Konten dari Pengguna

Konflik Bukan Sinyal Rusaknya Pernikahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi sepasang suami istri yang sedang merenung
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi sepasang suami istri yang sedang merenung

Banyak orang mengira bahwa rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang jarang bertengkar. Ketika pasangan mulai sering berbeda pendapat, sebagian orang langsung berpikir bahwa hubungan tersebut sedang berada di ambang kehancuran.

Padahal, konflik tidak selalu menjadi tanda bahwa sebuah pernikahan sedang rusak.

Dalam sebuah hubungan, dua orang dengan latar belakang, pengalaman, kepribadian, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda tentu tidak mungkin selalu sepakat dalam segala hal. Bahkan, perbedaan merupakan sesuatu yang hampir tidak dapat dihindari dalam kehidupan pernikahan.

Menurut penelitian John Gottman, sekitar 69 persen konflik dalam hubungan merupakan masalah yang bersifat berulang atau perpetual problems. Masalah ini biasanya berakar pada perbedaan mendasar dalam kepribadian, kebutuhan, maupun gaya hidup pasangan. Artinya, tidak semua konflik harus berakhir dengan satu solusi yang benar-benar menghilangkan masalah tersebut.

Persoalannya bukan apakah konflik akan muncul, melainkan bagaimana pasangan menghadapinya.

Tidak Semua Konflik Harus Dimenangkan

Dalam sebuah pertengkaran, pasangan sering kali terjebak dalam keinginan untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Suami ingin pendapatnya diterima. Istri ingin perasaannya dipahami. Keduanya kemudian berusaha memenangkan perdebatan.

Padahal, pernikahan bukanlah arena perlombaan.

Ketika satu pihak merasa menang, belum tentu hubungan tersebut benar-benar menang. Bisa jadi, pasangan yang lain hanya memilih diam karena lelah berdebat. Masalah memang terlihat selesai, tetapi perasaan kecewa, marah, atau tidak dihargai masih tersimpan.

Di sinilah konflik yang tidak dikelola dapat berubah menjadi jarak emosional.

Pasangan tidak selalu membutuhkan solusi sempurna. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan dan dipahami. Perbedaan yang terus muncul tidak selalu harus dihapuskan. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan dapat membicarakannya tanpa saling merendahkan.

Masalah yang Sama Bisa Terus Muncul

Ada pasangan yang terus berdebat mengenai uang. Ada yang berbeda dalam cara mengatur rumah tangga. Ada pula yang memiliki perbedaan dalam hal waktu bersama, cara berkomunikasi, atau cara mengekspresikan kasih sayang.

Masalah-masalah tersebut mungkin muncul berulang kali.

Namun, munculnya masalah yang sama bukan berarti pernikahan tersebut gagal. Dalam banyak kasus, perbedaan itu memang merupakan bagian dari karakter masing-masing pasangan.

Seseorang mungkin terbiasa hidup hemat, sementara pasangannya lebih spontan dalam menggunakan uang. Satu orang membutuhkan banyak waktu bersama, sementara yang lain membutuhkan ruang pribadi. Ada yang terbiasa membicarakan masalah secara langsung, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Tidak ada pasangan yang benar-benar identik.

Karena itu, tujuan pernikahan bukan mengubah pasangan menjadi salinan diri sendiri. Pernikahan justru mengajarkan dua orang yang berbeda untuk belajar hidup bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Cara Bertengkar Lebih Penting daripada Seberapa Sering Bertengkar

Pasangan yang tidak pernah bertengkar belum tentu memiliki hubungan yang sehat. Bisa saja mereka hanya terbiasa memendam masalah, menghindari percakapan sulit, atau memilih diam demi menjaga keadaan tetap terlihat baik.

Sebaliknya, pasangan yang sesekali berkonflik belum tentu memiliki pernikahan yang buruk.

Yang lebih penting adalah bagaimana konflik itu berlangsung.

Apakah pasangan saling menghina? Saling merendahkan? Mengungkit semua kesalahan masa lalu? Mengancam untuk berpisah setiap kali marah? Atau masih mampu menyampaikan perasaan tanpa menghancurkan harga diri pasangannya?

Konflik menjadi berbahaya bukan semata-mata karena adanya perbedaan pendapat, melainkan ketika cara menyelesaikannya justru melukai hubungan.

Perbedaan pendapat dapat dibicarakan. Namun, penghinaan yang terus-menerus, sikap meremehkan, dan keengganan untuk mendengarkan dapat membuat pasangan merasa tidak lagi aman secara emosional.

Konflik Seharusnya Menjadi Jalan untuk Memahami

Di balik sebuah pertengkaran, sering kali terdapat kebutuhan yang tidak tersampaikan.

Pertengkaran tentang pasangan yang terlalu sering bekerja mungkin sebenarnya bukan hanya tentang pekerjaan. Bisa jadi, ada kebutuhan untuk merasa diperhatikan.

Pertengkaran tentang uang mungkin bukan hanya tentang jumlah pengeluaran. Bisa jadi, terdapat perbedaan nilai tentang rasa aman dan masa depan.

Pertengkaran tentang waktu bersama mungkin bukan sekadar persoalan jadwal. Bisa jadi, salah satu pasangan sedang merasa tidak lagi menjadi prioritas.

Karena itu, pasangan perlu belajar melihat lebih dalam daripada sekadar kata-kata yang muncul ketika sedang marah.

Pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa kamu melakukan ini?”

Namun, juga: “Apa yang sebenarnya kamu rasakan?” dan “Apa yang kamu butuhkan dari hubungan ini?”

Ketika pasangan mulai memahami kebutuhan di balik konflik, pertengkaran tidak lagi hanya menjadi perdebatan. Ia dapat menjadi kesempatan untuk memahami satu sama lain dengan lebih baik.

Pernikahan yang Sehat Bukan Pernikahan Tanpa Konflik

Pernikahan yang sehat bukanlah hubungan yang tidak pernah mengalami perbedaan. Pernikahan yang sehat adalah hubungan yang mampu menghadapi perbedaan tanpa menjadikan pasangan sebagai musuh.

Sebab, konflik adalah bagian dari kehidupan bersama. Dua orang yang tinggal bersama, mengambil keputusan bersama, dan membangun masa depan bersama tentu akan menghadapi perbedaan.

Yang perlu diperjuangkan bukanlah pernikahan tanpa konflik, melainkan pernikahan yang tidak hancur setiap kali konflik datang.

Pada akhirnya, konflik bukan selalu sinyal rusaknya pernikahan. Terkadang, konflik justru menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibicarakan.

Namun, satu hal yang penting: jangan menjadikan konflik sebagai alasan untuk saling menyakiti.

Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan sempurna. Sebagian perbedaan mungkin akan terus muncul. Tetapi, pasangan masih dapat belajar untuk berdialog, berkompromi, saling memahami, dan mencari jalan tengah.

Sebab, kualitas sebuah pernikahan tidak ditentukan oleh seberapa sering pasangan bertengkar.

Melainkan oleh bagaimana mereka kembali menemukan jalan untuk saling mendengarkan setelah perbedaan itu muncul.