Analisis Teater "Lidah" dari Tafsir Tokoh Sawerigading dalam Epos I La Galigo

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari falahsifah3 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 28 September 2022, mahasiswa 3B PBSI mengadakan nonton pementasan teater bersama. Teater tersebut diadakan oleh Teater Patri Universitas Pamulang dengan judul Lidah. Pementasan ini berkaitan dengan isu politik yang ada di negara ini.
"Lidah" merupakan sebuah tafsir kisah tokoh Sawerigading dalam epos I La Galigo. Kisah ini menceritakan tentang saudara kembar yang bernama Sawerigading dan We Tenriabeng. Tokoh aku dalam kisah ini melihat ramalan bahwa suatu hari nanti Sawerigading dan We Tenriabeng akan jatuh hati dan menikah. Untuk menghindari ramalan tersebut Batara guru dan Batara lattuk memutuskan untuk memisahkan keduanya. Yang di mana Sawerigading hidup di luar istana dan We Tenriabeng hidup di dalam istana. Terdapat beberapa tokoh pada kisah ini. Tokoh pertama dalam kisah ini adalah aku. Dalam kisah ini aku digambarkan sebagai wanita yang dapat melihat masa depan. Tokoh aku menolak adanya pernikahan saudara sekandung antara Sawerigading dan We Tenriabeng. Sebab tindakan itu akan menyebabkan hancurnya negara tersebut. Tokoh kedua, adalah Batara guru. Batara guru merupakan raja sekaligus ayah dari Batara lattuk. Batara guru merupakan pemimpin yang bijaksana. Dia berusaha melakukan suatu tindakan agar ramalan buruk tidak akan terjadi pada negerinya. Dia memberi perintah untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenriabeng. Hal ini diperjelas dalam dialog Tak boleh banyak tinggal di satu negeri, jika bersama mereka akan saling mendamba, darah dan rahim yang sama tidak akan sanggup memagar rasa, cinta akan tumbuh tetapi bukan sebagai saudara. Tokoh ketiga, Batara lattuk. Batara lattuk merupakan ayah dari Sawerigading dan We Tenriabeng. Batara lattuk memandang masa depan dengan hati-hati. Hal ini diperjelas pada dialog Harus ada yang pergi, apakah kita punya pilihan selain menyembunyikan dengan cincin yang dilahirkan? biarlah yang satu berkelana, jangan dia hidup di istana membawa cincin, biarlah hidup seperti itu. Hidup dalam lingkar rahasia, tak boleh diperlihatkan, tak boleh dikenali, tak boleh tersingkap mata. Terutama dari saudara kandungnya sendiri. Kemudian tokoh selanjutnya, Sawerigading. Sawerigading memiliki sifat yang mudah tersinggung, emosional, dan mengamuk dengan membabi buta tanpa mempertimbangkan resikonya. Dia bahkan sampai menyalahi aturan demi untuk mendapatkan pujaan hatinya. Dan yang terakhir adalah We Tenriabeng. We Tenriabeng adalah saudara kandung dari Sawerigading. Dia merupakan gadis yang pendiam dan memiliki wajah yang cantik jelita. Terdapat beberapa tokoh lainnya dalam pementasan ini seperti, para pengawal dan dayang-dayang. Latar tempat dalam kisah ini adalah istana. Alur yang digunakan adalah alur maju dan mundur, karena tokoh aku menceritakan bagaimana dia dahulu mendapatkan ramalan yang akan terjadi pada masa depan terhadap Sawerigading dan We Tenriabeng. Sudut pandang yang diceritakan dalam kisah ini adalah sudut pandang orang ketiga yaitu aku, dia, dan nama tokoh. Kisah ini memberikan amanat bahwa kita tidak boleh emosional, tidak boleh melakukan suatu hal dengan sewenang-wenangnya hanya untuk memenuhi keinginan sendiri, karena akan berdampak buruk kepada lingkungan sekitar atau orang lain. Kisah ini merupakan tafsir dari tokoh Sawerigading dalam naskah I La Galigo, Luna Vidya. Baban Sopandi yang merupakan sutradara dalam pementasan ini, dia membangun sebuah narasi betapa berbahayanya lidah. Dia beranggapan bahwa lidah penguasa lebih berbahaya karena apa yang mereka ucapkan bisa menjadi perintah atau hukum. Setiap orang tentu memiliki pandangan masing-masing terhadap apresiasi sebuah sastra. Kelebihan dari teater ini adalah suasananya yang mendukung dan bahasa yang diucapkan tidak berbelit-belit. Pementasan ini cukup menghibur penonton teater. Dengan disampaikan oleh 2 orang narator memudahkan kita untuk memahami dari pementasan tersebut. Dan dengan nuansa yang semi-musikal cukup membuat terkejut dan mengundang tawa para penonton. Sedangkan kekurangannya adalah akhir ceritanya yang sedikit menggantung.
