Konten dari Pengguna

Soft Skill dan Kepercayaan Diri: Bekal Generasi Muda Menghadapi Masa Depan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fani Yunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi kegiatan PKM bersama santri, dosen pembimbing, dan guru pendamping Pondok Pesantren Attaufiqiyyah, Bogor, pada 10 Oktober 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi kegiatan PKM bersama santri, dosen pembimbing, dan guru pendamping Pondok Pesantren Attaufiqiyyah, Bogor, pada 10 Oktober 2026.

Soft skill dan kepercayaan diri merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.Setiap orang memiliki kemampuan dan tingkat kepercayaan diri yang berbeda. Ada yang mampu menyampaikan pendapat dengan lancar, tetapi ada pula yang masih merasa gugup ketika harus berbicara di depan orang lain. Kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam proses pengembangan diri. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun kepercayaan diri bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, melainkan dapat dipelajari dan dikembangkan secara bertahap melalui latihan, pengalaman, serta dukungan lingkungan yang positif.

Pentingnya keterampilan tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Attaufiqiyyah, Kabupaten Bogor, pada 10 Oktober 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Soft Skill dan Kepercayaan Diri sebagai Modal Menghadapi Tantangan Masa Depan.”

Melalui kegiatan ini, para santri diajak memahami bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui, tetapi juga oleh bagaimana pengetahuan tersebut digunakan, bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana ia menyikapi tantangan. Materi yang disampaikan meliputi perbedaan soft skill dan hard skill, komunikasi dan keberanian menyampaikan pendapat, kerja sama dan interaksi sosial, pengembangan kepercayaan diri, serta persiapan menghadapi tantangan masa depan.

Belajar Percaya Diri melalui Pengalaman Sederhana

Salah satu bagian menarik dalam kegiatan ini adalah sesi praktik membangun kepercayaan diri. Pada sesi tersebut, dua orang santri diminta memperkenalkan diri di hadapan audiens. Praktik sederhana ini memberikan kesempatan kepada santri untuk mencoba berbicara di depan orang lain, melatih keberanian, dan membiasakan diri tampil di hadapan audiens.

Latihan memperkenalkan diri mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi langkah awal yang bermakna dalam proses pengembangan diri. Melalui kegiatan tersebut, santri memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan materi yang telah disampaikan, bukan sekadar mendengarkannya. Pengalaman seperti ini juga dapat menjadi awal untuk melatih kemampuan berbicara, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi dengan orang lain.

Praktik tersebut bukan bertujuan membandingkan kemampuan antarsantri, melainkan memberikan ruang bagi setiap peserta untuk mencoba dan belajar. Keberanian untuk maju, menyebutkan nama, dan berbicara di hadapan orang lain merupakan bentuk kemajuan yang patut dihargai. Dengan suasana yang mendukung dan saling menghormati, proses belajar diharapkan menjadi lebih nyaman sehingga santri semakin berani mengembangkan potensinya.

Kepercayaan diri tidak harus muncul secara instan. Ada yang dapat berbicara dengan lancar sejak awal, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu dan kesempatan untuk berlatih. Hal yang terpenting bukanlah seberapa cepat seseorang mampu tampil percaya diri, melainkan kesediaannya untuk terus mencoba, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri.

Dokumentasi praktik membangun kepercayaan diri melalui kegiatan memperkenalkan diri oleh santri.

Soft Skill: Bekal Penting Menghadapi Tantangan Masa Depan

Soft skill merupakan keterampilan yang berkaitan dengan cara seseorang berkomunikasi, bekerja sama, mengelola diri, berpikir kreatif, mengambil keputusan, dan menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi. Keterampilan ini membantu seseorang membangun hubungan yang baik, menyelesaikan persoalan, dan bekerja bersama orang lain untuk mencapai tujuan.

