Konten dari Pengguna

Hafalan yang Terjaga Berawal dari Murojaah yang Tak mengenal Lelah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi halaqoh ketika waktu dhuha di masjid el-wahidah
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi halaqoh ketika waktu dhuha di masjid el-wahidah

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, menjaga hafalan Al-Qur'an bukanlah perkara yang selesai ketika ayat berhasil dihafalkan. Justru tantangan sesungguhnya dimulai setelah hafalan itu tersimpan di dalam dada. Sebab, hafalan yang tidak dijaga perlahan akan memudar. Karena itulah, di Ma'had Imam Hafsh, sebuah pesantren tahfidz yang telah berdiri lebih dari satu dekade di Kemang, Bogor, murojaah bukan sekadar kegiatan harian, melainkan jalan hidup yang menemani setiap langkah para santri.

Sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, Ma'had Imam Hafsh berkomitmen mencetak generasi penghafal Al-Qur'an yang tidak hanya mampu menambah hafalan, tetapi juga mampu menjaga dan mengamalkannya. Di pesantren ini, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari berapa juz yang telah dihafal, melainkan seberapa kuat hafalan itu tetap melekat meski waktu terus berjalan.

Hari para santri dimulai bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Setelah menunaikan shalat Subuh berjamaah, suasana pesantren berubah menjadi lautan lantunan ayat suci. Di setiap sudut, terdengar suara para santri yang mengulang hafalan dengan penuh kekhusyukan. Tidak ada kegaduhan, hanya lantunan Al-Qur'an yang saling bersahutan, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

dokumentasi rutinitas ketika sebelum memulai halaqah dhuha ,sholat dhuha terlebih dahulu

Rutinitas itu tidak berhenti di pagi hari. Setelah matahari meninggi, para santri kembali membersamai Al-Qur'an pada waktu Dhuha. Siang hari setelah Zuhur, sore selepas Ashar, hingga malam usai Isya, Al-Qur'an kembali menjadi teman terbaik mereka. Dalam sehari, para santri berkali-kali mengulang hafalan yang sama. Bukan karena mereka lupa, tetapi karena mereka memahami bahwa hafalan yang kuat lahir dari pengulangan yang tidak pernah bosan.

Di Ma'had Imam Hafsh, murojaah dipandang sebagai bentuk kesetiaan kepada Al-Qur'an. Semakin sering ayat diulang, semakin dalam ia tertanam di hati. Di balik kelancaran seorang hafidz ketika menyetorkan hafalannya, tersimpan ribuan kali pengulangan yang mungkin tidak pernah dilihat oleh orang lain.

Menariknya, pembinaan di pesantren ini tidak hanya berfokus pada hafalan semata. Para santri juga dibiasakan menjaga hubungan mereka dengan Allah melalui amalan-amalan sunnah, salah satunya adalah shalat Dhuha yang rutin dilaksanakan. Pembiasaan ibadah ini menjadi bagian dari pembentukan karakter, agar kecintaan terhadap Al-Qur'an berjalan beriringan dengan kedisiplinan dalam beribadah.

dokumentasi setoran hafalan al qur'an di hadapan ustadz yanuar ariyanto

Keseharian di Ma'had Imam Hafsh mengajarkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur'an bukan hanya tentang kemampuan mengingat, tetapi juga tentang membangun kesabaran, istiqamah, dan keikhlasan. Ada hari-hari ketika hafalan terasa mudah, namun tidak sedikit pula hari ketika satu halaman harus diulang berkali-kali hingga benar-benar melekat. Semua proses itu diterima sebagai bagian dari perjalanan mencintai kalam Allah.

Di era yang penuh distraksi, ketika perhatian manusia mudah terpecah oleh layar gawai dan media sosial, para santri memilih untuk terus membersamai Al-Qur'an sepanjang hari. Mereka membuktikan bahwa menjaga hafalan membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, bahkan melawan rasa jenuh. Namun, dari proses itulah lahir hafalan yang kokoh dan karakter yang tangguh.

Pada akhirnya, Ma'had Imam Hafsh tidak sekadar menjadi tempat menghafal Al-Qur'an, tetapi menjadi rumah yang menanamkan nilai bahwa setiap ayat yang dihafal harus terus dijaga sepanjang hayat. Sebab, hafalan yang kuat bukan lahir dari kecerdasan semata, melainkan dari murojaah yang dilakukan tanpa mengenal lelah. Di balik setiap hafalan yang lancar, selalu ada ribuan pengulangan yang menjadi saksi cinta seorang hamba kepada kitab sucinya.