Konten dari Pengguna

Merawat Iman Lewat Ngaji, Merawat Bumi Lewat Bertani

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi santri memanen sayur-sayuran di kemang bogor
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi santri memanen sayur-sayuran di kemang bogor

Pesantren selama ini lebih dikenal sebagai tempat lahirnya generasi yang kuat dalam ilmu agama dan akhlak. Namun, di tengah tantangan zaman, bekal spiritual saja tidak cukup. Santri juga membutuhkan keterampilan hidup agar mampu beradaptasi, berkarya, dan memberi manfaat ketika kembali ke tengah masyarakat. Kesadaran inilah yang diwujudkan Ma'had Imam Hafsh melalui pembelajaran bertani.

Di kebun pesantren, para santri belajar membudidayakan kangkung dan caisim. Mereka terlibat langsung sejak mengolah tanah, menyemai benih, menyiram tanaman, hingga memanen hasilnya. Aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

ilustrasi santri memetik sayuran di kebun pesantren

Bertani mengajarkan bahwa setiap hasil membutuhkan proses. Benih yang ditanam tidak tumbuh dalam semalam, sebagaimana ilmu tidak dapat diperoleh secara instan. Tanaman yang dirawat setiap hari menjadi pengingat bahwa kesabaran, kedisiplinan, dan konsistensi merupakan kunci keberhasilan. Ketika panen tiba, santri memahami bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil pada waktunya.

Lebih dari itu, bertani juga membentuk cara pandang santri terhadap kehidupan. Mereka belajar menghargai setiap butir makanan yang dihasilkan dari jerih payah para petani, memahami pentingnya menjaga lingkungan, serta menyadari bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan tanah bukanlah pekerjaan yang rendah, melainkan pekerjaan mulia yang menjadi penopang kehidupan banyak orang.

Program ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat modern. Nilai-nilai Al-Qur'an seperti amanah, kerja keras, ikhtiar, dan kepedulian terhadap sesama tidak hanya dipelajari melalui kitab, tetapi dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, ilmu agama dan keterampilan hidup tumbuh beriringan.

Ma'had Imam Hafsh membuktikan bahwa kebun bukan sekadar tempat menanam kangkung dan caisim. Kebun menjadi ruang belajar yang menumbuhkan karakter, melatih kemandirian, dan membentuk santri yang siap menghadapi kehidupan. Sebab sejatinya, hasil terbaik dari sebuah pendidikan bukan hanya panen sayuran, melainkan lahirnya manusia yang berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.