Bukan Sekadar Bertahan Hidup: Pelajaran Berharga dari Survival Seorang Santri

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana rasanya hidup selama empat hari di kota orang tanpa membawa uang sepeser pun?
Pertanyaan itu mungkin terdengar seperti sebuah tantangan ekstrem. Namun, bagi sebagian santri, survival bukan sekadar menguji kemampuan bertahan hidup, melainkan menjadi latihan untuk membentuk mental, kemandirian, dan keyakinan bahwa rezeki akan datang melalui ikhtiar yang benar.
Selama empat hari di Kota Bandung, seorang santri memulai perjalanan tanpa bekal uang. Ia datang bukan untuk berwisata atau mencari belas kasihan, tetapi untuk belajar menghadapi kehidupan secara langsung. Bekal yang dibawa hanyalah pakaian secukupnya, semangat, serta prinsip bahwa setiap rupiah yang didapat harus berasal dari usaha yang halal.
Hari pertama menjadi ujian yang paling berat. Tidak ada uang untuk membeli makanan, tidak ada tempat menginap, dan tidak ada orang yang dikenal. Rasa bingung tentu muncul, tetapi perjalanan ini tidak boleh berhenti hanya karena keadaan terasa sulit.
Hal pertama yang dilakukan adalah mencari peluang. Ia mendatangi warung makan dan menawarkan diri untuk membantu mencuci piring sebagai imbalan makanan atau upah seadanya. Tidak semua pemilik warung menerima. Beberapa menolak dengan halus, sementara yang lain masih ragu karena belum mengenalnya.
Penolakan demi penolakan justru menjadi pelajaran bahwa mencari rezeki memang membutuhkan kesabaran. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ada pemilik warung yang memberikan kesempatan. Upah yang diterima memang tidak besar, tetapi cukup untuk membeli makanan dan melanjutkan perjalanan hari itu.
Keesokan harinya, tantangan kembali berubah. Ia mencoba membantu seorang pedagang menjual bawang di pinggir jalan. Dengan menawarkan dagangan kepada orang-orang yang lewat, ia belajar bahwa mencari pembeli bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan keberanian untuk menyapa orang asing, menghadapi penolakan, hingga tetap tersenyum meski berkali-kali diabaikan.
Di kesempatan lain, ia menjual tisu di beberapa titik keramaian. Tidak sedikit orang yang menolak, bahkan ada yang berjalan begitu saja tanpa menoleh. Namun, ada pula yang membeli bukan semata karena membutuhkan tisu, melainkan karena menghargai usaha yang dilakukan. Dari situ ia memahami bahwa bekerja keras jauh lebih bermartabat daripada berharap belas kasihan.
Perjalanan belum selesai. Ketika melihat sebuah taman yang dipenuhi daun kering dan sampah, ia menawarkan diri untuk membantu membersihkannya. Pekerjaan sederhana itu kembali memberinya penghasilan. Nominalnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu tanpa harus meminta kepada siapa pun.
Selama empat hari tersebut, masjid menjadi tempat beristirahat. Setelah seharian berkeliling mencari pekerjaan, masjid bukan hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga tempat melepas lelah dan mengisi kembali semangat. Di sana ia merasakan bahwa rumah Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang datang dengan niat baik.
Pengalaman bermalam di masjid memberikan pelajaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tidur beralaskan seadanya membuatnya menyadari bahwa kenyamanan yang selama ini dimiliki adalah nikmat yang sering kali terlupakan. Ketika bangun untuk salat Subuh bersama jamaah, muncul rasa syukur karena masih diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Survival ini tidak hanya mengajarkan cara mendapatkan uang. Yang jauh lebih berharga adalah bagaimana seseorang belajar menghargai setiap pekerjaan. Mencuci piring, menjual bawang, menawarkan tisu, atau membersihkan taman mungkin dianggap pekerjaan sederhana. Namun, di balik semua itu terdapat kejujuran, kerja keras, dan keberanian untuk tidak menyerah.
Perjalanan tersebut juga mengubah cara pandang terhadap rezeki. Selama ini banyak orang menganggap rezeki hanya berbentuk uang. Padahal, kesempatan bertemu orang baik, diberi kepercayaan untuk bekerja, mendapatkan makanan setelah seharian berusaha, hingga memiliki tempat aman untuk beristirahat juga merupakan bagian dari rezeki yang patut disyukuri.
Bagi seorang santri, survival bukanlah ajang menunjukkan siapa yang paling kuat. Tujuan utamanya adalah melatih diri agar tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan, tidak malu bekerja selama halal, serta percaya bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang mau berikhtiar.
Empat hari di Bandung akhirnya berakhir. Santri itu memang tidak pulang dengan harta yang melimpah. Namun, ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian menghadapi ketidakpastian, rasa syukur atas hal-hal kecil, serta keyakinan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur.
Di tengah kehidupan yang serba instan, pengalaman seperti ini menjadi pengingat bahwa kemandirian tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi tantangan. Berangkat tanpa bekal mungkin terdengar mustahil, tetapi pulang membawa pelajaran hidup adalah keberhasilan yang nilainya tidak dapat diukur dengan uang.
