Konten dari Pengguna

Arang Briket Tongkol Jagung: Inovasi KKN PMD Unram di Jembatan Kembar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fara Fidela Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram berfoto bersama Sekretaris Desa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, serta warga Desa Jembatan Kembar di depan Poskesdes usai kegiatan sosialisasi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Tim Mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram berfoto bersama Sekretaris Desa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, serta warga Desa Jembatan Kembar di depan Poskesdes usai kegiatan sosialisasi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sebagai bentuk nyata komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN PMD) Universitas Mataram (Unram) Tahun 2026 menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah pertanian di Desa Jembatan Kembar, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi yang digelar pada Kamis (16/7/2026), para mahasiswa mengedukasi warga setempat untuk mengolah tongkol jagung menjadi arang briket ramah lingkungan yang memiliki nilai guna dan bernilai ekonomis.

Berada di kawasan potensi pertanian yang melimpah, Desa Jembatan Kembar sering kali menghadapi penumpukan limbah pertanian pascapanen, khususnya tongkol jagung. Berdasarkan hasil survei pra-KKN, sebagian besar tongkol jagung hanya dibuang atau ditumpuk tanpa pengelolaan lebih lanjut. Melihat potensi tersebut, tim KKN PMD Unram menginisiasi program edukasi pemanfaatan limbah pertanian menjadi briket sebagai sumber energi alternatif yang terjangkau dan ramah lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Jembatan Kembar ini diawali dengan pembukaan, doa, serta sambutan dari Sekretaris Desa (Sekdes) Jembatan Kembar dan Ketua Kelompok KKN. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai kontribusi pengelolaan limbah terhadap energi bersih, pemutaran video tutorial, hingga demonstrasi pembuatan briket secara langsung di hadapan warga.

"Melalui program ini, kami ingin mendorong tercapainya target SDGs 7 di tingkat desa. Tongkol jagung yang tadinya dianggap limbah tidak berguna, sebenarnya bisa diolah menjadi arang briket dengan pembakaran yang lebih lama, sedikit asap, dan terjangkau. Ini menjadi langkah awal mewujudkan kemandirian energi ramah lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga," ujar Ketua KKN PMD Unram Desa Jembatan Kembar.

Mahasiswa KKN PMD Unram mendemonstrasikan proses pencampuran bubuk arang tongkol jagung dan cairan perekat tapioka di Poskesdes Jembatan Kembar, Lombok Barat. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Dalam sesi demonstrasi praktis tersebut, tim mahasiswa peraga menjelaskan secara detail setiap tahapan pembuatan briket di hadapan warga. Proses diawali dengan mencampurkan bubuk arang tongkol jagung yang telah diayak halus bersama cairan perekat tepung tapioka hangat. Di atas meja peragaan, adonan tersebut diaduk secara konsisten hingga mencapai tingkat kekentalan dan kepadatan yang pas. Mahasiswa juga mempraktikkan langsung teknik pemadatan menggunakan cetakan pipa paralon sederhana, guna memastikan briket yang dihasilkan tidak mudah rapuh saat memasuki proses pengeringan.

Sekretaris Desa, Bhabinkamtibmas, serta warga Desa Jembatan Kembar antusias menyimak pemaparan materi dan demonstrasi pembuatan briket. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kehadiran jajaran perangkat desa, Bhabinkamtibmas, ketua RT, hingga pengurus Karang Taruna turut menambah antusiasme warga dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Selama sesi berlangsung, para peserta tampak menyimak setiap penjelasan materi dengan cermat, mulai dari potensi ekonomi limbah hingga tahap keselamatan produksi. Suasana interaktif terlihat saat warga berdiskusi aktif mengenai peluang penerapan inovasi briket ini untuk kebutuhan rumah tangga.

Anggota tim KKN PMD Unram memperlihatkan langsung sampel produk arang briket tongkol jagung yang sudah jadi kepada warga Desa Jembatan Kembar. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Rasa ingin tahu warga semakin memuncak saat mahasiswa membawa sampel arang briket yang sudah jadi untuk diperlihatkan secara dekat. Warga secara aktif meraba, memeriksa tekstur, hingga memastikan kepadatan fisik produk sebelum siap diuji coba.

Melalui pendekatan yang interaktif ini, kegiatan diharapkan tidak hanya berhenti pada sesi sosialisasi semata. Lebih dari itu, program ini ditargetkan mampu mendorong kemandirian energi lokal serta memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Jembatan Kembar melalui pengelolaan sampah pertanian yang berkelanjutan dan berbasis kemasyarakatan.

Panduan Praktis Pembuatan Arang Briket Tongkol Jagung

  1. Karbonisasi: Kumpulkan tongkol jagung kering, lalu bakar dalam wadah tertutup sebagian hingga menjadi arang.

  2. Pengayakan: Tumbuk arang hingga halus dan ayak agar ukurannya seragam.

  3. Pembuatan Perekat: Panaskan tepung tapioka dengan air di atas wajan hingga mengental.

  4. Pencetakan: Campur bubuk arang dan perekat, lalu padatkan ke dalam cetakan pipa paralon.

  5. Pengeringan: Jemur briket di bawah sinar matahari selama 1–3 hari hingga kering sempurna dan siap dipakai.