Guru Terbaikmu Mungkin Bukan di Sekolah: Learning Web dan Cara Memandang Belajar

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, prodi Pendidikan Sosiologi, angkatan 2024
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Fakhri Bima Priyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar yang Tak Pernah Tercatat
Bayangkan Raka, siswa kelas 11 di sebuah kota kecil (tokoh rekaan yang mewakili banyak remaja hari ini). Nilai seni budayanya di rapor biasa saja. Namun di luar jam sekolah, ia belajar menyunting video dari kanal tutorial, bertukar kritik dengan anggota komunitas daring, dan sesekali dibimbing seorang editor profesional yang ia temui lewat grup diskusi. Setahun kemudian, ia mulai menerima pesanan edit video berbayar.
Lalu di mana semua pelajaran itu tercatat dalam rapor Raka? Jawabannya: tidak di mana pun. Bagi sistem pendidikan kita, ilmu yang tidak lahir di dalam kelas seolah tidak pernah terjadi.
Gugatan Illich terhadap Monopoli Sekolah
Lebih dari lima dekade lalu, pada 1971, Ivan Illich menerbitkan Deschooling Society. Ia melihat bahwa sekolah telah menjadi lembaga utama yang menentukan bagaimana seseorang belajar dan dianggap berhasil. Belajar disamakan dengan bersekolah, kecakapan disamakan dengan jenjang, dan keberhasilan disamakan dengan ijazah. Masyarakat pun semakin bergantung pada sekolah, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dipelajari di luarnya.
Perlu dicatat, deschooling tidak berarti menghapus kegiatan belajar. Yang Illich gugat adalah ketergantungan pada sistem sekolah, bukan belajarnya itu sendiri.
Ketika Ijazah Menjadi Satu-Satunya Bahasa
Salah satu akibat paling nyata dari monopoli sekolah adalah ijazah menjadi satu-satunya “bahasa” yang dipahami dunia kerja dan masyarakat. Lowongan menuntut jenjang pendidikan tertentu sebelum bertanya apa yang sebenarnya bisa dikerjakan pelamarnya. Orang bergelar dianggap lebih mampu, sementara orang yang mahir tanpa gelar harus membuktikan dirinya berkali-kali.
Di sinilah ketergantungan yang Illich maksud bekerja. Kita tidak lagi memandang sekolah sebagai salah satu tempat belajar, melainkan satu-satunya yang sah. Akibatnya, orang yang belajar di luar sekolah sering merasa pengetahuannya “tidak resmi”, dan orang yang lulus sekolah merasa sudah cukup belajar. Dua-duanya sama-sama keliru, karena belajar tidak berhenti di gerbang sekolah dan tidak selalu dimulai di sana.
Masalahnya bukan pada ijazahnya, tetapi pada posisinya yang menjadi ukuran tunggal. Ketika satu dokumen dipakai untuk menilai kecakapan yang begitu beragam, banyak kemampuan nyata terlewat dari penglihatan sistem.
Empat Simpul Learning Web
Illich tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan learning web, yaitu jaringan yang memungkinkan seseorang belajar sesuai kebutuhan dan minatnya lewat hubungan dengan orang lain dan berbagai sumber pengetahuan. Ada empat simpulnya:
Pertukaran keterampilan: orang yang bisa sesuatu bertemu dengan orang yang ingin mempelajarinya.
Mempertemukan teman belajar: orang dengan minat serupa saling menemukan untuk berdiskusi dan belajar bersama.
Akses terhadap sumber belajar: buku, alat, tempat, dan bahan belajar tersedia bagi siapa saja yang membutuhkan.
Educational counselor: pembimbing yang membantu orang menemukan simpul-simpul tadi.
Modelnya terbalik dari kelas konvensional. Bukan guru mengajar lalu siswa menerima, melainkan individu mencari kebutuhan belajarnya, menemukan sumbernya, lalu berinteraksi untuk mendapatkan ilmu yang ia perlukan. Hari ini, internet membuat visi itu terasa akrab: komunitas coding, kanal tutorial, perpustakaan digital, dan kelompok belajar daring adalah wujud-wujud learning web yang sudah kita jalani tanpa memberinya nama.
