Kehidupan Serabutan Nelayan Dusun Pandean Banyuwangi

status sebagai Mahasiswa Aktif Universitas Jember, aktifitas pada saat ini adalah sebagai penulis amatir, dan aktivis lingkungan di daerah Banyuwangi
Tulisan dari Fani Maulana Ilham Arsyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengulas mengenai kehidupan ekonomi, dan perkejaan Nelayan Dusun, Padean Desa Bajulamati, Banyuwangi.
Dusun Pandean. Dusun pesisir pantai yang dimana dusun ini memiliki dominasi pesisir pantai sehingga mata pencarian warga sekitarnya seabagai nelayan. Dusun Pandean ini terletak di Kabupaten Banyuwangi, Kecamatan Wongsorejo, Desa Bajulmati, Dusun Pandean. Dari kontur keadaan lingkungannya dusun ini menjadi pilihan bagi warga Desa Bajulmati dalam mencari kudapan ikan mentah ataupun hasil laut lainya.
Kehidupan warga dilingkungan dusun ini tidak serta merta setiap tahun menjadi nelayan. Warga lokal dusun Pandean ini jika dihitung rata-rata memiliki pendapatan golongan menengah kebawah, hal ini dikarenakan penduduk dusun ini merupakan nelayan musiman dimana mereka masih menerapkan metode pemcari ikan dengan cara tradisional dan masih memanfaatkan caca iklim sepanjang tahun.
Jika dibagi menurut perkerjaan sepanjang tahun nelayan dusun Pandean sepanjang tahun bisa beralih profesi sebagai Buruh sawah, Pedagang Pasar, dan Kuli Bangunan. Baiklah kita ulas secara satu persatu, yang pertamaa Nelayan yang serabutan menjadi buruh tani. Pada saat tidak musim ikan beberapa nelayan ada yang menjadi buruh sawah dimana tidak jauh dari dusun tersebut masih terdapata sawah metode pesisir laut. sawah akan ditanami dengan padi hingga masa panen tiga sampai empat bulan dan ketika masa panen inilah para nelayan ini akan berubah menjadi buruh untuk meyambung penghasilan. Kadangkala jika masa bercocok tanam memasuki musim kemarau para nelayan ini juga akan berubah menjaadi buruh ladang dengan komoditas cabe dan jagung.
Profesi serabutan nelayan yang kedua adalah pedagang pasar. Pada saat musim ikan tidak muncul ada beberapa nelayan lebih berprofesi menjadi penjual dipasar. Memang dusun ini dengan jarak pasar desa besar tidak terlalu jauh sekitaran 4,5 Km yang bisa ditempuh dengan waktu 15 menit. Nelayan yang berprofesi sebagai pedagang biasanya menjual kemoditasnya berupa hasil tangkapan yang mereka dapat. Bagaimana mereka masih bisa mendapatkan ikan dimasa musik tidak ada ikan? Mereka melakukan metode tandon ikan dimana pengawetan ikan dilakukan dengan pengasinan atau dengan pembekuan ikan segar sehingga masih bisa dijual dipasar desa.
Profesi yang ketiga ialah mengenai nelayan yang beralih menjadi kuli bangunan, biasanya nelayan yang beralih profesi menjadi kuli bangunan ini tidak memiliki keahlian selain bakat sebagai nelayan. Para nelayan beralih profesi yang kuli dimana pekerjaan ini digunakan untuk mengisi kegiatan pekerjaan dikala tidak terjadi musim tangap ikan.
Dalam setahun nelayan mengalami pasang surut dalam hasil tangkapanya. Hal ini didasarkan akan beberapa faktor yang mempengaruhi musim tangkap ikan. Seperti faktor waktu penangkapan, faktor musim, dan faktor perputaran bulan dalam setahun. Jika mengacu pada akfititas faktor waktu menangkap ikan. Ikan akan keluar jika pada malam hari sinar bulan tidak keluar atau bulan mati pada fase ini tangkapan ikan akan banyak karena ikan akan muncul dipermukaan untuk mencari ikan. Berbeda ketika malam hari terang bulan ikan akan cenderung berenang kearah laut dalam menghindari mangsa atau mencari makan dilaut dalam.
Faktor bulan dalam setahun juga mempengaruhi tangkapan para nelayan dalam masa setahun. Biasanya pada bulan 6 sampai dengan bulan 12 memasuki musim panas tangkapan ikan akan cenderung menangkap ikan-ikan kecil. Berbeda dengan memasuki musim penghujan yang memasuki bulan 1 sampai bulan 4, tangkapan ikan nelayan akan cenderung lebih besar-besar dan lebih berbobot jika akan dijual kepasar.
