Pertikaian Besi dan Kayu: "Princess Mononoke"

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Falisha Shiva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“See what you can see, with eyes unclouded by hate.” (Lihatlah apa yang bisa kamu lihat, dengan mata yang tidak dikaburkan oleh kebencian).
Tanpa kita sadari, seringkali kita begitu mudah menunjuk siapa yang bersalah ketika apa yang kita cintai dihancurkan. Begitu ringan melabeli seseorang sebagai penjahat dari luka yang mereka tinggalkan. Namun, bagaimana dengan sisi yang lain? Apakah kita sebersih apa yang kita kira?
Melalui Princess Mononoke (1997) sebagai salah satu mahakaryanya, Hayao Miyazaki memperkenalkan sebuah dunia, di mana manusia dan alam sama-sama memiliki kepentingan yang akibatnya saling melukai. Apa yang kita anggap sebagai sebuah lompatan kemajuan, barangkali berarti kehancuran bagi yang lain. Dan apa yang kita anggap pertahanan, barangkali dianggap sebagai limitasi.
Film jebolan Studio Ghibli ini mengingatkan bahwa terkadang, kebencian tidak membuat kita buta terhadap kejahatan. Ia membuat kita buta terhadap kemanusiaan di baliknya. Ketika setiap pihak memiliki alasan untuk mempertahankan kepentingannya, siapakah yang pantas disebut sebagai penjahat?
Ashitaka (Yōji Matsuda) hanyalah seorang pangeran dari sebuah suku di desa kecil dekat hutan. Namun, ketika seekor dewa babi hutan yang telah berubah menjadi iblis menyerang desanya, ia terpaksa mengangkat senjata untuk melindungi mereka. Kejadian tersebut meninggalkan kutukan dengan kekuatan mengerikan di lengan kanannya, yang akan perlahan mengancam hidupnya.
Demi mencari cara untuk melepaskan kutukan itu, Ashitaka meninggalkan kampung halamannya dan melakukan perjalanan ke barat. Perjalanan tersebut membawanya ke sebuah wilayah yang tengah dilanda konflik antara manusia dan para dewa penghuni hutan. Di satu sisi, terdapat Kota Besi yang dipimpin Lady Eboshi (Yūko Tanaka), seorang pemimpin ambisius yang berusaha membangun kehidupan lebih baik bagi masyarakatnya melalui industri pengolahan besi. Di sisi lain, berdiri San (Yuriko Ishida), seorang perempuan yang dibesarkan oleh dewa serigala, dan bersama mereka, melindungi hutan dari kehancuran akibat ulah manusia.
Terjebak di antara dua pihak yang sama-sama enggan mengalah, Ashitaka berusaha memahami akar pertikaian tersebut sembari mencari jalan keluar dari kutukan yang menggerogoti tubuhnya. Akan tetapi, semakin jauh ia melangkah, semakin jelas bahwa konflik yang dihadapinya tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengalahkan satu pihak.
Kelebihan terbesar Princess Mononoke terletak pada keberaniannya untuk tidak mengotak-ngotakkan antara hitam dan putih. Dalam banyak kisah fantasi, konflik seringkali melukis satu pihak jahat yang nantinya harus dikalahkan. Namun, Miyazaki justru membuat karakter-karakter didalamnya sangat manusiawi dengan membiarkan setiap pihak memiliki sesuatu yang ingin dipertahankan, dan perjuangan untuk melindunginya dapat membawa penderitaan bagi pihak lain.
Hal ini paling jelas terlihat melalui karakter Lady Eboshi. Ia bukan pemimpin yang semata-mata digerakkan oleh keserakahan. Di Kota Besi, ia memberikan kesempatan hidup bagi orang-orang yang tersisih dari masyarakat, termasuk para perempuan yang sebelumnya mengalami eksploitasi di kota dan penderita kusta. Di bawah kepemimpinannya, mereka memperoleh pekerjaan, perlindungan, dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Namun, Industri besi Kota Besi yang ia bangun menggerus hutan dan mengancam kehidupan para penghuninya. Lady Eboshi adalah sosok penyelamat bagi manusia yang dipimpinnya, tetapi sekaligus menjadi ancaman bagi alam yang mereka eksploitasi.
