Seberapa Penting Filsafat Dalam Psikologi?

Mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Fakhri Ihsan Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana pikiran dan perilaku manusia bekerja, Namun, sebelum membahas psikologi dari sudut pandang filsafat, penting untuk memahami terlebih dahulu asal usul kata “psikologi”.
Secara etimologis, istilah psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu:
“Psyche” (ψυχή) yang berarti jiwa
“Logos” (λόγος) yang berarti ilmu atau kajian
Dengan demikian secara harfiah psikologi berarti “ilmu tentang jiwa”. Namun, dalam era dewasa ini istilah “jiwa” dianggap terlalu Abstrak dan sulit diuji secara empiris. Oleh karena itu, definisi psikologi mengalami pergeseran makna. Menurut American Psychology Association (APA), psikologi saat ini didefinisikan sebagai “ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku.”
Perubahan definisi ini mencerminkan upaya psikologi untuk menjadi ilmu yang berbasis data objektif dan metode ilmiah, sekaligus menjauh dari pendekatan yang spekulatif atau metafisis. Perubahan makna ini tidak terjadi begitu saja, tetapi sangat berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat, seperti:
Ontologi: Apa itu kesadaran? Apakah pikiran itu nyata
Epistemologi: Bagaimana kita bisa mengetahui dan mempelajari pikiran atau kesadaran?
Aksiologi: Untuk apa pengetahuan psikologis digunakan? Apa nilai-nilai yang mendasarinya?
Dengan kata lain, untuk memahami secara utuh apa itu psikologi, kita tidak hanya perlu melihat pendekatan ilmiahnya, tetapi juga menelaahnya dari sudut pandang filsafat.
Psikologi Menurut Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang apa yang sebenarnya ada di dunia ini dan apa yang layak untuk dipelajari. Dalam konteks psikologi, ontologi menanyakan pertanyaan dasar seperti: Apa yang sebenarnya dipelajari oleh ilmu psikologi? Apakah psikologi hanya mempelajari perilaku yang bisa diamati secara langsung, atau juga mencakup pikiran, perasaan, dan proses batin yang tidak tampak? Apakah konsep seperti emosi, kesadaran, dan motivasi dianggap nyata dan relevan untuk dikaji secara ilmiah?
Dari sudut pandang ontologi, setiap aliran dalam psikologi memiliki jawaban yang berbeda atas pertanyaan-pertanyaan ini. Misalnya, aliran behaviorisme menekankan bahwa objek kajian psikologi harus terbatas pada perilaku yang bisa diamati secara langsung. Jika seseorang menangis, maka yang penting adalah tindakan menangis itu sendiri, karena dapat dilihat dan diukur. Sebaliknya, aliran psikoanalisis berpendapat bahwa perilaku seperti menangis tidak bisa dipahami tanpa menelaah proses batin di baliknya, seperti apakah tangisan itu muncul karena kesedihan, rasa bersalah, atau justru kebahagiaan.
Perbedaan cara pandang ini menunjukkan bahwa pemahaman ontologis sangat menentukan arah dan fokus kajian dalam psikologi. Dengan memahami aspek ontologis, kita dapat lebih kritis dalam mengevaluasi pendekatan-pendekatan dalam psikologi, sekaligus memahami bahwa kajian tentang manusia tidak hanya terbatas pada apa yang tampak di permukaan, tetapi juga mencakup kompleksitas batin dan pengalaman subjektif individu.
Lebih dari itu, ontologi juga berfungsi untuk membedakan pendekatan atau aliran-aliran dalam psikologi. Setiap aliran memiliki pandangan ontologis yang khas mengenai apa yang dianggap “nyata” dan layak dikaji. Aliran behaviorisme, misalnya, berpegang pada pandangan bahwa psikologi seharusnya hanya mempelajari perilaku yang bisa diukur secara objektif. Sebaliknya, aliran kognitif berfokus pada proses mental internal seperti berpikir, mengingat, dan memproses informasi, meskipun hal-hal tersebut tidak dapat diamati secara langsung. Sementara itu, pendekatan humanistik menempatkan pengalaman pribadi, perasaan, serta pencarian makna hidup sebagai inti dari kajian psikologis.