Sementara itu, hard skill merupakan kemampuan teknis yang berkaitan dengan bidang atau pekerjaan tertentu. Contohnya adalah mengoperasikan komputer, menggunakan aplikasi, melakukan perhitungan, atau membuat desain. Kedua jenis keterampilan tersebut saling melengkapi. Pengetahuan dan kemampuan teknis akan semakin bermanfaat ketika didukung oleh kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Dalam kehidupan sehari-hari, soft skill dapat diterapkan melalui berbagai tindakan sederhana. Mendengarkan ketika orang lain berbicara merupakan bentuk komunikasi yang baik. Menyelesaikan tugas kelompok dengan membagi tanggung jawab secara adil menunjukkan kemampuan bekerja sama. Sementara itu, berani bertanya ketika belum memahami materi mencerminkan kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Bagi generasi muda, keterampilan tersebut penting untuk dipersiapkan sejak dini. Kemampuan akademik membantu seseorang memahami pengetahuan, sedangkan soft skill membantu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata. Dengan mengembangkan keduanya secara seimbang, generasi muda memiliki bekal yang lebih baik untuk menghadapi perubahan dan berbagai tantangan di masa mendatang.

Kepercayaan Diri Tumbuh dari Keberanian Mencoba

Kepercayaan diri merupakan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Percaya diri bukan berarti tidak pernah merasa takut, gugup, atau khawatir melakukan kesalahan. Sebaliknya, kepercayaan diri dapat mulai tumbuh ketika seseorang bersedia mengambil langkah meskipun masih merasa ragu.

Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kepercayaan diri, antara lain mengenali kelebihan diri, berani bertanya, menyampaikan pendapat dengan sopan, mencoba hal baru, dan berlatih secara bertahap. Pengalaman kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu seseorang menjadi lebih terbiasa menghadapi situasi yang sebelumnya terasa menantang.

Selain itu, generasi muda perlu memahami bahwa kesalahan bukanlah akhir dari proses belajar. Kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki. Menerima masukan, belajar dari pengalaman, dan mencoba kembali merupakan bagian penting dari pengembangan diri.

Setiap orang juga memiliki proses perkembangan yang berbeda. Karena itu, membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain dapat menghambat keberanian untuk mencoba. Akan lebih bermanfaat apabila seseorang berfokus pada kemajuan dirinya sendiri, sekecil apa pun langkah yang telah dicapai.

Kepercayaan diri yang sehat bukan berarti merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan mampu menghargai diri sendiri sekaligus tetap terbuka terhadap kritik dan pembelajaran. Dengan sikap tersebut, generasi muda dapat belajar menghadapi tantangan secara lebih positif dan bertanggung jawab.

Pengembangan soft skill dan kepercayaan diri tentu membutuhkan proses yang berkelanjutan. Materi yang disampaikan dalam satu kegiatan dapat menjadi awal, tetapi penguatan keterampilan tersebut perlu dilanjutkan melalui kebiasaan sehari-hari, kegiatan belajar, kerja kelompok, organisasi, dan berbagai kesempatan untuk mencoba hal baru.

Generasi muda tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mulai berkembang. Keberanian untuk bertanya, mencoba, menyampaikan pendapat, dan belajar dari kesalahan merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang. Dengan kemauan belajar, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan untuk berlatih, potensi diri dapat terus dikembangkan.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi masa depan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan tersebut, membangun hubungan dengan orang lain, dan menghadapi perubahan dengan sikap positif. Dengan memperkuat soft skill dan kepercayaan diri sejak dini, generasi muda diharapkan semakin siap mengenali potensinya, menghadapi tantangan, dan mengambil peran positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Menyiapkan Generasi Muda yang Lebih Siap Menghadapi Masa Depan

Kegiatan PKM di Pondok Pesantren Attaufiqiyyah menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam berbagi pengetahuan dan mendorong pengembangan keterampilan generasi muda. Melalui penyampaian materi dan praktik sederhana, kegiatan ini mengangkat pentingnya komunikasi, kerja sama, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari proses mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Dokumentasi penyerahan cenderamata oleh dosen pembimbing kepada guru pendamping Pondok Pesantren Attaufiqiyyah, Bogor.

Ditulis oleh:

Fani Yunisa, Lidya Eka Putri, dan Safira Muliana Sari

Mahasiswa Program Studi Manajemen

Universitas Pamulang