Kerja Keras di Balik Kenaikan Skor PISA

Mengajar, berbisnis, berorganisasi, dan kadang menulis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak bisa dipetik dalam hitungan hari. Namun, ketika sinyal peringatan berbunyi dari pucuk pimpinan tertinggi negara, koordinasi kebijakan publik dituntut untuk bergerak cepat, responsif, dan terukur.
Masih teringat jelas ketika Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyoroti skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia dalam taklimat bersama 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan pada 6 Agustus 2026.
Presiden Prabowo mengungkapkan keprihatinannya atas capaian literasi, sains, dan matematika anak-anak bangsa yang masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga di ASEAN, apalagi jika disandingkan dengan rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Dalam forum tersebut, Presiden secara lugas mengkritik perbandingan antar nilai yang dinilainya kurang adil jika menyamakan beban logistik pendidikan Indonesia dengan negara kota seperti Singapura yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa dan sekolahnya bisa dikelilingi dalam waktu 2 jam.
Dengan lebih dari 388.000 sekolah yang tersebar di pulau-pulau terluar hingga pegunungan, rumitnya tata kelola logistik Indonesia adalah realitas empiris. Namun, Presiden menegaskan bahwa kompleksitas geografis bukan alasan untuk pasrah. Teguran itu adalah alarm koreksi kebijakan.
Teguran langsung dari Istana ini direspons cepat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kerja keras, kepemimpinan yang inklusif, serta konsolidasi masif jajaran Kemendikdasmen di bawah arahan Menteri Abdul Mu'ti membuahkan hasil berharga ketika laporan resmi PISA 2025 rilis pada 8 September 2026.
Uraian Hasil PISA Indonesia 2025
Kerja keras jajaran Kemendikdasmen terpotret nyata dari naiknya performa dua aspek utama. Pada aspek Sains, Indonesia berhasil mengumpulkan nilai 389 poin, meningkat 6 poin dibandingkan capaian tahun 2022 yang sebesar 383 poin. Hasil ini menempatkan Indonesia di peringkat 73 dari 91 negara peserta.
Pada aspek Membaca, skor Indonesia juga mencatatkan tren positif dengan naik 6 poin, bergerak dari 359 poin di tahun 2022 menjadi 365 poin pada PISA 2025. Dengan raihan tersebut, posisi literasi membaca Indonesia kini berada di peringkat 74 dari 90 negara.
Sementara itu, catatan evaluasi ada pada aspek Matematika yang mengalami sedikit koreksi 2 poin, yaitu dari 366 poin pada tahun 2022 menjadi 364 poin pada 2025, yang menempatkan Indonesia di peringkat 78 dari 90 negara.
Secara global, kenaikan skor sains dan membaca Indonesia ini patut mendapat apresiasi tinggi. Di saat banyak negara OECD justru mengalami penurunan rata-rata akibat dampak disrupsi pemulihan pascapandemi (matematika turun 9 poin, membaca turun 14 poin), Indonesia justru membalikkan arah tren di dua indikator vital tersebut.
Pencapaian paling monumental dari sisi kebijakan publik Kemendikdasmen adalah melesatnya Coverage Index dari 0,46 menjadi 0,90. Artinya, sistem pendidikan nasional kini telah berhasil menjamin aksesibilitas 90% anak usia 15 tahun untuk mengenyam pendidikan formal.
Perspektif Analisis Kebijakan Publik
Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Merilee S. Grindle (1980), menegaskan bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya ditentukan oleh policy content (desain rancangan), tetapi sangat bergantung pada context of implementation (proses eksekusi di lapangan).
Koreksi 2 poin pada aspek matematika menjadi konfirmasi atas catatan Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) bahwa siswa kita masih kesulitan menerapkan penalaran dasar dalam situasi kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan inklusi akses yang sukses digenjot Kemendikdasmen harus diimbangi dengan akselerasi mutu pembelajaran (quality-oriented reform).
Menjawab tantangan tersebut, Kemendikdasmen mengonsolidasikan empat pilar intervensi strategis: Pertama, Penguatan Kompetensi Guru. Akselerasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dibarengi pelatihan literasi digital, coding, dan kecerdasan artifisial (AI) melalui platform Perangkat Ajar Ruang GTK.
Kedua, Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Penerapan metode deep learning untuk mengasah berpikir kritis serta digitalisasi akses melalui platform Ruang Murid. Ketiga, Harmonisasi Asesmen Nasional. Mengintegrasikan kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan standar bernalar tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS) ala PISA lewat Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik).
Keempat, Penguatan Peran Keluarga. Mengaktifkan ekosistem pengasuhan rumah melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).
Kebijakan publik yang tangguh adalah kebijakan yang berani mengakui kekurangan tanpa kehilangan rasa optimisme. Kenaikan skor PISA 2025 pada aspek sains dan membaca membuktikan bahwa dedikasi Kemendikdasmen dan mesin reformasi pendidikan Indonesia berada di jalur yang benar.
Kini, tugas bersama pemerintah dan masyarakat adalah mengawal agar empat pilar intervensi ini mengejawantah di tiap ruang kelas, termasuk di seluruh pelosok terdepan nusantara, demi melahirkan generasi emas yang bernalar kritis dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045. Semoga.
