Konten dari Pengguna

Semester Demi Semester Bersama Pandemi

Fanny Aghnia

Fanny Aghnia

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi BINUS University

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fanny Aghnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Menjalani Semester Demi Sementer Bersama Pandemi (Source: Pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Menjalani Semester Demi Sementer Bersama Pandemi (Source: Pixabay.com)

Pandemi COVID-19 tampaknya sudah tidak menjadi topik baru lagi di kalangan masyarakat. Terhitung sejak bulan Maret 2020 lalu, Kemendikbud mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada seluruh lembaga pendidikan untuk menekan angka penyebaran COVID-19. Kebijakan tersebut mengharuskan konsep pembelajaran ini menggunakan berbagai platform online sebagai media pendukung agar pembelajaran tetap dapat berlangsung. Dalam hal ini, keberhasilan media pembelajaran tidak hanya dipandang dari segi konsep saja tetapi juga tergantung dengan karakteristik setiap individu.

Adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh mengantarkan mahasiswa pada tiap-tiap semester. Seperti pengalaman saya sebagai salah satu mahasiswa universitas swasta ternama di Jakarta. Kebijakan akibat pandemi ini dikeluarkan tepat pada saat saya duduk di semester dua. Menanggapi kebijakan tersebut tentunya pihak kampus dan mahasiswa harus beradaptasi dan membuat inovasi baru agar pembelajaran tetap dapat terlaksana.

Berbagai konsep baru diterapkan oleh pihak kampus agar mahasiswa dapat menerima materi dengan baik sama seperti saat kuliah tatap muka. Beberapa di antaranya yaitu pihak kampus menggunakan platform ZOOM Meeting untuk mendukung pembelajaran yang mana mahasiswa diwajibkan untuk log in menggunakan email kampus dan hadir tepat waktu agar terhitung absen, karena jika telat satu menit saja maka tidak akan mendapat absen. Meskipun online, peraturan ketat pun tetap berlaku di kampus saya agar mahasiswa dapat lebih aware dengan jadwal kuliahnya dan tidak menyepelekan.

Beradaptasi dengan konsep ini memang tidak mudah dan tidak dapat berlangsung dengan cepat. Namun, konsep ini sangat mempermudah saya yang lokasi rumahnya terbilang cukup jauh dengan lokasi kampus. Saat masih offline dulu, saya pulang pergi menggunakan angkutan umum dari Bekasi ke daerah Jakarta Selatan sehingga terbiasa berangkat setelah salat subuh, terlebih ketika ada jadwal kelas pagi yang membuat saya ketar-ketir karena khawatir terlambat masuk kelas. Kemacetan menjadi satu hal yang tidak bisa dipungkiri, apalagi jika tiba-tiba perut melilit karena sakit perut di pagi hari, hampir telat saat UAS karena hujan deras, bertemu Pak Darmawan si sopir angkot yang galak, satpam bank konvensional yang baik karena mengizinkan saya untuk menumpang toilet bank, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya terhenti karena pandemi sehingga muncul berbagai kebijakan yaitu PSBB, PPKM, dan kebijakan berlevel yang membuat mahasiswa akhirnya menikmati semester demi semester bersama pandemi.

Di mulai dari semester dua, pihak kampus pertama kali menggunakan platform Microsoft Teams untuk mendukung pembelajaran daring. Namun, tidak berlangsung lama kemudian beralih menggunakan platform Zoom Meeting yang dinilai lebih efisien dan efektif. Menjalani perkuliahan di masa pandemi, saya beradaptasi sekaligus mengamati hingga beberapa kali saya bertemu dengan hal-hal baru. Seperti dalam bentuk absensi yang biasanya hanya dengan tapping kartu tanda mahasiswa saat masuk kelas, namun saat awal pandemi mahasiswa harus menyimpan bukti screenshoot.

