Konten dari Pengguna

Pendidikan: Tangga Mobilitas Sosial atau Pengokoh Ketimpangan?

Fakhri Bima Priyanto

Fakhri Bima Priyanto

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, prodi Pendidikan Sosiologi, angkatan 2024

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fakhri Bima Priyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber : Gambar dibuat oleh Gemini AI, "anak yang menjalani mobilitas sosial.")
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber : Gambar dibuat oleh Gemini AI, "anak yang menjalani mobilitas sosial.")

Sejak dahulu, pendidikan dianggap sebagai "tangga" utama untuk mencapai mobilitas sosial vertikal pergerakan ke atas dalam lapisan ekonomi dan status sosial. Namun, dalam keadaan Indonesia saat ini, timbul pertanyaan penting: Apakah pendidikan tetap menjadi sarana bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu untuk meraih keberhasilan, atau malah telah bertransformasi menjadi lembaga yang memperkuat ketidaksetaraan yang sudah ada dari generasi ke generasi?

Pendidikan sebagai Alat untuk Meningkatkan Mobilitas Sosial: Cerita-Cerita yang Penuh Harapan

Tidak bisa disangkal, pendidikan tetap memiliki daya untuk mengubah. Cara kerjanya dilakukan melalui:

Pemberian Kesempatan yang Sama dalam Pendidikan dan Keterampilan: Sekolah dan universitas menawarkan pengetahuan serta keterampilan teknis (seperti teknik, akuntansi, pemrograman) dan keterampilan interpersonal (seperti kepemimpinan dan komunikasi) yang dapat dipelajari oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang keluarga mereka.

· Sertifikasi dan Legitimasi: Ijazah dan gelar akademik berperan sebagai "izin" untuk memasuki bidang pekerjaan yang lebih prestisius dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi. Seorang anak yang berasal dari keluarga petani dan telah memperoleh gelar sarjana teknik, memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional dibandingkan dengan orang tuanya. Namun pada saat ini terkadang ijazah atau gelar ini merupakan batas "minimal" orang mendapat suatu pekerjaan, faktor lain yang dapat menentukan orang dalam bekerja bukan hanya soal ijazah namun juga karakter, pengalaman, dan juga Networking yang luas.

· Pengembangan Jaringan (Network): Lingkungan pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi, mengumpulkan individu dari beragam latar belakang. Interaksi ini menciptakan jaringan sosial yang penting untuk menemukan kesempatan kerja dan berbisnis. Personal branding sangat diperlukan pada masa sekarang dimana ini merupakan salah satu ciri ciri orang yang memiliki jaringan yang banyak dan juga sangat berguna baginya untuk menemukan kesempatan kerja ataupun bisnis.

Contoh Nyata: Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang menyediakan bantuan dana pendidikan untuk siswa dari keluarga yang kurang mampu, telah membantu dalam mengurangi jumlah siswa yang putus sekolah. Data dari Kementerian Pendidikan tahun 2022 menunjukkan bahwa angka partisipasi murni (APM) untuk tingkat SMA telah meningkat menjadi 79,98%. Banyak cerita tentang penerima KIP yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengubah kehidupan keluarganya.

2. Perbedaan yang Semakin Besar: Saat Pendidikan Justru Memperburuk Ketidaksetaraan

Di balik cerita keberhasilan tersebut, terdapat kenyataan pahit bahwa pendidikan juga bisa berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat ketidaksetaraan sosial. Ini berlangsung dengan berbagai cara:

· Ketidakmerataan Kualitas Sejak Awal: Anak yang lahir dalam keluarga yang mampu memiliki akses terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas, buku-buku bacaan yang cukup, nutrisi yang baik, dan bimbingan belajar tambahan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu seringkali memulai sekolah dasar dengan tingkat kesiapan yang lebih rendah. Data dari BPS (2022) menunjukkan bahwa tingkat partisipasi sekolah untuk kelompok 20% penduduk yang termiskin masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok 20% yang paling kaya, khususnya di tingkat perguruan tinggi.

· Komersialisasi Pendidikan: Biaya untuk pendidikan tinggi yang terus meningkat, khususnya di universitas swasta yang terkenal, menjadi sebuah hambatan yang signifikan. Banyak keluarga yang berasal dari kelas menengah ke bawah merasa tertekan oleh Biaya Operasional Pendidikan (BOP) yang sangat tinggi, yang membuat mereka terpaksa mengajukan pinjaman atau bahkan memilih untuk menghentikan pendidikan mereka.

