Konten dari Pengguna

Di Tengah Bisingnya Krisis Global, Mengapa Kita Perlu I’tikaf?

Faozan Amar

Faozan Amar

Mengajar, berbisnis, berorganisasi, dan kadang menulis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Itikaf Ramadhan Foto: ANTARAFOTO/Risyal Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Itikaf Ramadhan Foto: ANTARAFOTO/Risyal Hidayat

Dunia hari ini terasa semakin bising. Setiap hari kita dibanjiri kabar tentang konflik geopolitik, lonjakan harga energi, hingga ketidakpastian ekonomi global. Laporan World Economic Outlook IMF (2024) bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya berada di kisaran 3,2 persen.

Di tengah arus informasi yang terus mengalir itu, manusia modern sering bereaksi dengan cara yang sama: bekerja lebih keras, memantau berita lebih sering, dan terus memikirkan kemungkinan terburuk.

Namun, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin sulit pula kita untuk berpikir jernih. Di titik inilah Islam menawarkan praktik spiritual yang menarik untuk direnungkan kembali: i’tikaf.

Selama ini i’tikaf sering dipahami sekadar ritual Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, dengan berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah. Padahal jika dipahami lebih mendalam, i’tikaf memiliki dimensi yang jauh melampaui ritual personal. Ia menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana manusia mengelola ketenangan batin di tengah ketidakpastian dunia.

Sunyi yang Menghidupkan Kejernihan

Dalam tradisi keilmuan Islam, i’tikaf bukan sekadar berdiam diri tanpa tujuan. Ulama seperti Sayyid Sabiq (1983) menjelaskan bahwa i’tikaf adalah upaya sadar untuk memutus sementara kesibukan duniawi agar manusia dapat fokus sepenuhnya kepada Allah. Ia menjadi jeda dari kehidupan yang serba transaksional menuju ruang spiritual yang lebih dalam.

Imam Nawawi (1995) menekankan bahwa i’tikaf membutuhkan disiplin niat dan kesungguhan. Sementara Wahbah Az-Zuhaili (2007) menggambarkannya sebagai “penjara suci”, yaitu ruang di mana seseorang secara sukarela membatasi dirinya dari hiruk pikuk dunia untuk mencapai kejernihan batin.

Jika diterjemahkan dalam bahasa kehidupan modern, i’tikaf adalah keberanian untuk mematikan “notifikasi dunia” sejenak. Kita berhenti dari kebisingan informasi yang menyesakkan, menjauh dari tekanan sosial, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas kembali.

Menariknya, gagasan ini juga dikenal dalam dunia manajemen strategis. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, yang disebut para pakar sebagai environmental uncertainty, para pemimpin tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga ruang refleksi.

Michael E. Porter (1980) memang menekankan pentingnya analisis persaingan dan struktur industri. Namun Henry Mintzberg (1994) mengingatkan bahwa strategi terbaik sering kali lahir bukan dari perencanaan yang kaku, melainkan dari refleksi dan pembelajaran yang mendalam.

Peter F. Drucker (2007) bahkan menegaskan bahwa efektivitas seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kemampuannya menyediakan waktu untuk berpikir secara mendalam (deep thinking). Tanpa ruang refleksi, keputusan mudah berubah menjadi reaksi spontan yang didorong oleh rasa takut.

Dalam konteks inilah i’tikaf dapat dipahami sebagai bentuk strategic retreat—sebuah ruang jeda untuk berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan penting.

Fondasi Ketahanan di Tengah Krisis

Umat muslim berdoa dan membaca Al Quran saat melaksanakan itikaf Bulan Ramadhan di Masjid Pusdai, Bandung, Jawa Barat, Senin (3/5/2021). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO

Setidaknya ada tiga pelajaran penting dari i’tikaf yang relevan dalam menghadapi gejolak ekonomi. Pertama, membangun ketangguhan mental. Dalam krisis ekonomi, musuh terbesar sering kali bukan inflasi atau pelemahan nilai tukar, melainkan kepanikan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa “hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenteraman inilah yang membuat seseorang tetap rasional di tengah tekanan.

Kedua, i’tikaf menjadi momen reorientasi nilai. Ia mengajak manusia kembali bertanya: untuk apa kita bekerja dan mengejar materi? Jika orientasi ekonomi hanya keuntungan semata, krisis mudah mendorong seseorang mengambil jalan pintas yang tidak etis.

Namun ketika orientasi hidup berakar pada nilai spiritual, tekanan ekonomi tidak akan mudah menggoyahkan integritas. Ketiga, i’tikaf membantu melahirkan kejernihan strategi. Dalam kesunyian, seseorang lebih mudah melihat persoalan secara utuh tanpa distorsi emosi.

Bayangkan seorang pelaku usaha yang menghadapi lonjakan harga bahan baku impor akibat pelemahan rupiah. Dalam kondisi panik, ia mungkin langsung mengambil keputusan ekstrem seperti memecat karyawan atau menaikkan harga secara drastis.

Namun ketika pikiran jernih, pilihan yang muncul bisa berbeda. Ia mungkin menemukan cara melakukan efisiensi energi produksi, mencari bahan baku lokal sebagai alternatif, atau melakukan renegosiasi kontrak dengan pemasok. Keputusan tersebut lahir bukan dari ketakutan, melainkan dari pertimbangan yang matang.

Menepi untuk Melangkah Lebih Jauh

Gejolak ekonomi global memang tidak bisa dihindari. Dunia selalu bergerak dalam siklus ketidakpastian. Namun integrasi antara nilai spiritual dan manajemen strategis memberikan cara pandang yang lebih utuh dalam menghadapinya.

I’tikaf tidak lagi sekadar ritual tahunan yang dilakukan pada akhir Ramadan. Ia juga dapat menjadi sarana upgrading diri untuk memperkuat kualitas kepemimpinan—baik dalam keluarga, organisasi, maupun kehidupan sosial.

Dalam kesunyian i’tikaf, manusia belajar menata kembali hati dan pikirannya. Dari sana lahir ketenangan, ketangguhan, dan kejernihan strategi. Sejarah menunjukkan bahwa di tengah badai sebesar apa pun, kapal biasanya selamat bukan karena lautnya menjadi tenang, tetapi karena kaptennya mampu tetap tenang.

Mungkin, di tengah dunia yang terlalu bising hari ini, kita memang perlu belajar satu hal sederhana: sesekali menepi.