Konten dari Pengguna

Di Antara Deadline, Organisasi, dan Ekspektasi Orang Tua

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi seorang mahasiswa/i yang sedang berdiskusi pelajaran di kampus
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seorang mahasiswa/i yang sedang berdiskusi pelajaran di kampus

Menjadi mahasiswa sering kali terlihat seperti sebuah fase kehidupan yang bebas. Tidak lagi sepenuhnya diatur seperti saat sekolah, tetapi juga belum benar-benar memiliki kebebasan seperti orang dewasa yang sudah mandiri. Di balik kebebasan itu, ada banyak hal yang harus dijalani secara bersamaan.

Ada tugas yang harus dikumpulkan. Ada organisasi yang menuntut kehadiran. Ada kegiatan kampus yang tidak boleh dilewatkan. Di sisi lain, ada orang tua yang berharap anaknya bisa lulus tepat waktu, mendapatkan nilai yang baik, dan memiliki masa depan yang menjanjikan.

Semua itu datang bersamaan.

Pada awalnya, menjadi mahasiswa mungkin terasa menyenangkan. Bertemu teman baru, mengikuti kegiatan, bergabung dengan organisasi, dan mulai mengenal dunia yang lebih luas. Namun, perlahan-lahan, kesibukan itu bisa berubah menjadi tekanan.

Pagi digunakan untuk kuliah. Siang dilanjutkan dengan rapat organisasi. Sore mungkin masih ada kegiatan lain. Malam seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, tetapi justru digunakan untuk menyelesaikan tugas yang deadline-nya semakin dekat.

Besoknya, siklus yang sama kembali berulang.

Di tengah rutinitas tersebut, mahasiswa sering kali lupa bahwa dirinya juga membutuhkan waktu untuk berhenti. Sayangnya, berhenti sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Ketika seseorang memilih untuk beristirahat, muncul perasaan bersalah karena merasa masih banyak hal yang harus dikerjakan.

Akhirnya, tubuh tetap berada di kampus, tetapi pikiran sudah terlalu lelah untuk benar-benar hadir.

Ketika Deadline Tidak Pernah Berakhir

Tugas kuliah merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Satu tugas selesai, tugas lain sudah menunggu. Belum lagi tugas kelompok, presentasi, makalah, hingga ujian yang datang silih berganti.

Masalahnya bukan selalu karena tugas yang terlalu banyak. Terkadang, tekanan terbesar muncul karena mahasiswa merasa harus menyelesaikan semuanya dengan sempurna.

Ada mahasiswa yang takut mendapatkan nilai rendah. Ada yang takut mengecewakan kelompok. Ada pula yang terus membandingkan dirinya dengan teman-teman yang terlihat lebih cepat memahami materi.

Pada akhirnya, satu pertanyaan sering muncul di dalam kepala:

“Kenapa orang lain bisa, sedangkan saya tidak?”

Pertanyaan sederhana itu, jika terus dipelihara, dapat berubah menjadi beban. Mahasiswa mulai merasa tertinggal, tidak cukup pintar, bahkan meragukan kemampuannya sendiri.

Padahal, setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda. Tidak semua mahasiswa harus selalu menjadi yang paling aktif, paling pintar, atau paling produktif.

Organisasi: Tempat Berkembang yang Bisa Menjadi Beban

Organisasi kampus sebenarnya merupakan tempat yang baik untuk belajar. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab.

Namun, organisasi juga bisa menjadi sumber tekanan ketika seseorang merasa harus selalu hadir dan selalu mampu.

Ada rapat yang berlangsung hingga malam. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada konflik antaranggota yang harus dihadapi. Bahkan terkadang, mahasiswa merasa tidak enak untuk mengatakan bahwa dirinya sedang lelah.

Mereka takut dianggap tidak bertanggung jawab.

Padahal, mengatakan “saya sedang tidak mampu” bukan berarti seseorang tidak peduli. Terkadang, itu adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.

Tidak semua hal harus diikuti. Tidak semua kesempatan harus diambil. Sebab, terlalu banyak mengambil tanggung jawab tanpa mengetahui batas kemampuan justru dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Ekspektasi Orang Tua yang Tidak Selalu Mudah Dibicarakan

Di balik kesibukan mahasiswa, ada satu tekanan yang sering tidak terlihat: ekspektasi orang tua.

Sebagian orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Mereka berharap anaknya dapat kuliah dengan baik, memiliki nilai yang bagus, cepat lulus, dan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan.

Harapan tersebut sebenarnya lahir dari rasa sayang.

Namun, bagi mahasiswa yang sedang berjuang, harapan itu terkadang terasa seperti tekanan.

Ketika nilai menurun, muncul rasa takut untuk bercerita. Ketika mengalami kegagalan, ada perasaan malu untuk pulang. Ketika melihat teman sudah mencapai sesuatu, muncul kekhawatiran bahwa dirinya akan dianggap tertinggal.

Tidak jarang, mahasiswa akhirnya menjalani kehidupan dengan satu tujuan: jangan sampai mengecewakan orang tua.

Masalahnya, ketika seseorang terlalu lama hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, ia bisa lupa bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa sebenarnya yang saya inginkan?”

Mahasiswa Tidak Harus Selalu Kuat

Ada anggapan bahwa mahasiswa harus kuat karena sudah dianggap dewasa. Seolah-olah mereka sudah harus mampu menyelesaikan semua masalah sendiri.

Padahal, menjadi mahasiswa juga berarti berada dalam fase belajar. Bukan hanya belajar tentang mata kuliah, tetapi juga belajar memahami diri sendiri.

Tidak apa-apa jika suatu hari merasa lelah.

Tidak apa-apa jika membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Tidak apa-apa jika harus menolak kegiatan tertentu karena memang tidak sanggup.

Tidak semua hari harus diisi dengan pencapaian. Ada hari-hari ketika bertahan saja sudah cukup.

Sebab, mahasiswa bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa berhenti. Di balik tugas, organisasi, dan tuntutan akademik, ada manusia yang memiliki batas.

Menemukan Keseimbangan

Kehidupan mahasiswa memang tidak selalu mudah. Ada masa ketika semuanya terasa berjalan bersamaan dan tidak ada satu pun yang bisa ditunda.

Namun, bukan berarti semua hal harus dilakukan sekaligus.

Mahasiswa perlu belajar menentukan prioritas. Mana yang benar-benar penting, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak harus dilakukan.

Belajar mengatakan “tidak” juga merupakan bagian dari proses menjadi dewasa.

Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari seberapa banyak organisasi yang diikuti, seberapa tinggi nilai yang diperoleh, atau seberapa cepat lulus dari kampus.

Keberhasilan juga bisa berarti mampu mengenali batas diri, menjaga kesehatan mental, dan tetap menjadi diri sendiri di tengah berbagai tuntutan.

Di antara deadline, organisasi, dan ekspektasi orang tua, mahasiswa sering kali lupa bahwa ada satu hal yang juga harus diperjuangkan: dirinya sendiri.

Sebab, tidak ada gunanya berhasil mencapai masa depan jika dalam prosesnya kita kehilangan diri sendiri.