Selain itu, pihak kampus juga membuat kebijakan baru untuk menjalani ujian semester yaitu mahasiswa diberi waktu selama seminggu untuk mengerjakan satu mata kuliah. Mungkin hal ini terdengar mudah karena diberikan waktu yang cukup lama. Namun, pihak kampus sangat ketat dalam hal ini karena mahasiswa juga harus memberikan jawaban yang jelas dan sesuai mulai dari teori, study case, hingga referensi jawaban pun harus berasal dari sumber yang akurat. Begitu pun dengan deadline pengumpulan yang harus diperhatikan karena jika terlewat maka akan ada pengurangan nilai untuk mata kuliah tersebut. Kebijakan ini diberlakukan oleh pihak kampus sebagai bentuk adaptasi dan toleransi karena pembelajaran di masa pandemi tentunya tidak berlangsung mudah.

Di semester tiga, satu per satu kebijakan mulai terlihat relevan dengan kondisi saat ini. Hal kecilnya dapat dilihat dari bentuk absensi yang sudah tidak perlu di screenshoot tetapi akan otomatis terdeteksi saat masuk Zoom Meeting jika menggunakan email kampus. Semester ganjil ini terasa sangat cepat karena hari-harinya diisi dengan tugas yang menumpuk, presentasi materi demi materi, menjadi panitia OSPEK, hingga deadline tugas dan kegiatan yang memenuhi kalender. Jadwal yang sangat padat mengantarkan mahasiswa untuk mulai terbiasa dengan konsep daring. Jika ada tugas kelompok, kita tidak perlu susah-susah menentukan tempat untuk bertemu karena hanya dengan platform Google Meet pun kita bisa bertemu dan mengumpulkan ide bersama mengunakan aplikasi Padlet.

Di semester empat, pertama kali memasuki semester ini mahasiswa hanya berharap untuk bisa mendapat dosen yang tidak pelit nilai karena semakin naik semester, mata kuliah pun terasa semakin sulit. Tidak ada yang begitu berkesan di semester ini karena waktu benar-benar berjalan dengan cepat. Saat semester empat saya juga sedang aktif di organisasi dan kegiatan lainnya sehingga hari-harinya selalu diisi dengan video conference dari pagi hingga malam. Cukup melelahkan memang, namun siap tidak siap kita harus siap untuk survive dalam kondisi ini. Berkali-kali ingin mengeluh tetapi saya selalu ingat dengan kata-kata mutiara dari Imam Syafi’i yaitu,

Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.

-Imam Syafi'i

Memasuki semester lima, semester yang menegangkan katanya. Mahasiswa sudah semakin terbiasa dengan konsep daring sehingga sudah paham betul tentang cara menggunakan berbagai platform. Di semester ganjil ini kampus saya sudah memperbolehkan adanya pembelajaran onsite yaitu mahasiswa diperbolehkan untuk datang ke kampus dengan beberapa persyaratan seperti surat izin orang tua, surat vaksin, dan syarat lainnya. Adanya pembelajaran onsite ini ditunggu-tunggu oleh beberapa mahasiswa yang sudah bosan belajar secara online. Begitupun dengan beberapa kampus juga sudah membuka perkuliahan tatap muka namun tidak sepenuhnya sehingga jumlah mahasiswanya pun dibatasi. Namun, saya lebih memilih untuk tetap kuliah dengan konsep daring karena selain bisa multitasking sembari mengerjakan kegiatan lain, saya juga bisa menghemat waktu dan biaya untuk berangkat ke kampus.

Semester demi semester bersama pandemi, mengajarkan banyak hal untuk mahasiswa agar tidak berpangku tangan meski tertunda beberapa harapan. Tidak duduk merebah meski rasa enggan sulit dijajah. Kelas online, webinar, protokol kesehatan, akan menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa. Membawa laptop ke sana kemari, memastikan jaringan tidak hilang berganti, dan yang terpenting memastikan diri kuat menghadapi kondisi ini. Bertahan di masa pandemi dengan kondisi serba online memang tidak mudah apalagi hanya ditemani setumpuk tugas, proker organisasi, dan padatnya kegiatan kampus. Namun, pandemi sudah tidak bisa menjadi alasan untuk bermalas-malasan karena kita dituntut untuk hidup berdampingan. Bagaimana pun kondisinya, hidup harus terus berjalan dan semoga setiap semester bersama pandemi selalu memberikan harapan baru untuk terus melaju.

Fanny Aghnia, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi BINUS University, Jakarta.