“Kurikum Tersembunyi” dan Modal Sosial-Budaya: Sekolah tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Terdapat yang disebut "kurikulum tidak resmi" yang mencakup nilai-nilai, cara berkomunikasi, perilaku, dan preferensi—yang sering kali sejalan dengan budaya kelas menengah ke atas. Anak-anak dari keluarga ini cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dan dinilai lebih "cerdas" oleh para guru, sedangkan anak-anak dari kelas pekerja mungkin merasa tidak nyaman dan terpinggirkan. Selain itu, orang tua dari kelompok tertentu dapat mewariskan "modal sosial" berupa jaringan yang dapat membantu anak mereka mendapatkan magang atau pekerjaan pertama.

Contoh nyata: Dua siswa dari sekolah menengah atas negeri yang memiliki nilai ujian nasional yang setara. Siswa A yang berasal dari keluarga dokter dapat mengikuti program bimbingan belajar intensif untuk masuk ke perguruan tinggi negeri pilihan, sedangkan Siswa B harus membantu orang tuanya berjualan di pasar. Siswa A diterima di Fakultas Kedokteran, sedangkan Siswa B memutuskan untuk mengambil program di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang lebih ekonomis atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Perbedaan kesempatan ini sudah muncul jauh sebelum hari ujian.

3. Mencari Penyelesaian: Mengembalikan Pendidikan sebagai Sarana Mobilitas Sosial

Agar pendidikan tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai penghubung dan penggerak mobilitas sosial, diperlukan sejumlah langkah penting:

1. Memperkuat Pendidikan Dasar yang Berkualitas dan Merata:

Fokus pada peningkatan kualitas pengajar serta sarana dan prasarana pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program seperti Guru Penggerak dalam Kurikulum Merdeka perlu dipercepat dan diimplementasikan secara merata.

2. Beasiswa yang Tepat dan Berkelanjutan:

Program beasiswa tidak hanya mencakup biaya pendaftaran, tetapi juga mencakup biaya hidup selama menjalani pendidikan. Sistem beasiswa dengan ikatan dinas, yang mengharuskan lulusan bekerja di wilayah tertentu setelah menyelesaikan studi, dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil sekaligus memberikan kesempatan. Beasiswa membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin bersungguh sungguh menempuh pendidikan sebuah kesempatan yang tidak semua orang dapat dan perlu adanya perjuangan untuk mendapatkannya, beasiswa merupakan wadah untuk menampung orang orang yang kurang mampu yang ingin menempuh pendidikan yang pada saat ini biayanya tidak dapat disebut murah.

3. Penetapan Akses yang Setara ke Pendidikan Vokasi dan Keterampilan:

Tidak seluruh mobilitas sosial perlu dilakukan melalui jalur akademis. Pendidikan vokasi (seperti SMK dan politeknik) yang terhubung dengan industri dapat menjadi cara yang efisien untuk memperoleh pekerjaan yang berkualitas. Program "SMK Pusat Keunggulan" harus tetap didorong dan diperkuat. Hal ini justru untuk mengembangkan keterampilan dari peserta didik untuk memiliki potensi yang dapat dikembangkan bukan hanya lewat sektor akademik.

4. Memperkuat Kebijakan Afirmatif yang Adil:

Kebijakan seperti kuota untuk pelajar dari keluarga tidak mampu di perguruan tinggi negeri perlu diperkuat dan diawasi pelaksanaannya untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar mengenai mereka yang membutuhkan.

Kesimpulan:

Pendidikan di Indonesia kini berada pada titik kritis. Di satu sisi, ia tetap dapat menghasilkan kisah-kisah yang menginspirasi mengenai pergerakan sosial. Sebaliknya, tekanan dari komersialisasi dan perbedaan kualitas berpotensi mengubahnya dari "tangga" menjadi "tembok" yang sulit untuk dilalui.

Masa depan pendidikan sebagai pendorong mobilitas sosial sangat tergantung pada kesungguhan negara dalam memastikan keadilan akses dan mutu. Tanpa adanya intervensi yang kuat dan terencana, pendidikan berpotensi besar hanya akan menjadi hak istimewa bagi mereka yang telah memiliki sumber daya, dan bukan menjadi hak dasar bagi setiap anak bangsa untuk mencapai masa depan yang lebih baik.