Perbedaan fokus ini menunjukkan bahwa ontologi bukan sekadar teori abstrak, tetapi menjadi dasar penting dalam menyusun metode, teori, dan praktik dalam psikologi. Dengan memahami kerangka ontologis dari setiap pendekatan, kita dapat menilai relevansi dan keterbatasan masing-masing dalam menjelaskan kompleksitas perilaku dan pengalaman manusia
Secara keseluruhan, ontologi memberikan dasar filosofis yang penting bagi perkembangan ilmu psikologi. Dengan memahami aspek ontologis, kita menjadi lebih sadar bahwa tidak semua pendekatan dalam psikologi melihat manusia dari sudut pandang yang sama. Ada aliran yang fokus pada perilaku lahiriah, ada pula yang menggali pengalaman batin yang mendalam. Oleh karena itu, kesadaran akan dasar ontologis ini membantu kita untuk lebih kritis dalam memilih, memahami, dan menerapkan teori serta praktik psikologi sesuai konteks yang tepat. Ontologi, dengan demikian, bukan hanya bersifat teoretis, tetapi juga memiliki dampak praktis dalam memahami manusia secara lebih utuh.
Psikologi Menurut Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang sumber, cara, dan batasan pengetahuan. Dalam konteks psikologi, epistemologi menjawab pertanyaan penting seperti: Bagaimana kita mengetahui sesuatu tentang manusia? Dari mana pengetahuan psikologi berasal? Metode apa yang sah untuk digunakan dalam memahami pikiran dan perilaku manusia?
Dalam ilmu psikologi, pendekatan epistemologis menentukan bagaimana penelitian dilakukan dan bagaimana kebenaran ditentukan. Misalnya, pendekatan positivistik yang biasanya digunakan oleh aliran behaviorisme, percaya bahwa pengetahuan yang sah hanya bisa diperoleh melalui pengamatan dan eksperimen yang objektif. Oleh karena itu, metode yang digunakan cenderung kuantitatif dan mengandalkan data yang dapat diukur.
Sebaliknya, pendekatan konstruktivistik seperti dalam aliran psikologi humanistik atau fenomenologi, percaya bahwa realitas dipengaruhi oleh pengalaman dan persepsi individu. Oleh karena itu, mereka lebih mengutamakan metode kualitatif, seperti wawancara mendalam dan studi kasus, untuk memahami pengalaman subjektif manusia.
Contoh sederhananya jika ingin mempelajari mengapa seseorang merasa cemas, pendekatan positivistik mungkin akan mengamati gejala fisik dan perilaku yang tampak, lalu mengukurnya dengan skala tertentu. Sementara pendekatan konstruktivistik akan lebih tertarik untuk mewawancarai orang tersebut, menelusuri perasaan, pengalaman masa lalu, dan makna pribadi di balik kecemasan itu.
Namun, di balik keberagaman pendekatan tersebut, psikologi memiliki batasan epistemologis yang perlu disadari. Salah satu batasan utamanya adalah keterbatasan dalam mengamati secara langsung hal-hal yang tidak tampak seperti pikiran, emosi, atau motivasi. Berbeda dengan perilaku fisik yang bisa dilihat dan diukur, proses mental bersifat abstrak sehingga hanya bisa diakses melalui interpretasi terhadap tindakan, perkataan, atau instrumen tidak langsung seperti kuesioner dan tes psikologi.
Selain itu, pengetahuan dalam psikologi sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, konteks sosial, serta sudut pandang peneliti. Hal ini membuat hasil penelitian tidak selalu bisa digeneralisasi ke semua kelompok masyarakat. Misalnya, konsep stres atau kebahagiaan bisa dipahami secara berbeda oleh masyarakat Barat dan Timur. Karena itu, pemahaman psikologis tidak bisa dipisahkan dari konteks tempat dan waktu di mana ia dikembangkan.
Batasan lain yang muncul adalah risiko reduksionisme, yaitu kecenderungan untuk menjelaskan perilaku manusia hanya dari satu sisi saja, seperti hanya berdasarkan aktivitas otak neurosains atau perilaku yang tampak behaviorisme. Pendekatan semacam ini bisa mengabaikan aspek-aspek penting lain dalam diri manusia, seperti nilai hidup, pengalaman batin, dan makna subjektif. Oleh karena itu, pemahaman yang terlalu sempit terhadap metode dan kebenaran dalam psikologi justru bisa menyesatkan.
Epistemologi penting karena membantu kita memahami batas kemampuan ilmu psikologi dalam menggambarkan kenyataan. Ia membentuk dasar bagaimana teori disusun, bagaimana data dikumpulkan, dan bagaimana interpretasi dibuat. Dengan memahami pendekatan epistemologis yang digunakan, kita bisa lebih kritis dalam mengevaluasi hasil penelitian dan menghindari klaim-klaim yang berlebihan.
