Konten dari Pengguna

Sebuah Kisah Lama yang Terus Hidup: Rahasia Fi'il Mudhari' dalam Al-Qur'an

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faliq zulham Safa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi membaca al-qur'an pixel.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi membaca al-qur'an pixel.com

Al-Qur'an bukan hanya menyampaikan sebuah kisah, tetapi juga menghadirkannya dengan pilihan bahasa yang penuh makna. Salah satu keindahan tersebut dapat ditemukan dalam penggunaan fi'il mudhāri' (الفعل المضارع).

Secara umum, fi'il mudhāri' merupakan kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang sedang berlangsung atau akan terjadi. Namun, dalam Al-Qur'an, penggunaannya tidak selalu terbatas pada makna waktu tersebut. Dalam konteks tertentu, fi'il mudhāri' dapat menggambarkan peristiwa masa lalu seolah-olah sedang berlangsung di hadapan pembaca.

Ketika Masa Lalu Terasa Hidup

Salah satu contohnya terdapat dalam kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ketika membangun Ka'bah:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Menariknya, QS. Al-Baqarah ayat 127 tidak dikenal memiliki sebab turun ayat secara khusus sebagaimana beberapa ayat Al-Qur'an lainnya. Ayat ini hadir dalam rangkaian kisah Nabi Ibrahim yang mengajarkan tentang tauhid, ketaatan, dan sejarah pembangunan Ka'bah bersama Nabi Ismail. Justru melalui kisah inilah Al-Qur'an memperlihatkan keindahan bahasanya, salah satunya melalui penggunaan fi'il mudhāri' يَرْفَعُ yang membuat peristiwa masa lalu terasa seakan sedang berlangsung di hadapan pembaca.

Kata يَرْفَعُ (yarfa'u) merupakan fi'il mudhāri' dari kata رَفَعَ – يَرْفَعُ, yang berarti “mengangkat” atau “meninggikan”.

Secara sejarah, pembangunan Ka'bah merupakan peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Namun, Al-Qur'an menggunakan bentuk يَرْفَعُ, bukan sekedar bentuk māḍī رَفَعَ.

Dalam kajian balaghah, penggunaan mudhāri' dalam konteks seperti ini dapat memberikan efek menghadirkan kembali sebuah peristiwa, seakan-akan pembaca menyaksikan langsung Nabi Ibrahim dan Ismail sedang meninggikan fondasi Baitullah.

Inilah yang dikenal dalam balaghah sebagai حكاية الحال الماضية (ḥikāyatu al-ḥāli al-māḍiyah), yaitu menggambarkan keadaan masa lalu dengan bentuk yang membuatnya terasa hidup dan hadir.

Tidak Selalu Berarti “Sedang”

Fi'il mudhāri' juga tidak selalu harus diterjemahkan dengan kata “sedang”. Maknanya sangat bergantung pada konteks.

Misalnya:

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

(QS. An-Nahl: 19)

Kata يَعْلَمُ (ya'lamu) adalah fi'il mudhāri'. Di sini, ia menggambarkan pengetahuan Allah yang senantiasa berlaku, bukan sekedar tindakan “sedang mengetahui” pada satu waktu tertentu.

Contoh lain:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari.”

(QS. Al-Baqarah: 274)

Kata يُنْفِقُونَ (yunfiquna) menunjukkan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus atau berulang, sesuai dengan konteks ayat.

Bahasa yang Membuat Kisah Terus Hidup

Dari sini kita dapat melihat bahwa fi'il mudhāri' dalam Al-Qur'an memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menunjukkan waktu. Ia dapat menggambarkan kesinambungan, kebiasaan, masa depan, maupun menghadirkan kembali suatu peristiwa.

Inilah salah satu keistimewaan bahasa Al-Qur'an. Sebuah peristiwa yang telah berlalu ribuan tahun dapat terasa dekat ketika ayatnya dibaca.

Ketika kita membaca:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ

seakan-akan kita tidak hanya membaca sejarah tentang Ibrahim dan Ismail, tetapi sedang menyaksikan mereka membangun Baitullah.

Kisahnya telah lama berlalu, tetapi melalui keindahan bahasanya, ia terus hidup.

Dan mungkin di situlah salah satu rahasia mengapa kisah-kisah Al-Qur'an terasa begitu hidup: Al-Qur'an tidak hanya membawa kita untuk melihat apa yang pernah terjadi, tetapi mengajak kita melihat kembali, merenungkan, dan mengambil pelajaran seolah-olah peristiwa itu sedang berbicara kepada kita hari ini وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.