Konten dari Pengguna

Merawat Asa Kelas Menengah, Menjaga THR Tak Sekadar Menumpang Lewat

Faozan Amar

Faozan Amar

Mengajar, berbisnis, berorganisasi, dan kadang menulis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi THR. Foto: jamaludinyusuppp/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi THR. Foto: jamaludinyusuppp/Shutterstock

Gema takbir Idul Fitri 1447 H mulai lamat-lamat terdengar, membawa getaran kedamaian ke dalam relung hati setiap Muslim. Bagi jutaan pekerja di Indonesia, momen ini bukan sekadar ritual spiritual untuk kembali ke fitrah, melainkan juga "ritual finansial" yang paling dinanti: cairnya Tunjangan Hari Raya (THR).

Namun, ada yang terasa berbeda pada Lebaran 2026 ini. Di balik keriuhan pusat perbelanjaan dan hangatnya antrean tiket mudik dan ramainya arus jalur mudik terselip kecemasan mendalam tentang fenomena “Makan Tabungan” (Mantab) yang kini nyata menjerat kelas menengah kita.

Terjepit di Antara Keinginan dan Kenyataan

Angka-angka ekonomi di pertengahan Maret 2026 ini memberikan peringatan yang cukup serius. Inflasi pangan yang melonjak hingga 4,76% (yoy) telah menjelma menjadi tantangan besar bagi daya beli masyarakat. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, pada 16 Maret 2026, memproyeksikan tekanan inflasi jelang Lebaran bahkan bisa menembus angka 5,4%.

Kenaikan harga sembako seperti beras, telur, hingga daging bukan lagi sekadar deretan statistik di atas kertas BPS, melainkan jeritan riil di meja makan keluarga. Kondisi ini kian diperparah oleh posisi Rupiah yang masih tertatih akibat sentimen global, yang berdampak pada naiknya biaya logistik. THR yang baru saja masuk di rekening seolah hanya "numpang lewat" untuk menutup lubang defisit kebutuhan pokok yang telah menganga sejak awal tahun.

Memahami Luka Ekonomi "Si Anak Tiri"

Ilustrasi Tabungan atau Menabung. Foto: Shutterstock

Fenomena "Makan Tabungan" bukanlah sekadar tren di media sosial, melainkan alarm bagi stabilitas ekonomi nasional. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan tabungan nasabah di bawah Rp100 juta hanya sebesar 3,43%. Ini menjadi indikasi kuat bahwa kelas menengah mulai menguras simpanan mereka demi menjaga dapur tetap mengepul.

Ada luka ekonomi yang perlu kita pahami bersama. Pertama, adanya stagnasi pendapatan di tengah inflasi yang agresif. Kedua, beratnya beban sandwich generation yang harus membiayai anak sekaligus orang tua tanpa jaring pengaman sosial yang memadai. Ketiga, lonjakan biaya cicilan akibat suku bunga tinggi.

Ekonom Senior Chatib Basri jauh-jauh hari telah mengingatkan soal middle class squeeze. Kelompok ini sering kali menjadi "anak tiri"; mereka tidak tersentuh bantalan sosial (bansos) pemerintah, namun pendapatan mereka tergerus habis oleh kenaikan biaya hidup. Beban ini akan semakin sekarat jika kebijakan kenaikan BBM tetap dipaksakan di tengah situasi yang sulit.

Strategi "Benteng Finansial": Mengelola Berkah dengan Bijak

Tenaga Pakar Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, mengestimasi perputaran uang mudik tahun ini mencapai Rp350 triliun. Agar kita tidak sekadar menjadi "donatur" di tengah pusaran uang tersebut, diperlukan manajemen strategi yang presisi dan penuh kesadaran:

Pertama, re-alokasi bijak (40-30-20-10): Prioritaskan 40% untuk kebutuhan Lebaran, 30% untuk pelunasan utang berbunga tinggi, 20% untuk memulihkan dana darurat, dan 10% untuk berbagi secara sosial. Kedua, subtitution and switching: Jadilah konsumen cerdas dengan beralih ke produk alternatif saat harga komoditas utama melonjak. Manfaatkan program "Gerakan Pangan Murah" yang digagas pemerintah.

Ketiga, digital auditing: Hentikan "kebocoran halus" dari langganan aplikasi digital atau biaya admin yang tidak esensial. Kecil di mata, namun besar dampaknya bagi saldo tabungan.

Seruan untuk Pemerintah dan Pelaku Bisnis

Ilustrasi THR. Foto: Arif Budi C/Shutterstock

Menyelamatkan kelas menengah adalah ikhtiar menyelamatkan tulang punggung ekonomi bangsa. Ada beberapa seruan untuk pemerintah dan pelaku bisnis. Pertama, adanya perluasan jaring pengaman sosial yang juga menyasar kelas menengah melalui insentif pajak atau subsidi energi tepat sasaran.

Mendorong perbankan untuk memberikan restrukturisasi cicilan yang lebih ringan sangatlah krusial. Selain itu, intervensi pasar harus dilakukan secara agresif guna memastikan stok pangan aman hingga H+7 Lebaran untuk meredam spekulan.

Kedua, inovasi produk dengan skema value for money adalah kunci. Tawarkan paket ekonomis dan program loyalitas yang humanis untuk menjaga retensi pelanggan. Efisiensi rantai pasok harus diupayakan agar harga di tingkat konsumen tetap kompetitif meski biaya operasional meningkat.

Merayakan Kemenangan dengan Martabat

Lebaran adalah hari kemenangan. Namun, jangan sampai kemenangan spiritual itu harus dibayar dengan kebangkrutan pribadi. Fenomena "Makan Tabungan" adalah pengingat bahwa ketahanan ekonomi kita sedang diuji.

Tanpa sinergi antara kebijakan pemerintah yang suportif, strategi bisnis yang adaptif, serta disiplin diri dalam mengelola keuangan, THR hanya akan menjadi penawar rindu sesaat. Mari kita rayakan hari kemenangan ini dengan perencanaan yang matang, agar fitrah yang kita raih selaras dengan kesejahteraan yang terjaga. Selamat merayakan Idulfitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.