Konten dari Pengguna

AUM Jangan Jalan Sendiri: Mengubah Silaturahmi Menjadi Strategi Sinergi Nyata

Faozan Amar

Faozan Amar

Mengajar, berbisnis, berorganisasi, dan kadang menulis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi PP Muhammadiyah. Foto: ICT Kurikulum/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi PP Muhammadiyah. Foto: ICT Kurikulum/Shutterstock

Idul fitri selalu meninggalkan jejak yang sama: gema takbir, tumpukan piring jamuan, dan ritual silaturahmi. Bagi warga Muhammadiyah, momen ini adalah ajang memperkuat kohesi sosial. Namun, ada pertanyaan besar yang sering terlewat: Apakah silaturahmi kita hanya berhenti sebagai seremoni tahunan, atau sudah bertransformasi menjadi kekuatan perubahan yang sistematis?

Dalam Islam, silaturahmi bukan sekadar etika sosial, melainkan mandat teologis. Al-Quran dalam QS. An-Nisa ayat 1 memberikan peringatan eksplisit agar kita bertakwa kepada Allah dan menjaga hubungan kekeluargaan (silaturahmi).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW meletakkan dimensi produktivitas yang sangat modern dalam aktivitas ini: "Barang siapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam bahasa manajemen, "rezeki" dan "umur" bisa diterjemahkan sebagai akses sumber daya (resource accessibility) dan keberlanjutan organisasi (organizational sustainability).

Jebakan "Pulau Terpencil" di Tubuh AUM

Secara sosiologis, silaturahmi adalah social capital. Robert D. Putnam (2000) dalam Bowling Alone mengingatkan bahwa kepercayaan (trust) dan jaringan (networks) adalah bahan bakar kemajuan. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengubah modal sosial yang cair ini menjadi kekuatan kolektif yang terorganisir.

Kita kini berada di era "Disrupsi Ganda", digitalisasi masif dan perubahan perilaku pasar. Data Bank Indonesia (2025) menunjukkan transaksi ekonomi digital tumbuh signifikan, sementara laporan World Bank (2023) mencatat daya saing SDM kita masih perlu kerja keras.

Di tengah badai ini, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menghadapi tantangan eksistensial. Sejak dirintis KH. Ahmad Dahlan, AUM adalah instrumen dakwah dan tajdid (pembaharuan). Haedar Nashir (2015) menegaskan bahwa AUM harus mengintegrasikan nilai Islam dengan solusi sosial.

Sayangnya, realitas di lapangan sering kali menunjukkan fenomena "pulau-pulau terpencil". Sekolah fokus pada urusan internalnya, rumah sakit asyik dengan targetnya, dan panti asuhan berjuang sendirian.

Mancur Olson (1965) dalam The Logic of Collective Action memperingatkan: tanpa koordinasi yang kuat, unit dalam organisasi besar cenderung terjebak pada kepentingan terbatasnya sendiri. Tanpa sinergi, potensi raksasa Muhammadiyah hanya akan terfragmentasi menjadi unit-unit yang sibuk namun minim dampak sistemik.

Padahal, Allah SWT sangat mencintai gerakan yang rapi: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh" (QS. As-Saff ayat 4). Kata kuncinya adalah "barisan yang teratur", bukan sekadar kerumunan massa yang berjalan masing-masing.

Menaikkan Kelas Silaturahmi

Agar tidak sekadar jadi jargon, silaturahmi harus "naik kelas" menjadi strategi kolaborasi yang konkret. Ada empat langkah konkret yang bisa diambil untuk mewujudkannya: Pertama, Membangun Ekosistem Terintegrasi.

James F. Moore (1993) dalam konsep Business Ecosystem Thinking menekankan bahwa keberhasilan sebuah unit bergantung pada kesehatan ekosistem di sekelilingnya. AUM harus saling "belanja" dan saling dukung. Ini selaras dengan hadis Nabi: "Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Diferensiasi Layanan. Michael E. Porter (1985) menekankan pentingnya nilai unik. Setiap AUM harus punya keunggulan spesifik agar relevan dengan kebutuhan publik, namun tetap terhubung dalam satu rantai nilai (value chain).

Ketiga, Transformasi Digital dan Tata Kelola. Peter F. Drucker (1999) mengingatkan bahwa organisasi efektif adalah yang fokus pada dampak. Pengelolaan AUM yang profesional dan transparan adalah manifestasi dari perintah tolong-menolong dalam kebajikan (QS. Al-Ma'idah ayat 2).

Keempat, Keselarasan Visi. Robert S. Kaplan dan David P. Norton (1996) menekankan pentingnya alignment. Tanpa keselarasan antara pimpinan pusat dengan eksekusi di level unit terkecil, AUM akan mudah kehilangan arah.

Satu Visi, Satu Gerak

Pada akhirnya, kekuatan Muhammadiyah tidak terletak pada berapa banyak gedung yang dimiliki, melainkan pada seberapa kuat keterhubungan antar-elemennya. Kita harus merenungkan kembali pesan dalam QS. Ali Imran ayat 103 untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.

Silaturahmi tahun ini harus menjadi titik balik. Tidak boleh ada lagi AUM yang merasa bisa "jalan sendiri". Silaturahmi harus bertransformasi menjadi sinergi strategis. Dari sekadar bersalaman menjadi bekerja bersama; dari sekadar relasi menjadi kekuatan dakwah yang menggetarkan.

Sebab, hanya dengan berjalan dalam barisan yang kokoh, kita mampu menghadirkan kemaslahatan yang nyata bagi umat dan semesta. (Disampaikan pada Silaturahmi Idul Fitri 1447 H Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tonjong Brebes, 22 Maret 2026).