Satu Simpul, Satu Contoh
Agar tidak berhenti di teori, mari kita lihat bagaimana keempat simpul itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh berikut sebagai gambaran dan bukan potret satu kasus tertentu.
Pertama, pertukaran keterampilan. Seorang penjahit di kampung ingin memahami pembukuan sederhana agar usahanya tidak rugi tanpa ia sadari. Di sebelahnya tinggal seorang mahasiswa akuntansi yang ingin belajar menjahit untuk membuat busana sendiri. Mereka bertukar ilmu tanpa biaya, tanpa kelas, dan tanpa ijazah.
Kedua, mempertemukan teman belajar. Sekelompok remaja di kota berbeda sama-sama tertarik belajar pemrograman gim. Lewat forum daring mereka saling menemukan, membuat jadwal belajar bersama, dan saling mengoreksi kode. Tidak ada guru, tetapi ada kewajiban moral untuk saling menunggu dan saling membantu.
Ketiga, akses terhadap sumber belajar. Perpustakaan desa, kebun percontohan, bengkel komunitas, atau laboratorium sekolah yang dibuka sore hari adalah sumber belajar. Kuncinya adalah siapa pun boleh memakainya, bukan hanya mereka yang terdaftar sebagai murid.
Keempat, educational counselor. Penyuluh pertanian, guru, pustakawan, atau kakak tingkat yang membantu seseorang menjawab pertanyaan pertama yang paling sulit: “Aku harus mulai dari mana?” Peran inilah yang sering menentukan apakah jaringan benar-benar membantu atau justru membingungkan.
Kacamata Sosiologi Kurikulum: Pengetahuan Siapa yang Diakui?
Di titik inilah sosiologi kurikulum membantu. Michael Apple mengingatkan bahwa kurikulum memuat pengetahuan resmi, yaitu pengetahuan yang dianggap sah untuk diajarkan. Kurikulum bukan cermin seluruh ilmu yang ada, melainkan hasil pemilihan. Maka pengetahuan yang tidak terpilih, seperti animasi dari komunitas, memasak dari tetangga, atau bertani dari orang tua, mudah dicap sebagai hobi atau kegiatan sampingan.
Pierre Bourdieu menambahkan lapisan lain. Ijazah adalah mekanisme yang mengubah kemampuan menjadi pengakuan resmi. Orang yang belajar lewat jalur di luar sekolah mungkin menguasai keterampilannya, tetapi tidak mendapat “konversi” itu. Karena itulah kemahiran Raka tidak terbaca oleh sistem, sekalipun nyata di dunia kerja.
Arah kurikulum belakangan ini, seperti pembelajaran berbasis proyek dan kontekstual, memang mulai membuka ruang. Namun gerbang utamanya tetap sama: asesmen dan ijazah.
Apa yang Hilang Jika Sekolah Diabaikan?
Agar adil, kita juga perlu bertanya apa yang bisa hilang jika jaringan belajar menggantikan sekolah sepenuhnya. Di sini Émile Durkheim memberi pengingat penting. Baginya, sekolah bukan hanya tempat menyerap pengetahuan, tetapi ruang tempat anak-anak dari latar belakang berbeda dipertemukan dan belajar hidup bersama.
Di kelas, seorang anak kaya dan anak sederhana duduk di bangku yang sama. Mereka dipaksa berbagi ruang, bergantian bicara, dan menghadapi perbedaan pendapat. Learning web yang berjalan menurut minat pribadi justru berpotensi mengurung orang dalam gelembung yang sama: kita bertemu dengan mereka yang sudah sejalan dengan kita, dan belajar apa yang memang sudah kita sukai.
Sosiologi kurikulum juga menyebut adanya kurikulum tersembunyi, yaitu pelajaran tak tertulis yang diserap anak lewat kehidupan sekolah, seperti disiplin waktu, antre, bekerja sama, dan menghormati aturan bersama. Sebagian dari pelajaran itu bermasalah karena melatih kepatuhan buta. Tetapi sebagian lain berguna bagi kehidupan bermasyarakat, dan belum tentu ada di jaringan belajar yang serba mandiri.