Dengan memahami epistemologi beserta batasannya, kita diajak untuk lebih kritis dalam menerima dan menggunakan pengetahuan psikologi. Ilmu ini bukan hanya tentang angka, grafik, atau teori, tetapi juga tentang manusia yang kompleks, penuh makna, dan tidak bisa dipahami sepenuhnya hanya dari satu pendekatan saja. Kesadaran epistemologis membantu kita menjadi lebih bijak dalam menerapkan psikologi, baik dalam kehidupan pribadi, pendidikan, maupun praktik profesional.
Psikologi Menurut Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai, khususnya mengenai apa yang dianggap baik, benar, dan bermanfaat. Dalam konteks psikologi, aksiologi berperan penting dalam menjawab pertanyaan: Untuk apa psikologi dipelajari dan digunakan? serta Apakah penerapan ilmu psikologi membawa manfaat dan nilai moral bagi individu maupun masyarakat?
Psikologi sebagai ilmu tidak hanya fokus pada pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku serta proses mental manusia, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai-nilai etika dan kemanusiaan dalam penerapannya. Misalnya, dalam praktik psikologi klinis, seorang psikolog tidak hanya mendiagnosis atau menangani gangguan mental, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan klien, menjunjung hak asasi manusia, dan mengutamakan kesejahteraan klien. Ini menunjukkan bahwa aspek nilai aksiologi tidak bisa dipisahkan dari penerapan ilmu psikologi dalam kehidupan nyata.
Aksiologi juga penting dalam bidang lain seperti psikologi pendidikan, industri, sosial, dan bahkan penelitian. Dalam penelitian psikologi, misalnya, peneliti harus memperhatikan prinsip etis, seperti persetujuan partisipan, kejujuran dalam pelaporan data, dan menghindari eksploitasi. Begitu pula dalam psikologi industri, keputusan manajerial sebaiknya tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, tetapi juga memperhatikan keadilan, keseimbangan kerja-hidup, serta kesehatan mental karyawan.
Mengapa aksiologi penting dalam psikologi? Karena tanpa pertimbangan nilai, psikologi bisa kehilangan arah dan justru digunakan untuk tujuan yang merugikan manusia, seperti manipulasi dalam iklan, propaganda politik, atau pengendalian sosial yang tidak etis. Aksiologi membantu psikologi tetap berada dalam jalur yang humanis, yakni ilmu yang berpihak pada kemaslahatan manusia. Ia memberikan batasan moral tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam menerapkan pengetahuan psikologis.
Kesimpulannya, aksiologi memberikan kerangka nilai yang memastikan bahwa psikologi tidak hanya menjadi ilmu yang akurat, tetapi juga bermakna dan bertanggung jawab. Dengan memahami psikologi dari sudut pandang aksiologi, kita menyadari bahwa kebermanfaatan ilmu ini tidak hanya terletak pada seberapa banyak hal yang bisa dijelaskan, tetapi juga pada seberapa besar ilmu ini bisa digunakan untuk memperbaiki kehidupan manusia secara etis dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Filsafat memainkan peran penting dalam memperkaya pemahaman kita terhadap psikologi, bukan hanya sebagai ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku, tetapi juga sebagai disiplin yang memiliki dasar konseptual yang mendalam. Melalui sudut pandang ontologi, kita mengetahui bahwa setiap aliran dalam psikologi memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa yang dianggap nyata dan layak dikaji, mulai dari perilaku yang dapat diamati secara langsung hingga pengalaman batin yang bersifat subjektif. Sementara itu, melalui epistemologi, kita memahami bagaimana pengetahuan psikologis diperoleh serta menyadari adanya keterbatasan dalam metode ilmiah yang digunakan untuk menjelaskan kompleksitas manusia.
Sedangkan dari sisi aksiologi, kita diingatkan bahwa psikologi tidak hanya berurusan dengan pencarian pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral, nilai-nilai kemanusiaan, dan etika dalam penerapannya. Dengan menelaah psikologi dari ketiga sudut pandang filsafat ini ontologi, epistemologi, dan aksiologi, kita menjadi lebih sadar bahwa psikologi bukan sekadar ilmu teknis. Psikologi adalah ilmu yang harus dijalankan secara bijaksana dan manusiawi. Filsafat memberikan fondasi kritis agar psikologi tidak hanya menjawab pertanyaan tentang apa dan bagaimana manusia berpikir serta bertindak, tetapi juga mengapa dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.
