Konten dari Pengguna

128 Tahun Lagi Baru Sejajar Negara Maju? 500 Sekolah Terintegrasi Jadi Taruhan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat dipetik seketika. Namun, tatkala kualitas pendidikan mengalami kemandegan, dampak yang paling cepat dan nyata menghantam sektor perekonomian: produktivitas tenaga kerja melambat, daya saing industri merosot, dan mesin pertumbuhan ekonomi kehilangan momentum akselerasinya.

Laporan RISE Programme melalui penelitian Lant Pritchett (2016) memberikan sinyal peringatan keras. Studi tersebut memproyeksikan Indonesia membutuhkan waktu hingga 128 tahun untuk menyamai kemampuan keterampilan orang dewasa di negara-negara maju.

Meskipun temuan RISE dipublikasikan satu dekade lalu, substansinya masih sangat relevan. Hasil asesmen internasional  PISA oleh OECD (2023) mengonfirmasi bahwa skor literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

Merespons krisis mutu ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Targetnya pembangunan 500 unit SNT hingga 2029, dengan 37 lokasi mulai disiapkan pada 2026 dan 17 lokasi dijadwalkan beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027. SNT dirancang sebagai pusat pengimbasan mutu bagi sekolah di sekitarnya melalui pengembangan kapasitas guru, penguatan laboratorium pembelajaran, dan jejaring kolaborasi.

“Sebanyak 17 SNT tersebut akan berlokasi di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur”, ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti (antaranews, 20/7/2026)

Transisi dari 'Schooling' ke 'Learning'

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, kebijakan ini patut diapresiasi. Pendidikan berkualitas merupakan pilar pembentukan modal manusia (human capital). Begawan ekonomi Gary Becker (1993) menegaskan bahwa investasi pendidikan secara langsung meningkatkan produktivitas individu, yang selanjutnya menggerakkan pertumbuhan ekonomi makro.

Perspektif global ini berkelindan dengan pandangan Emil Salim (2018), yang menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan Indonesia sangat bergantung pada kualitas manusia, bukan sekadar melimpahnya sumber daya alam. Di era knowledge-based economy, keunggulan komparatif bangsa ditentukan oleh value added dari kapasitas intelektual masyarakatnya.

Analisis tersebut diperkuat oleh ekonom Eric Hanushek dan Ludger Woessmann (2020), yang membuktikan secara empiris bahwa kualitas pembelajaran berpengaruh jauh lebih dominan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan dengan sekadar durasi atau angka partisipasi sekolah. Hal ini sejalan dengan penegasan Boediono (2016); bahwa kunci keberhasilan transformasi ekonomi nasional dari low-income menuju high-income nation terletak pada pembenahan kelembagaan dan peningkatan mutu SDM secara konsisten.

SNT menandai pergeseran paradigma pembangunan pendidikan nasional: dari sekadar schooling (mengejar angka kehadiran) menuju learning (memastikan capaian pembelajaran). Pergeseran ini mendesak diterapkan guna mengatasi ancaman learning poverty atau kemiskinan belajar, sebuah fenomena yang diingatkan oleh Bank Dunia (2018) ketika anak-anak bersekolah tetapi tidak menguasai kemampuan dasar membaca serta memahami informasi sesuai usianya.

Namun, dalam kerangka manajemen strategis, pembangunan infrastruktur SNT barulah langkah awal. Fred R. David (2020) menggarisbawahi bahwa keberhasilan strategi sangat bergantung pada konsistensi eksekusi dan evaluasi yang terukur. Keberhasilan SNT tidak boleh diukur dari deretan gedung megah atau daya tampung siswa semata, melainkan dari peningkatan skor literasi-numerasi, nalar kritis siswa, kompetensi pendidik, serta perluasan jejaring sekolah penerima manfaat. SNT harus menjadi pusat transformasi mutu, bukan sekadar pusat prestise.

Dampak Multiplier dan 'Strategic Leverage'

Secara makro, keberhasilan SNT akan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian. Sebagaimana diperingatkan Bambang Brodjonegoro (2021); Indonesia harus menghindari jebakan middle-income trap dengan cara menaikkan batas produktivitas angkatan kerja. Tanpa intervensi pada kualitas lulusan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru bisa berubah menjadi demographic burden.

Lulusan SNT yang berdaya saing akan lebih adaptif terhadap disrupsi teknologi, produktif di pasar kerja, serta inovatif dalam berwirausaha. SDM berkualitas inilah yang menjadi daya tarik investasi, memicu pertumbuhan industri daerah, dan membuka lapangan kerja baru.

Model SNT yang berfungsi sebagai pusat pendampingan dan fasilitas bersama bagi sekolah sekitar menerapkan prinsip strategic leverage. Dalam manajemen strategis, pendekatan ini memanfaatkan satu titik investasi untuk menghasilkan dampak luas melampaui sasaran langsungnya. Jika satu unit SNT sanggup mengimbaskan mutu ke puluhan sekolah sekitarnya, maka efisiensi anggaran dan percepatan kualitas dapat dicapai secara eksponensial.

Proyeksi 128 tahun dari studi Pritchett (2016) menyadarkan kita bahwa Indonesia membutuhkan lompatan strategi, bukan sekadar perbaikan bertahap. Program SNT merupakan pijakan krusial untuk memangkas jarak ketertinggalan tersebut. Apabila SNT dikelola secara konsisten melalui sinergi kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, maka program ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh menuju satu abad Indonesia 2045.