Tiga “Pendekar” Alumni IMM: Talenta untuk Negeri

Mengajar, berbisnis, berorganisasi, dan kadang menulis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga Pendekar dari Chicago adalah julukan ikonik yang dipopulerkan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam tulisannya yang dimuat majalah Tempo edisi 30 Juni 1984. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan pemikiran reformis tiga tokoh besar alumni University of Chicago: Nurcholish Madjid (Cak Nur), M. Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii).
Tentu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyandingkan tiga alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dengan tokoh-tokoh bangsa tersebut. Istilah "pendekar" di sini dipinjam sebagai apresiasi atas dedikasi tiga kader yang kini mengabdi di ruang kebangsaan.
Saya mengenal Pramono Ubaid Tanthowi, Yusuf Warsyim, dan Fikri Yasin sejak bersama-sama aktif di DPP IMM periode 1999-2001 hasil Muktamar Luar Biasa (MLB) di Jakarta. Lebih dari dua dekade kemudian, ketiganya mengemban amanah strategis di lembaga negara: Pramono sebagai Komisioner Komnas HAM, Yusuf sebagai Komisioner Kompolnas, dan Fikri sebagai Anggota Ombudsman RI.
Sekarang ketiganya juga aktif di Forum Keluarga Alumni (Fokal) IMM. Bahkan setiap bulan, kami bertemu dalam wadah arisan dari rumah ke rumah aktifis DPP IMM hasil MLB, sehingga makin akrab saja, termasuk dengan anggota keluarganya.
Perjalanan mereka bukan sekadar soal pencapaian jabatan, melainkan potret keberhasilan manajemen sumber daya manusia (SDM) dan talent management berbasis organisasi kader, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. IMM didoktrin tidak hanya sebagai kader Persyarikatan Muhammadiyah dan kader Umat Islam tetapi juga kader Bangsa.
Kaderisasi sebagai Investasi Human Capital
Dalam ilmu manajemen modern, manusia bukan lagi dipandang sekadar tenaga kerja, melainkan human capital. Pakar ekonomi pemenang Nobel, Gary Becker (1964), menegaskan bahwa pendidikan, keterampilan, dan pengalaman organisasi adalah bentuk investasi yang secara langsung meningkatkan kapasitas serta produktivitas seseorang.
IMM dalam konteks ini berfungsi sebagai laboratorium human capital. Aktivitas organisasi melatih kader mengelola program, menyelesaikan konflik, membangun jejaring, hingga mengambil keputusan publik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Relevansi kawah candradimuka ini kian terbukti. Laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum (WEF, 2025) mencatat bahwa analytical thinking, ketangguhan (resilience), fleksibilitas, serta kepemimpinan dan pengaruh sosial merupakan kompetensi inti yang paling dibutuhkan.
Bahkan, 63 persen perusahaan global menyebut kesenjangan keterampilan (skill gap) sebagai hambatan utama transformasi. Organisasi yang mampu mencetak kader dengan kombinasi kemampuan teknis dan sosial-emosional sejatinya sedang menanam investasi talenta masa depan.
Kiprah tiga alumni hasil MLB IMM ini menunjukkan buah dari investasi tersebut: Pertama, Pramono Ubaid Tanthowi bertugas sebagai Koordinator Subkomisi Penegakan HAM dan Komisioner Mediasi Komnas HAM. Ia konsisten mengawal perlindungan pembela HAM dan mitigasi konflik kepentingan nasional. Sebelumnya menjadi Ketua Bawaslu Banten, dan anggota KPU RI.
Kedua, Yusuf Warsyim mengawal reformasi kelembagaan Polri sebagai Komisioner Kompolnas (2026), untuk periode kedua. Melalui Kompolnas Award, ia turun langsung memastikan pelayanan publik kepolisian dirasakan masyarakat di pelosok daerah. Karenanya, ia sering tampil di media, utamanya saat ada isu-isu aktual terkait dengan Polri.
Ketiga, Fikri Yasin mengemban amanah sebagai Anggota Ombudsman RI (2026). Ia aktif melakukan pengawasan langsung ke lapangan, seperti inspeksi mendadak di lembaga pemasyarakatan guna menjamin tata kelola yang bersih. Namanya dalam hari-hari terakhir ini trending di media karena keberaniannya dalam melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Lapas Cibinong.
Di samping ketiga nama tersebut, tentu ada nama-nama lain alumni IMM yang sekarang berkiprah di wilayah kebangsaan dan menjadi kebanggaan kader, seperti Prof. Abdul Mu’ti yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dari Manajemen Talenta Menjadi Reputasi Organisasi.
Dalam perspektif talent management yang digagas David Ulrich (2020), organisasi yang matang tidak hanya bertugas menjaring orang-orang terbaik, melainkan mengorientasikan talenta agar kompetensinya menghasilkan dampak riil bagi masyarakat luas.
Kompetensi ini krusial mengingat tantangan pelayanan publik Indonesia yang sangat besar. Laporan Tahunan Ombudsman RI (2025) merekam sebanyak 23.596 laporan masyarakat yang masuk, dengan potensi kerugian masyarakat yang berhasil diselamatkan mencapai Rp130,26 miliar. Angka ini menegaskan bahwa lembaga pengawas negara membutuhkan SDM berkwalitas yang tidak hanya cerdas secara analitis, tetapi juga memiliki integritas serta keberanian moral.
Ketika alumni IMM bekerja secara profesional, objektif, dan berintegritas di lembaga negara, masyarakat tidak hanya melihat kapasitas personal mereka. Secara tidak langsung, kinerja tersebut membentuk reputasi dan persepsi publik terhadap kualitas kaderisasi persyarikatan yang telah membentuk mereka.
Ke depan, tantangan bagi Fokal IMM adalah mengonsolidasikan akses dan jejaring alumni menjadi knowledge network, sebuah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan jaringan, mentoring kader muda, serta kolaborasi strategis untuk menjawab persoalan bangsa.
Sebab, ukuran keberhasilan kaderisasi bukan dihitung dari berapa banyak kader yang pernah duduk di struktur kepengurusan. Ukuran yang sejati adalah seberapa banyak alumni yang mampu hadir menjadi pemimpin berintegritas dan memberi solusi nyata di ruang publik. Dari ruang kaderisasi IMM, talenta itu telah tumbuh menjadi energi pengabdian untuk Indonesia.
