Konten dari Pengguna

Bukan Tentang Siapa yang Paling Hebat, tetapi Siapa yang Tetap Bertahan Bersama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi buka bersama ketika ramadhan di warkop kelawai
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi buka bersama ketika ramadhan di warkop kelawai

Ketika pertama kali memasuki pesantren, setiap orang datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari kota besar, ada pula yang datang dari pelosok daerah. Ada yang sudah terbiasa hidup mandiri, ada yang baru pertama kali jauh dari keluarga. Bahkan, kemampuan memahami ilmu agama pun tidak sama. Namun, sejak hari pertama itu, semua perbedaan perlahan melebur dalam satu identitas: menjadi satu angkatan.

Di pesantren, kebersamaan bukan sekadar sering berkumpul atau menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan tumbuh dari rutinitas yang dijalani setiap hari. Bangun sebelum fajar, salat berjamaah, mengaji, belajar, hingga saling membantu ketika salah satu teman mengalami kesulitan. Aktivitas-aktivitas sederhana itu tanpa disadari membangun ikatan yang jauh lebih kuat daripada sekadar pertemanan biasa.

Sebagai mahasiswa, kehidupan di pesantren memiliki tantangan yang tidak ringan. Tugas kuliah menumpuk, jadwal perkuliahan yang padat, kegiatan organisasi, hingga kewajiban mengikuti program pembinaan di pesantren sering kali membuat waktu terasa begitu sempit. Dalam situasi seperti itu, keberadaan teman satu angkatan menjadi penopang yang tidak tergantikan.

Ada teman yang mengingatkan ketika kita terlambat bangun. Ada yang meminjamkan catatan kuliah saat kita berhalangan hadir. Ada yang menemani murojaah ketika semangat mulai menurun. Ada pula yang sekadar bertanya, "Kamu baik-baik saja?" ketika melihat wajah yang mulai lelah. Hal-hal kecil seperti inilah yang sering kali tidak tercatat, tetapi justru paling membekas dalam ingatan.

Tidak semua perjalanan selalu dipenuhi tawa. Ada hari-hari ketika rasa rindu kepada keluarga datang begitu kuat. Ada saat ketika nilai kuliah tidak sesuai harapan. Ada masa ketika hafalan terasa sulit bertambah. Bahkan, tidak jarang muncul keinginan untuk menyerah karena merasa tidak sanggup menjalani semuanya sekaligus.

Namun, di titik-titik itulah arti sebuah angkatan benar-benar terasa. Seseorang mungkin mampu bertahan karena diingatkan oleh temannya. Seseorang kembali bersemangat karena mendapat dukungan dari sahabatnya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan bersama, tetapi hampir semua beban terasa lebih ringan ketika dipikul bersama.

Sayangnya, di tengah perjalanan terkadang muncul kecenderungan untuk saling membandingkan. Siapa yang hafalannya paling banyak, siapa yang paling aktif di organisasi, siapa yang paling berprestasi di kampus, atau siapa yang paling cepat menyelesaikan studinya. Padahal, kehidupan di pesantren bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling unggul di atas yang lain.

Keberhasilan satu angkatan bukan diukur dari berapa banyak orang yang mendapat penghargaan, melainkan dari berapa banyak yang mampu saling menguatkan hingga sama-sama menyelesaikan perjalanan. Sebab, prestasi seseorang memang membanggakan, tetapi persaudaraan yang tetap terjaga jauh lebih berharga.

Pesantren mengajarkan bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dari sifat individualistis. Islam sendiri mengajarkan pentingnya ukhuwah, saling menolong dalam kebaikan, dan menguatkan satu sama lain. Nilai-nilai itu bukan hanya dipelajari di dalam kitab, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bersama teman-teman satu angkatan.

Kelak, setelah masa belajar berakhir, mungkin setiap orang akan menempuh jalan yang berbeda. Ada yang menjadi akademisi, guru, pengusaha, dai, pegawai, atau mengabdi di tengah masyarakat dengan caranya masing-masing. Kesibukan akan membuat intensitas pertemuan berkurang. Namun, kenangan tentang perjuangan bersama tidak akan mudah hilang.

Yang akan selalu diingat bukan siapa yang paling sering mendapat pujian, melainkan siapa yang tetap hadir ketika teman sedang membutuhkan. Bukan siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang terus mengajak temannya bangkit ketika mulai kehilangan semangat. Sebab, pada akhirnya, orang-orang tidak hanya dikenang karena prestasinya, tetapi juga karena kebaikan yang pernah ia berikan kepada orang lain.

Maka, jika ada pelajaran paling berharga dari perjalanan sebagai mahasiswa di pesantren, pelajaran itu adalah bahwa kebersamaan merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Waktu akan membawa setiap orang ke tempat yang berbeda, tetapi nilai persaudaraan yang dibangun dalam satu angkatan akan tetap menjadi bekal sepanjang kehidupan.

Karena pada akhirnya, perjalanan ini memang bukan tentang siapa yang paling hebat. Perjalanan ini adalah tentang siapa yang tetap bertahan, saling menguatkan, dan melangkah bersama hingga garis akhir. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah kebersamaan yang lahir dari perjuangan.