Mengapa Banyak Anak Muda Takut Memulai?

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu paradoks yang sering dialami banyak anak muda hari ini: ingin memulai, tetapi takut gagal. Tidak ingin memulai, tetapi juga takut tertinggal.
Ingin membangun usaha, tetapi takut rugi. Ingin membuat konten, tetapi takut tidak ada yang menonton. Ingin belajar investasi, tetapi takut kehilangan uang. Ingin melamar pekerjaan, tetapi takut ditolak.
Ingin mengejar impian, tetapi terlalu sibuk memikirkan kemungkinan gagal.
Akhirnya, banyak yang memilih untuk menunggu.
Menunggu sampai lebih siap. Menunggu sampai memiliki modal lebih banyak. Menunggu sampai merasa cukup pintar. Menunggu sampai lebih percaya diri.
Padahal, tanpa disadari, waktu terus berjalan.
Di saat yang sama, media sosial terus memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak jauh lebih maju. Teman sebaya sudah memiliki pekerjaan. Ada yang mulai berbisnis, mendapatkan beasiswa, membangun personal branding, atau mencapai sesuatu yang selama ini hanya menjadi angan-angan.
Kemudian muncul pertanyaan yang sering menghantui banyak anak muda:
“Kenapa mereka sudah sejauh itu, sedangkan saya masih di sini?”
Ketakutan yang Sebenarnya Bukan Selalu tentang Kegagalan
Banyak orang mengira anak muda takut memulai karena malas atau tidak memiliki keinginan yang cukup kuat. Padahal, masalahnya sering kali bukan karena tidak ingin mencoba, melainkan karena terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk.
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika ditertawakan?
Bagaimana jika usaha yang dibangun tidak berhasil?
Bagaimana jika keputusan yang diambil ternyata salah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang wajar. Namun, jika terus dipikirkan tanpa pernah mengambil langkah, seseorang bisa terjebak dalam analysis paralysis—kondisi ketika terlalu banyak menganalisis hingga akhirnya tidak melakukan apa pun.
Rencana terus dibuat. Ide terus dipikirkan. Strategi terus disusun.
Namun, langkah pertama tidak pernah benar-benar diambil.
Padahal, tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui hasil dari sesuatu yang belum pernah dicoba.
Media Sosial Membuat Kita Merasa Semua Orang Sedang Berlari
Salah satu alasan anak muda takut tertinggal adalah karena media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat begitu dekat.
Setiap hari, kita dapat melihat orang yang lulus dengan prestasi, mendapatkan pekerjaan, memulai bisnis, membeli rumah, berlibur ke luar negeri, atau meraih kesuksesan di usia muda.
Masalahnya, media sosial biasanya hanya menampilkan hasil, bukan keseluruhan proses.
Kita melihat seseorang sukses, tetapi tidak melihat malam-malam ketika ia ingin menyerah. Kita melihat bisnisnya berkembang, tetapi tidak mengetahui kerugian yang pernah dialami. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak tahu berapa lama ia harus berjuang untuk sampai di sana.
Akhirnya, kita membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir kehidupan orang lain.
Perbandingan seperti itu tentu tidak pernah adil.
Takut Tertinggal Membuat Kita Terburu-Buru
Ironisnya, rasa takut tertinggal juga dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya tidak sesuai dengan dirinya.
Ketika melihat teman mulai berinvestasi, kita merasa harus ikut. Ketika melihat orang lain membangun bisnis, kita merasa harus segera memiliki bisnis. Ketika melihat seseorang sukses di usia muda, kita merasa harus mencapai hal yang sama.
Bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut menjadi satu-satunya orang yang belum melakukannya.
Di sinilah masalah mulai muncul.
Seseorang bisa saja sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan. Ia hanya mengejarnya karena takut tertinggal dari orang lain.
Padahal, hidup bukan perlombaan dengan satu garis finis yang sama.
Ada orang yang menemukan jalannya di usia 20 tahun. Ada yang baru memahaminya di usia 30 tahun. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Lambat bukan berarti gagal. Terlambat bukan berarti selesai.
Generasi yang Ingin Cepat, tetapi Takut Salah
Anak muda hari ini hidup di tengah budaya yang serba cepat. Kesuksesan sering kali diukur melalui angka: jumlah pengikut, pendapatan, jabatan, rumah, kendaraan, dan berbagai pencapaian lainnya.
Akibatnya, banyak orang merasa bahwa hidup harus segera menghasilkan sesuatu.
Usia 20-an harus sukses. Harus memiliki karier. Harus mandiri. Harus memiliki tabungan. Harus mengetahui tujuan hidup.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan kesempatan yang berbeda.
Ada yang harus membantu keluarga. Ada yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan. Ada yang sedang mencari arah hidup. Ada pula yang diam-diam sedang berusaha bangkit dari kegagalan sebelumnya.
Namun, karena terlalu sering melihat pencapaian orang lain, banyak anak muda lupa bahwa setiap orang juga sedang menghadapi perjuangannya masing-masing.
Tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar tidak memiliki masalah.
Memulai Tidak Membutuhkan Keberanian yang Sempurna
Salah satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa keberanian tidak selalu muncul sebelum seseorang memulai.
Sering kali, keberanian justru tumbuh setelah langkah pertama diambil.
Seseorang tidak harus memiliki rencana yang sempurna untuk memulai. Tidak harus langsung ahli. Tidak harus memiliki modal besar. Tidak harus mendapatkan dukungan dari semua orang.
Banyak hal besar dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Satu halaman yang dibaca. Satu ide yang dicoba. Satu lamaran pekerjaan yang dikirim. Satu produk yang dijual. Satu video yang dibuat.
Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat.
Namun, setidaknya seseorang sudah bergerak.
Dan terkadang, bergerak perlahan jauh lebih baik daripada terus menunggu sampai merasa benar-benar siap.
Tidak Semua Orang Harus Berlari dengan Kecepatan yang Sama
Pada akhirnya, mungkin yang paling dibutuhkan anak muda bukanlah kecepatan, melainkan keberanian untuk menerima bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Kita tidak harus memiliki pencapaian yang sama dengan teman sebaya. Kita tidak harus mengikuti semua tren. Kita juga tidak harus terus membuktikan kepada orang lain bahwa hidup kita sedang baik-baik saja.
Yang penting adalah terus bertumbuh.
Sebab, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Hidup adalah tentang bagaimana seseorang tetap berjalan meskipun jalannya berbeda dari orang lain.
Takut memulai adalah hal yang wajar. Takut gagal juga manusiawi. Namun, jangan sampai rasa takut membuat kita kehilangan terlalu banyak waktu.
Karena terkadang, yang paling membuat seseorang tertinggal bukanlah kegagalan.
Melainkan terlalu lama menunggu sampai dirinya merasa tidak takut lagi.
Padahal, mungkin kita tidak pernah benar-benar siap.
