“Kamis Berbagi", Wujud Kepedulian untuk Penghafal Al-Qur’an

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik lantunan ayat Al-Qur’an yang terdengar dari sudut-sudut Ma’had Imam Hafsh, Kemang, Bogor, ada sebuah kebiasaan sederhana yang menghadirkan kehangatan. Setiap dua pekan sekali, para santri mendapatkan hidangan melalui program Kamis Berkah.
Bukan sekadar makanan, hidangan tersebut menjadi bentuk kepedulian dari orang-orang yang ingin berbagi kepada para penghafal Al-Qur’an.
Kamis Berkah hadir untuk menemani para santri yang menjalankan puasa sunah pada hari Kamis. Setelah menjalani aktivitas menghafal, murojaah, belajar, dan berbagai kegiatan pesantren, mereka kemudian menikmati hidangan yang telah disiapkan untuk berbuka.
Menariknya, program ini tidak berdiri sendiri. Ada para muhsinin yang dengan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk berbagi. Donasi tersebut kemudian disalurkan melalui Fajar Catering untuk menyediakan hidangan Kamis Berkah bagi para santri.
Dari tangan para muhsinin, donasi berubah menjadi makanan. Dari makanan, lahir rasa kenyang. Dan dari rasa kenyang itu, para santri dapat kembali melanjutkan perjuangan mereka dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
Berbagi yang Sederhana, Maknanya Tidak Sederhana
Sedekah terkadang tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Sebuah makanan yang diberikan kepada orang lain pun dapat menjadi bentuk kasih sayang dan kepedulian.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah diibaratkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kebaikan yang diberikan tidak selalu berhenti pada apa yang terlihat.
Begitu pula dengan Kamis Berkah. Mungkin bagi sebagian orang, yang terlihat hanyalah seporsi makanan. Namun bagi seorang santri yang sedang berpuasa, makanan tersebut bisa menjadi bentuk perhatian yang menguatkan.
Ada seseorang yang mungkin tidak mengenal para santri secara langsung, tetapi memilih berbagi agar mereka bisa menikmati hidangan saat berbuka.
Di situlah indahnya berbagi.
Menemani Perjuangan Para Penghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Dibutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan istiqamah untuk menjaga ayat demi ayat yang telah dihafalkan.
Para santri di Ma’had Imam Hafsh menjalani rutinitas tersebut dalam keseharian mereka. Murojaah menjadi bagian penting dalam menjaga hafalan agar tetap melekat dan tidak mudah terlupakan.
Di tengah rutinitas itu, Kamis Berkah menjadi salah satu bentuk dukungan kecil yang memiliki arti besar.
Para santri yang sedang berpuasa tidak hanya merasakan nikmatnya hidangan ketika waktu berbuka tiba, tetapi juga merasakan bahwa ada orang-orang di luar sana yang peduli terhadap perjuangan mereka.
Sebab terkadang, dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang. Bisa jadi, ia hadir dalam bentuk makanan yang datang tepat ketika seseorang sedang menahan lapar.
Ketika Kebaikan Bertemu dengan Keikhlasan
Program Kamis Berkah juga memperlihatkan bahwa keberkahan dapat tercipta dari kerja sama banyak pihak.
Ada muhsinin yang menyisihkan hartanya. Ada Fajr Catering yang membantu menyediakan hidangan. Ada pengelola yang memastikan program berjalan. Dan ada para santri yang menerima sekaligus mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang telah berbagi.
Setiap pihak mengambil peran masing-masing.
Tidak ada yang terlalu kecil dalam sebuah kebaikan.
Bagi orang yang memberikan donasi, mungkin nilainya tidak seberapa dibandingkan seluruh hartanya. Tetapi bagi santri yang sedang berpuasa, pemberian itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Rasulullah SAW juga mengajarkan keutamaan memberi makan orang yang berpuasa. Orang yang memberi makan orang yang berpuasa mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.
Bukan Hanya Tentang Makanan
Pada akhirnya, Kamis Berkah bukan hanya tentang makanan yang dibagikan setiap dua pekan sekali.
Lebih dari itu, ia adalah tentang kepedulian.
Tentang bagaimana seseorang yang berada jauh dari lingkungan pesantren tetap dapat mengambil bagian dalam perjuangan para penghafal Al-Qur’an.
Tentang bagaimana sebagian harta yang disisihkan dengan ikhlas dapat berubah menjadi energi bagi orang lain untuk terus belajar, menghafal, dan menjaga kalam Allah.
Dan tentang bagaimana sebuah kebaikan sederhana dapat mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan: menghadirkan keberkahan.
Mungkin para muhsinin tidak selalu melihat langsung bagaimana para santri menikmati hidangan tersebut. Mereka mungkin tidak mengetahui siapa saja yang menerima makanan dari donasinya.
Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang.
Sebab bisa jadi, di sebuah Kamis yang sederhana, ada seorang santri yang berbuka dengan makanan dari tangan para dermawan, kemudian kembali membuka mushaf dan melanjutkan murojaahnya.
Di situlah Kamis Berkah menemukan maknanya.
Bukan sekadar berbagi makanan, tetapi ikut mengambil bagian dalam perjuangan menjaga Al-Qur’an.
