Bencana Alam diIndonesia dalam Perspektif Islam: Ujian, Peringatan, atau Teguran

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai bencana alam. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, hingga erupsi gunung api menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi masyarakat. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa bencana masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Pada Juni 2025 saja, BNPB mencatat 182 kejadian bencana, terdiri dari 60 banjir, 41 cuaca ekstrem, 12 tanah longsor, 63 kebakaran hutan dan lahan, empat kekeringan, satu gelombang pasang dan abrasi, serta satu gempa bumi. Mayoritas kejadian tersebut merupakan bencana hidrometeorologi.
Sementara itu, aktivitas gempa bumi memang merupakan bagian dari kondisi geologis Indonesia. BMKG menyediakan pencatatan gempa secara real-time dan mencatat kejadian gempa di berbagai wilayah Indonesia hampir setiap waktu. Katalog BMKG juga mendokumentasikan gempa bumi merusak di Indonesia dalam rentang sejarah yang panjang.
Fakta tersebut kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam, terutama bagi umat Islam: bagaimana seharusnya bencana alam dipahami dalam perspektif Islam? Apakah bencana merupakan ujian, peringatan, atau teguran dari Allah?
Pertanyaan ini penting karena bencana sering kali langsung dikaitkan dengan dosa dan azab. Padahal, Islam memberikan pandangan yang lebih luas mengenai musibah.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa kehidupan manusia memang tidak terlepas dari ujian. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 155:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesulitan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bencana yang menimpa seseorang tidak otomatis menunjukkan bahwa orang tersebut sedang dihukum karena dosa-dosanya. Dalam Islam, musibah juga dapat menjadi ujian terhadap kesabaran dan keimanan seseorang.
Bahkan, respons manusia terhadap musibah menjadi bagian penting dari ujian tersebut. Ayat berikutnya, QS Al-Baqarah ayat 156, menggambarkan orang-orang yang ketika ditimpa musibah mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un”—sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Artinya, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk memahami musibah secara emosional, tetapi juga secara spiritual. Ada kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa kehidupan dunia bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Namun, apakah itu berarti bencana sama sekali tidak boleh menjadi teguran?
Tidak demikian.
Al-Qur'an juga mengajak manusia melakukan introspeksi terhadap berbagai kerusakan yang terjadi di bumi. Dalam QS Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi lingkungan saat ini. Manusia memiliki kemampuan besar untuk mengubah alam, tetapi kemampuan tersebut juga dapat menghasilkan kerusakan apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.
Hutan yang kehilangan fungsi ekologisnya, daerah resapan yang berubah menjadi kawasan terbangun, sungai yang dipenuhi sampah, serta pembangunan yang tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan dapat meningkatkan risiko bencana tertentu.
Namun, penting untuk membedakan antara penyebab alamiah suatu bencana dan faktor yang memperbesar dampaknya.
Gempa bumi, misalnya, merupakan fenomena geologi yang berkaitan dengan dinamika bumi. Tidak tepat jika setiap gempa langsung dikatakan terjadi karena dosa manusia. Akan tetapi, jumlah korban dan tingkat kerusakan akibat gempa dapat dipengaruhi oleh kualitas bangunan, tata ruang, kesiapsiagaan, serta kemampuan masyarakat dalam melakukan evakuasi.
Di sinilah perspektif agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama.
Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana bencana terjadi dan bagaimana risikonya dapat dikurangi. Agama memberikan landasan moral mengenai bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap alam, sesama manusia, dan berbagai ujian kehidupan.
Dengan demikian, keimanan kepada takdir tidak seharusnya membuat manusia pasrah tanpa usaha.
Justru, ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Mempelajari informasi kebencanaan, mengikuti peringatan BMKG, mengetahui jalur evakuasi, membangun rumah sesuai standar keselamatan, dan mempersiapkan kebutuhan darurat merupakan bentuk usaha yang sejalan dengan prinsip menjaga kehidupan.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia memang memiliki tingkat paparan terhadap berbagai bahaya alam yang tinggi. BNPB sendiri mengembangkan berbagai data dan peta risiko melalui sistem kebencanaan nasional, sementara BMKG terus melakukan pemantauan terhadap gempa dan fenomena geofisika lainnya.
