Konten dari Pengguna

Dari Uang Saku yang Terbatas, Saya Belajar Mengelola Keuangan sebagai Mahasiswa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliha Hamidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menabung. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menabung. Foto: Shutterstock

Inflasi (Bank Indonesia) bukan lagi sekadar istilah ekonomi yang saya pelajari di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa perantau, saya benar-benar merasakan dampaknya terhadap uang saku yang diberikan orang tua.

Saat pertama kali merantau untuk kuliah, saya berpikir uang saku (OJK) akan selalu cukup. Tinggal di kos membuat saya bebas mencoba berbagai makanan baru dan menikmati pengalaman hidup di kota. Namun, kenyataannya berbeda. Pada bulan pertama, uang saku saya habis bahkan sebelum akhir bulan, sehingga saya mulai menyadari pentingnya mengelola keuangan.

Inflasi Terasa dalam Kehidupan Mahasiswa

Menurut Bank Indonesia, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 1 Juli 2026, inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen.

Sebagai anak dari keluarga pedagang, saya melihat dampak inflasi bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga dari kehidupan keluarga. Harga bahan baku terus meningkat, sementara harga jual tidak selalu dapat dinaikkan. Keadaan tersebut membuat saya semakin memahami bahwa setiap rupiah yang dikirim orang tua berasal dari kerja keras yang harus dihargai.

Belajar Mengelola Uang Saku dengan Anggaran

Pengalaman itu menjadi titik balik bagi saya. Saya mulai membuat anggaran mingguan, memisahkan biaya transportasi, memasak beberapa kali dalam seminggu, serta menyisihkan Rp50.000 sebagai tabungan wajib. Saya juga mulai mencatat seluruh pengeluaran agar mengetahui ke mana uang saya digunakan.

Dari kebiasaan tersebut saya menemukan adanya "kebocoran halus", yaitu pengeluaran kecil seperti membeli camilan atau minuman yang jika dilakukan terus-menerus ternyata menghabiskan banyak uang. Dengan mengubah pola pikir dari "uang masih ada" menjadi "anggaran masih tersedia", saya merasa lebih mampu mengendalikan kondisi keuangan.

Sejalan dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat mampu menyusun anggaran, mengelola pengeluaran, dan membangun kebiasaan menabung.

Pelajaran Berharga dari Inflasi

Saya menyadari bahwa saya tidak dapat mengendalikan inflasi maupun kondisi ekonomi. Namun, saya dapat mengendalikan cara menggunakan setiap rupiah yang dipercayakan orang tua. Bagi saya, mengelola uang bukan berarti membatasi diri, melainkan belajar menentukan prioritas.

Menjadi mahasiswa perantau mengajarkan saya bahwa kedewasaan finansial tidak dimulai dari besarnya penghasilan, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Itulah pelajaran paling berharga yang saya dapatkan selama menjalani kehidupan di perantauan.