaga. Foto: Pixabay/jarmoluk. https://pixabay.com/photos/building-professional-employee-2762319/
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan u;ang perlu dilakukan untuk mengembalikan citra baik lembaga. Foto: Pixabay/jarmoluk. https://pixabay.com/photos/building-professional-employee-2762319/
InsyaAllah saya mendukung upaya pembenahan yang dilakukan oleh pimpinan ACT saat ini. Mudah-mudahan itu dapat mengubah wajah lembaga kemanusiaan yang sudah memberikan dampak banyak bagi Indonesia dan masyarakat dunia. Jangan sampai kesalahan segelintir orang membuat kita menutup mata atas kinerja baik kawan-kawan di lapangan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyudutkan ACT. Namun, berupaya untuk mengambil sisi pembelajaran bagi kita semua dan sikap untuk ke depannya. Semoga Allah berikan kemudahan bagi ACT yang sedang menyambut era baru []
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020