Hal yang menjadi permasalahan utama dalam topik ini adalah para nelayan yang masih diangka kehidupan menengah kebawah dan terpaksa harus mencari kerja serabutan dimasa tidak ada tangkap ikan. Berbicara mengenai hasil jerih payah tangkapan nelayan ada dua faktor yang menyebabkan nelayan ini masih di ambang perekonomian yang standar kebawah. Dalam menangkap ikan nelayan biasanya melakukan dua cara yaitu menjarring ikan ikut kapal atau lebih memilih memancing. Dalam menjaring ikan dengan perahu perolehan ikan akan cenderung lebih banyak dan bervariasi. Namun penjaringan ikan ini tidak dilakukan hanya oleh satu orang nelayan saja. Biasanya menjaring ikan ini akan dilakukan oleh 3-4 orang nelayan dalam satu jaring. Ketika tangkapan melimpah mereka harus berbagi hasil tangkapan dan dijual kepasar atau tengkulak ikan. Dallam penjualan pun sama nelayan menjual ikan kepasar sedikit lebih mahal, hal ini difungsikan agar pembeli ketika membeli ikan segar dengan harga yang mahal namun murah dan berkualitas baik. Berbeda dengan dijual kepada tengkulak ikan, pembelian akan jauh lebuh murah karna tengkulak ikan akan memasok ikan nelayan kepada pabrik-pabrik terdekat. Maka dari itu nelayan menyetrategi jika tangkapan ikan diperoleh berkualitas baik maka lebih memilih dijual kepasar, beda lagi tangkapan ikan yang didapat kecil-kecil dan berkualitas buruh. Nelayan akan lebih memilih menjual kepada pabrik terdekat karna harga ikan kulaitas baik dan buruh dihargai sama yang memberdakan hanya besar kecilnya ikan persatuan bisa mempengaruhi harga.
Berbeda dengan menjaring. Nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan memancing memiliki upah yang agak lebih banyak. Dengan metode memancing ini dilaksanakan dengan individu namun dalam metode memancing ini membutuhkan waktu yang sangat lama dan menguras tenaga. Hasil tangkapan ikan memancingpun cenderung lebih besar dan berkualitas bagus. Tangkapan yang sering diperoleh antara lain ikan kakap, ikan cakalang, dan ikan gurame. Ikan-ikan ini memiliki harga jual yang cukup tinggi dipasaran. Namun meskipun dengan harga jual yang tinggi dipasaran nelayan sendiri tidak merasakan keuntungan dalam menjual ikan ini. Karena yang merasakan adalah pedagang ikan bukan nelayan, nelayan sendiri menjual kepada pedangan ikan dengan harga murah. Sedangkan pedagang ikan menjual ikan tangkapan dipasar dengan harga mahal. Suatu ketimpangan yang tidak seimbang dalam sistem perekonomian.
Bayangkan dalam sehari para nelayan ini membutuhkan biaya seluruhnya sebaganyak 75 ribu, sedangkan hasil tangkap ikan hanya 35 ribu atau 24 ribu dan ketika mereka sudah melakukan penangkapan ikan pada hari tersebut besoknya mereka tidak akan menangkap ikan lagi karena mereka memiliki metode dengan sebutan “Lerem” lerem ini adalah metode dimana nelayan sekitar percaya bahwa ketika hari tersebut melakukan peangkapan ikan maka hari selanjutnya butuh libur atau tidak menangkap ikan. Tujuan tidak menangkap ikan setiap hari adalah untuk mengurangi eksploitasi ikan secara terus menerus setiap hari dan memberikan waktu bebas bagi ikan. Hal-hal ini menjadi faktor penghambat dalam mencari upah bagi nelayan karena tidak bisa dilakukan setiap hari. Sehingga selama seminggu nelayan berlayar mulai 3 sampai 4 kali.
Belum lagi ketika memasuki musim tidak tangkap ikan. Hal ini menjadi beban bagi anak dan istri nelayan karena mata pencarian pokok mereka harus ditahan dengan adanya musim. Jalan satu-satunya adalah keluarga nelayan didusun ini banyak memutar otak dan beralih profesi selain sebagai nelayan. Seperti yang disebutkan tadi banyak perkerjaan yang bisa dilakukan dalam masa-masa musim tidak tangkap ikan. Dan karena faktor inilah juga didusun ini warag desanya tidak bermata pencaharian sebagai nelayan, mereka bermatapencarian sebagai serabutan sesuai perkembangan musim. Pekerjaan serabutan yang dilakukan nelayan ini untuk tetap mendapatkan upah dimasa sulit tangkap ikan dan bisa bertahan demi anak dan istrinya. Namun ketika musim tangkap ikan mulai kembali para nelayan serabutan ini akan kembali lagi menjadi pencarharian nelayan untuk berlayar menangkap ikan.