Kontradiksi ini malah membuat karakter Lady Eboshi menarik. Miyazaki tidak menghapus dampak buruk tindakannya hanya karena ia memiliki niat baik. Sebaliknya, karakter Lady Eboshi memperlihatkan bahwa seseorang dapat melakukan hal yang baik bagi satu kelompok, tapi juga menyebabkan penderitaan bagi lainnya. Niat baik tidak serta-merta menghapus konsekuensi, begitu pula tindakan merusak tidak selalu lahir dari niat jahat semata.
Sementara itu San pun bukan representasi kebaikan yang sempurna tanpa cela. Karena ia dibesarkan oleh dewi serigala, Moro, ia memandang manusia sebagai ancaman bagi hutan dan melawan mereka dengan kebencian yang mendalam. Dikarenakan hutan terus terkikis dan kelompoknya terus dirugikan. Kemarahannya sangat bisa dipahami, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka dan kebencian mampu mempersempit ruang pengertian.
Di antara keduanya, Ashitaka menjadi sosok yang berusaha melihat dari dua kacamata dan terlepas dari permusuhan. Prinsipnya untuk memandang dunia dengan mata yang tidak dikaburkan kebencian bukan berarti mengajak mengabaikan ketidakadilan, tetapi berusaha untuk memahami persoalan tanpa kehilangan kejernihan berpikir.
Menariknya, Ashitaka bukan tokoh utama yang pasif. Ia tetap bertindak, melindungi mereka yang terancam, dan berusaha menghentikan kekerasan. Namun, ia tidak menganggap bahwa keselamatan satu pihak harus dibayar dengan pemusnahan pihak lainnya.
Di tengah konflik yang melibatkan manusia dan alam, kutukan Ashitaka menjadi salah satu simbolisasi paling kuat dalam film ini. Setiap kali Ashitaka menggunakan kekuatan kutukannya, ia memperoleh kekuatan luar biasa. Namun, kekuatan itu datang dengan konsekuensi kutukan yang semakin menggerogoti dirinya. Kebencian bukan lagi sekadar emosi yang dimiliki oleh para karakter, melainkan sesuatu yang secara nyata, meninggalkan bekas, dan mengubah kehidupan mereka. Bahkan ketika kemarahan memiliki alasan yang dapat dipahami, kehancuran yang kemudian ditimbulkannya tidak selalu bisa dikendalikan.
Secara visual, Princess Mononoke merupakan animasi yang sangat indah. Goresan tangan Studio Ghibli memperlihatkan pemandangan hutan yang rimbun, aliran air yang jernih, makhluk-makhluk mistis dengan desain ikonik seperti Kodama, roh hutan kecil penanda kondisi hutan sehat. Ia berwarna putih yang kepalanya berputar-putar dengan suara berderik.
Miyazaki memperlihatkan kekerasan secara jelas. Pertarungan dalam film ini terasa brutal, dengan segala macam luka dan realita perang yang tidak disamarkan. Pilihan tersebut sebenarnya bisa menjadi pedang bermata dua. Ia dapat membuat konflik terasa nyata, tetapi bisa terasa disturbing bagi sebagian orang. Princess Mononoke bukanlah fantasi yang sepenuhnya nyaman untuk ditonton, terutama bagi penonton yang berekspektasi menonton film petualangan ringan khas genre animasi family friendly.
Dengan durasi 133 menit dan kepadatan konflik yang cukup tinggi, film ini menuntut perhatian serta kesediaan penonton untuk mengikuti alurnya dengan saksama. Bagi penonton yang lebih menyukai narasi sederhana dengan tujuan yang jelas, film ini mungkin terasa melelahkan. Akan tetapi, hal inilah yang juga memungkinkan world building Princess Mononoke terasa benar-benar memiliki sejarah, kepentingan, dan kehidupan yang tidak melulu soal perjalanan tokoh utamanya.
Pada akhirnya, Princess Mononoke bukanlah kisah tentang kemenangan manusia atas alam, ataupun tentang alam yang sepenuhnya terbebas dari campur tangan manusia. Film ini tidak berakhir dengan terhapusnya semua dosa-dosa manusia, mengembalikan segala sesuatu seperti semula, atau menjadikan semua pihak hidup dalam harmoni. Barangkali hal ini tidak terlalu memuaskan bagi sebagian penonton, tetapi saya rasa, penutup ini justru akan terus melekat di ingatan penonton.
Sekali lagi, ingat; “See what you can see, with eyes unclouded by hate.” (Lihatlah apa yang bisa kamu lihat, dengan mata yang tidak dikaburkan oleh kebencian).
