Ketika Gengsi Lebih Penting daripada Masa Depan

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kalangan mahasiswa, gaya hidup sering kali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Nongkrong di tempat yang sedang populer, menggunakan barang bermerek, mengikuti tren terbaru, hingga rela mengeluarkan uang hanya agar tidak terlihat berbeda dari lingkungan sekitar.
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras atau memenuhi kebutuhan diri. Namun, persoalan muncul ketika seseorang mulai membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, melainkan karena takut dianggap tidak mampu mengikuti standar lingkungan.
Di sinilah gengsi mulai mengambil alih.
Ketika Gaya Hidup Menjadi Perlombaan
Tanpa disadari, kehidupan sosial terkadang berubah menjadi perlombaan. Siapa yang memiliki ponsel terbaru, siapa yang sering makan di tempat mahal, siapa yang memakai pakaian bermerek, atau siapa yang paling sering bepergian.
Media sosial turut memperkuat keadaan tersebut. Seseorang melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih mewah, lebih bahagia, dan lebih sukses. Kemudian muncul keinginan untuk mengikuti, meskipun kondisi keuangan sebenarnya belum mampu.
Masalahnya, media sosial hanya menampilkan apa yang ingin dilihat orang lain. Tidak semua yang terlihat mewah berarti kondisi finansialnya baik. Tidak sedikit orang yang tampak hidup berkecukupan, tetapi sebenarnya harus berutang atau mengorbankan kebutuhan lain demi mempertahankan penampilan.
Pada akhirnya, seseorang bisa terlihat kaya di mata orang lain, tetapi mengalami kesulitan secara finansial dalam kehidupan nyata.
Gengsi Sering Membuat Seseorang Mengorbankan Masa Depan
Salah satu persoalan terbesar dari gaya hidup yang berlebihan adalah kebiasaan mengorbankan masa depan demi kepuasan sesaat.
Uang yang seharusnya dapat ditabung atau digunakan untuk kebutuhan penting justru habis untuk memenuhi keinginan. Investasi dianggap tidak penting karena hasilnya tidak langsung terlihat. Menabung terasa membosankan karena tidak memberikan kepuasan instan.
Sementara itu, barang baru, tempat makan yang sedang populer, atau pengakuan dari lingkungan memberikan kesenangan yang bisa dirasakan saat itu juga.
Inilah yang membuat banyak orang lebih mudah memilih gengsi daripada perencanaan keuangan.
Padahal, masa depan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan hari ini.
Tidak semua orang harus langsung memiliki investasi besar. Tidak semua mahasiswa harus memiliki penghasilan tinggi. Namun, membiasakan diri mengatur uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan sebagian penghasilan atau uang saku merupakan langkah penting untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Bukan Berarti Harus Hidup Pelit
Melek finansial bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati hidup.
Menabung dan berinvestasi bukan berarti harus menghilangkan seluruh kesenangan. Seseorang tetap boleh nongkrong, membeli pakaian, atau menikmati hasil kerja kerasnya.
Yang penting adalah mengetahui batas.
Masalahnya bukan pada membeli sesuatu yang mahal. Masalahnya adalah ketika seseorang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mampu ia beli hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Gengsi membuat seseorang bertanya, “Apa kata orang lain?”
Sementara kesadaran finansial membuat seseorang bertanya, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?”
Dua pertanyaan tersebut dapat menghasilkan keputusan yang sangat berbeda.
Masa Muda Tidak Harus Selalu Terlihat Mewah
Ada anggapan bahwa masa muda harus dinikmati sepenuhnya. Kalimat tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun, menikmati masa muda bukan berarti menghabiskan seluruh sumber daya yang dimiliki tanpa memikirkan masa depan.
Masa muda juga merupakan waktu yang baik untuk belajar mengelola uang.
Ketika seseorang mulai memahami pentingnya menabung dan investasi sejak dini, ia tidak hanya sedang menyimpan uang. Ia juga sedang membangun kebiasaan dan kedisiplinan.
Memulai dari jumlah kecil tetap lebih baik daripada terus menunggu sampai memiliki banyak uang.
Sebab, banyak orang tidak pernah benar-benar memulai karena merasa belum cukup kaya. Padahal, sering kali seseorang bukan tidak memiliki uang, melainkan belum memiliki kebiasaan untuk mengelolanya.
Gengsi Tidak Membayar Masa Depan
Pada akhirnya, orang lain mungkin hanya melihat apa yang kita kenakan, tempat yang kita datangi, atau barang yang kita gunakan. Namun, mereka tidak akan ikut menanggung ketika kondisi keuangan kita bermasalah.
Mereka tidak akan membayar cicilan kita. Mereka tidak akan menanggung utang kita. Mereka juga tidak akan bertanggung jawab ketika tabungan kita tidak ada karena seluruh uang telah habis untuk memenuhi standar orang lain.
Karena itu, penting untuk menyadari bahwa hidup bukan tentang terus-menerus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua gaya hidup harus ditiru. Dan tidak semua hal yang terlihat mewah harus dimiliki.
Sesekali, tidak mengikuti tren bukan berarti tertinggal. Bisa jadi, kita sedang memilih untuk berjalan menuju tujuan yang lebih penting.
Sebab, gengsi mungkin memberikan pengakuan untuk sementara waktu. Namun, pengelolaan keuangan yang baik dapat memberikan rasa aman untuk jangka panjang.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan tentang apakah kita mampu terlihat kaya hari ini.
Melainkan: apakah kita sedang membangun kehidupan yang benar-benar mampu kita nikmati di masa depan?
Jangan sampai hanya karena ingin terlihat mampu di mata orang lain, kita justru kehilangan kemampuan untuk membangun masa depan sendiri.
