OPINI - Online Marketing Sebagai Upaya Dalam Mempertahankan Penjualan

Mahasiswi Universitas Tanjungpura Pontianak
Tulisan dari Maulidia Yoga Irfanita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Virus Covid-19 yang mendunia ini bisa dibilang memang benar-benar menganggu kehidupan manusia. Kondisi ini juga hampir merubah seluruh tatanan sektor ekonomi dan bisnis. Covid-19 tampaknya juga merubah perilaku masyarakat dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Para pelaku usaha banyak yang merumahkan karyawannya. Tidak hanya merumahkan, bahkan ada juga yang hingga memberhentikan karyawannya karena adanya dampak pandemik, bahkan tidak sedikit pula pelaku usaha yang harus merelakan usahanya bangkrut karena Covid-19 ini. Karena pandemik ini pun pemerintah membuat kebijakan PSBB. Akibat dari kebijakan PSBB yang diterapkan pemerintah membatasi ruang gerak masyarakat, terlebih lagi untuk pelaku usaha, baik usaha skala besar ataupun hanya UMKM biasa.
Dimasa pandemik seperti sekarang para pelaku usaha atau UMKM harus memutar otak bagaimana agar usahanya bisa tetap berjalan. Terlebih lagi dimasa pendemi seperti ini pemberlakuan PSBB yang terapkan telah membuat ruang gerak masyarakat menjadi lebih sempit demi menjaga kesehatan diri dari masing-masing individu. Karena itu banyak masyarakat yang melakukan aktivitas melalui daring (online). Menurut jurnal yang di tulis oleh Nabila (2020) yang menyatakan bahwa :
"Sebagian pelaku usaha di sektor distribusi masih ada yang mencoba untuk terus bertahan dengan merubah sistem pemasaran produk-produknya dari sistem pemasaran langsung ke pemasaran online, di mana perilaku konsumen menjadi lebih konservatif dan berhati-hati dalam membeli berbagai produk untuk tujuan bertahan hidup."
Sebagai contoh menurut pengalaman dan pengamatan saya, salah satunya seperti restaurant Korea yang bernama Mukbang Korean Food yang berada di jalan Merdeka Kota Pontianak. Pada saat masa awal-awal pandemik berlangsung tidak ada tempat makan yang diperbolehkan untuk para pelaku usaha menyediakan meja kursi untuk konsumen makan agar bisa makan ditempat (diharuskan untuk di bungkus dan dibawa pulang), pemilik restaurant pun harus memutar otak agar bahan-bahan makanan yang telah di stok harus terjual. Akhirnya pemilik restaurant beralih untuk melakukan penjualan melalui online (via whatsapp dan direct message Instagram) dan merubah makanan-makanan yang dijualnya menjadi makanan yang berbentuk frozen food. Mengapa juga dirubah ke frozen food? Karena makanan-makanan Korea yang dijual oleh restaurant tersebut lebih enak dimakan selagi panas atau hangat, jadi karena makanan restaurant yang dijual saat pandemik berbentuk frozen food, konsumen yang membeli secara online bisa memasaknya lagi di rumah dan disantap selagi panas atau hangat seperti saat di makan di restaurantnya.
Dari beberapa referensi yang saya baca, untuk rekomendasi kedepannya bagi pelaku usaha atau produsen barang ataupun jasa, karena sejak pandemik ini terjadi, masyarakat sekarang sudah lebih selektif dalam berbelanja untuk menjaga kesehatan diri. Alangkah lebih baik untuk para pelaku usaha tetap menjaga kebersihan produk agar produk tetap diminati masyarakat. Dan pelaku usaha atau produsen harus segera bergerak cepat untuk berinovasi dalam membentuk platform bisnis serba online, mulai dari promosi, pemesanan, pengantaran yang semua hal itu dilakukan dengan melalui proses online. Apalagi untuk pelaku usaha kecil, bisa memanfaatkan E-Commerce untuk lapak penjualan di media online, sehingga kekuatiran pelaku usaha sedikit bisa lebih rendah atau lebih tenang akan dampak pada kunjungan dan pemesanan dari konsumen pada saat pandemik Covid-19 ini.
Ditulis oleh : Maulidia Yoga Irfanita, S.M
Status Penulis : Mahasiswi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Pontianak.