Maka, ketika gempa terjadi, respons seorang Muslim seharusnya tidak berhenti pada ucapan bahwa “ini sudah takdir”. Takdir bukan alasan untuk mengabaikan ikhtiar. Sebaliknya, takdir seharusnya mendorong manusia untuk menyadari keterbatasannya sekaligus melakukan usaha terbaik yang mampu dilakukan.
Persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah kebiasaan sebagian masyarakat yang dengan cepat menyebut sebuah bencana sebagai azab.
Dalam sejarah Islam memang terdapat kisah kaum terdahulu yang mendapatkan hukuman Allah karena kekufuran dan pembangkangan mereka. Akan tetapi, tidak tepat jika setiap bencana yang terjadi pada masa sekarang langsung disamakan dengan azab tersebut.
Kita tidak mengetahui perkara gaib. Kita tidak mengetahui secara pasti apa maksud Allah terhadap suatu peristiwa tertentu.
Bahkan, orang saleh pun dapat mengalami musibah. Para nabi dan orang-orang yang dekat dengan Allah juga mengalami berbagai ujian berat dalam kehidupan mereka. Karena itu, terkena bencana bukan bukti otomatis bahwa seseorang lebih buruk di hadapan Allah dibandingkan orang yang selamat.
Sikap yang lebih tepat adalah menjadikan bencana sebagai momentum untuk melakukan muhasabah.
Jika bencana memperlihatkan adanya kerusakan lingkungan, manusia perlu memperbaiki cara memperlakukan alam. Jika bencana menunjukkan lemahnya sistem mitigasi, pemerintah dan masyarakat perlu memperbaikinya. Jika bencana memperlihatkan masih banyaknya masyarakat yang tidak memahami evakuasi, pendidikan kebencanaan perlu diperkuat.
Dan jika bencana mengingatkan manusia bahwa kehidupan dapat berakhir kapan saja, maka seorang Muslim dapat menjadikannya momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Dengan cara pandang seperti ini, bencana tidak hanya dilihat dari satu sisi.
Ia dapat menjadi ujian bagi orang yang mengalaminya, peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada, sekaligus teguran bagi manusia untuk mengevaluasi perilakunya. Tetapi menentukan bahwa suatu bencana tertentu pasti merupakan azab bagi kelompok tertentu adalah kesimpulan yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Al-Qur'an sendiri memberikan perspektif yang seimbang. Dalam QS Asy-Syura ayat 30 disebutkan:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Dia memaafkan banyak (kesalahanmu).”
Ayat tersebut dapat menjadi bahan introspeksi, tetapi tidak semestinya digunakan untuk menghakimi korban bencana. Dalam konteks kehidupan manusia, kita justru perlu melihat bagaimana sebuah musibah dapat mendorong perbaikan diri dan perbaikan sosial.
Pada akhirnya, persoalan bencana di Indonesia bukan hanya tentang bagaimana manusia memahami alam, tetapi juga bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.
Kita tidak dapat menghentikan gempa bumi. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh cuaca. Kita tidak dapat menghilangkan seluruh risiko bencana. Tetapi kita dapat meningkatkan kesiapsiagaan, menjaga lingkungan, memperbaiki tata ruang, membangun infrastruktur yang lebih aman, dan saling membantu ketika bencana terjadi.
Dari perspektif Islam, inilah titik pentingnya: iman tidak boleh dipisahkan dari ikhtiar.
Ketika bencana terjadi, kita bersabar tanpa berhenti berusaha. Kita berdoa tanpa meninggalkan ilmu pengetahuan. Kita melakukan muhasabah tanpa menghakimi korban. Dan kita menerima takdir tanpa menjadikannya alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.
Mungkin pertanyaan yang paling penting bukan sekadar, “Apakah bencana ini merupakan azab Allah?”
Melainkan:
“Apa yang Allah ingin kita pelajari dari peristiwa ini, dan apa yang harus kita perbaiki setelahnya?”
Sebab, jika bencana hanya membuat manusia takut sesaat tetapi tidak membuatnya lebih peduli terhadap sesama, lebih menjaga lingkungan, lebih siap menghadapi risiko, dan lebih dekat kepada Allah, maka pelajaran dari sebuah musibah belum benar-benar kita ambil.
Bencana memang mengguncang bumi. Tetapi semestinya, ia juga menggugah kesadaran manusia.