Karena itu, pilihannya bukan sekolah atau jaringan. Pertanyaan yang lebih jujur adalah bagaimana menjaga fungsi sosial sekolah sambil membebaskannya dari monopoli atas makna belajar.
Jaringan untuk Siapa?
Sampai di sini learning web terdengar indah. Tetapi sebuah opini yang jujur perlu mengujinya, termasuk dari sisi yang Illich sendiri kritik pada sekolah: ketimpangan.
Hambatan paling kasatmata adalah kuota, gawai, dan sinyal. Hambatan yang lebih halus adalah modal budaya. Berselancar di jaringan belajar menuntut kemampuan menentukan apa yang perlu dicari, keberanian bertanya kepada orang asing, dan kemampuan memilah informasi yang bermutu. Anak dari keluarga terdidik biasanya sudah dilatih untuk itu sejak kecil. Anak yang tidak punya pendamping di rumah atau lingkungan sekitar bisa tersesat di tengah banjir informasi.
Belum lagi persoalan siapa yang mengelola jaringannya. Banyak ruang belajar daring hari ini dijalankan platform komersial yang menata apa yang kita lihat berdasarkan perhatian dan iklan, bukan kebutuhan belajar. Tanpa pemerataan akses dan literasi, learning web berisiko menjadi bentuk baru dari reproduksi ketimpangan: yang sudah punya modal makin cepat melaju, yang belum punya makin tertinggal.
Guru sebagai Penghubung
Jadi, apakah sekolah perlu ditinggalkan? Menurut saya tidak. Yang perlu bergeser adalah perannya, dan terutama peran gurunya. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pendamping, yaitu sosok educational counselor dalam bahasa Illich. Beberapa langkah konkretnya:
Guru sebagai penghubung. Membantu siswa menemukan mentor, komunitas, dan sumber belajar yang bermutu, sekaligus melatih cara menilai informasi.
Sekolah yang mengakui belajar di luar kelas. Portofolio, proyek, dan sertifikasi komunitas dihargai sebagai bukti belajar, bukan hanya nilai ujian.
Sekolah sebagai simpul jaringan. Perpustakaan, laboratorium, dan koneksi internet sekolah dibuka sebagai fasilitas belajar bersama, terutama bagi siswa yang tidak punya akses di rumah.
Peran negara. Menjamin akses perangkat dan internet agar jaringan belajar tidak hanya dinikmati kelompok yang sudah mampu.
Tiga Pertanyaan untuk Pembuat Kebijakan
Gagasan sebesar ini tidak cukup dijawab oleh guru atau siswa saja. Ada tiga pertanyaan yang layak diajukan kepada pembuat kebijakan pendidikan:
Siapa yang mengakui? Jika belajar di luar kelas ingin dihargai, harus ada mekanisme resmi yang membaca portofolio, proyek, dan sertifikasi komunitas, bukan hanya nilai ujian.
Siapa yang menjamin akses? Perangkat, sinyal, dan ruang belajar publik perlu dianggap sebagai kebutuhan dasar, agar jaringan tidak hanya dinikmati mereka yang sudah mampu.
Siapa yang menjaga mutu? Kebebasan belajar tanpa penyaring bisa menyesatkan. Perlu pendamping yang membantu siswa memilah sumber, bukan sekadar menyediakan lebih banyak informasi.
Tiga pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan apakah learning web menjadi jalan keluar atau hanya jargon baru dalam kebijakan pendidikan.
Illich mungkin terlalu radikal bagi sebagian orang, dan jawabannya memang perlu diuji. Tetapi pertanyaannya tetap tajam: mengapa kita hanya mengakui belajar yang berlabel sekolah? Ketika Raka mahir menyunting video dari komunitas, ia tidak kekurangan kemampuan. Ia hanya belajar di tempat yang belum diberi tempat oleh sistem.
Guru terbaikmu mungkin bukan di sekolah. Tugas sekolah adalah membantumu menemukannya, lalu mengakuinya.
