Buzz
·
22 Juli 2021 12:57
·
waktu baca 4 menit

Pertarungan Tanpa Suara

Konten ini diproduksi oleh Fakhri Adzhar
Pertarungan Tanpa Suara (93156)
searchPerbesar
foto: Pixabay

#Cerpen

Ini bukan tentang manusia. Bukan pula kritik menohok. Ini kisah dua ekor kucing jantan. Memperebutkan wilayah, saling terkam, lalu diam.
ADVERTISEMENT
Strategi disusun kala musuh mulai masuk wilayah. Pagar dari teriplek berkerangka besi jadi titik nadir pertempuran. Saling intai, tatapan tajam namun dingin, dalam gelap dan sunyinya malam.
Mereka sempat berpapasan, hanya sekadar menerjemahkan keadaan. “Apa dia sudah keterlaluan?” pikir salah satu di antaranya.
Hanya lewat, mengeong, lalu tengkurap di depan pintu masuk utama. Yang satu berlagak kelelahan dan tidur di bawah meja.
Erangan-erangan palsu mulai dilancarkan keduanya. Meminta makan, padahal hanya memancing lawan. Selain wilayah, mereka juga bersaing meraih perhatian majikan.
Sang majikan hanya asyik dengan kopi di tangannya. Menyeruput sedikit demi sedikit, sembari menelisik gerakan dua peliharannya itu. Ia tahu genderang perang akan dimulai. Ia hanya ingin mengompori.
Melihat sang musuh yang mengerang di depan pintu masuk tak ditanggapi, giliran yang satu ganti mencari perhatian. Majikan yang mengawasi makin mengompori. Ia hampiri, mengelus-elus, lalu biarkan erangan manja itu keluar.
ADVERTISEMENT
Sang musuh panas. Ia menghampiri, dalam diam, lalu melintas. Menelan telak-telak rasa sakit hati melihat si lawan dimanja majikan yang notabene majikannya juga. Tapi tak ada yang tahu, dirinya siap dengan segala situasi yang menyergap.
Melihat sang musuh lewat tanpa kata, kucing di kolong meja tadi merasa berhasil. Gerakannya mulai awas lagi. Ia ikuti lawannya itu perlahan dari belakang. Langkah kakinya lebih ringan dari kapas.
Sang lawan berhenti sejenak. Kemampuan pendengarannya lumayan bagus meski usianya hampir 2 tahun lebih tua dari lawannya. Refleks, si lawan ikut berhenti. Hanya memandang sang musuh yang sudah berjarak kurang dari semeter darinya.
Si lawan yang lebih tua tetap waspada, tapi ia memilih melanjutkan langkah. Musuhnya yang di belakang kembali mengikuti. Belum, ia belum berencana menerkam. Menyerang sesaat setelah mengintai bukan pilihan. Gerakan seperti itu mudah dibaca.
ADVERTISEMENT
Langkah anggun namun tegas terus berderap. Kini ia mulai merasa akan keluar dari ancaman. Di saat itulah, si lawan yang lebih muda, mendapat momennya. Hap! Kedua ruas gigi, atas dan bawah, mendarat tepat di leher belakang lawan.
Tak ada balas auman. Tak ada erangan keras berusaha meminta pertolongan. Pertempuran itu layaknya persaingan jabatan. Dalam keheningan ia menusuk. Bahkan lukanya lebih dalam dari sayatan apa pun.
Sang lawan yang menyergap, dengan segera mengambil kendali pertempuran. Beberapa kali ia bisa menyertai serangan dengan cakaran dari kaki belakang. Namun, si lawan yang lebih punya pengalaman, juga tak kalah cerdas.
Satu gerakan memutar berhasil membalikkan keadaan. Meski kalah tenaga, ia mampu menggigit ke daerah yang lebih rawan: telinga. Beruntung, gigitannya tak terlalu keras. Sang lawan bisa lepas.
ADVERTISEMENT
Bulu-bulu rontok beterbangan. Sebetulnya ini bukan karena sengitnya pertempuran, melainkan bulu yang tak pernah dirawat oleh majikannya sehingga dibiarkan rontok di tubuh kucingnya sendiri.
Kedua petarung masih berusaha menyengsarakan lawan. Kali ini yang lebih muda menyerang moncong lawannya. Gerakan cepat tak mampu dihindari musuhnya itu. Tapi memang dasar anak muda, kurang pengalaman. Gigitannya cuma sampai gigi lawan. Mereka hanya saling berpagut, dengan sedikit rasa sakit.
Sang majikan yang puas melihat sengitnya pertandingan, memutuskan memisahkan keduanya dengan pengki yang terjuntai di halaman. Tak perlu usaha besar, keduanya menurut kala pengki mendarat tepat di antara tubuh mereka. Entah mungkin ini perjanjian yang mereka buat. Jika majikan melerai, kita selesai.
Pertandingan yang menguras tenaga dan, bisa jadi, pikiran para petarung. Pertandingan pun di akhiri dengan adu kepala. Pengki yang menjadi wasit sampai harus memisahkan kedua batok yang saling sundul itu.
ADVERTISEMENT
“Benar-benar pertarungan pejantan,” pikir sang majikan. Tak perlu pusing ia mencari kotak P3K. Tak perlu pula menyediakan minum untuk keduanya. Tak ada darah dan mimik lelah. Keduanya berpisah, usai “wasit” menyatakan selesai.
Kedua tubuh hewan itu ia periksa, barangkali ada gigi yang copot lalu menyangkut. Nyatanya tidak. Hanya bulu-bulu rontok yang semakin rontok. Pertarungan dalam diam. Nyaris tidak ada auman berarti pertanda saling unjuk kekuatan.
Nyatanya, kadang kala diam merupakan senjata ampuh mematikan lawan, atau paling tidak memenangkan pertarungan. Tapi, diamnya para petarung dalam pertarungan, mencapai level tertinggi ketika mereka mampu menyihir penontonnya.