Konten dari Pengguna

Pendidikan Indonesia dan Angka yang Dipuja-puja

Farah Aulia

Farah Aulia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farah Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan Indonesia (sumber: https://pixabay.com./id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan Indonesia (sumber: https://pixabay.com./id/)

Pendidikan menjadi ujung tombak kemajuan dari suatu negara. Sudah tak asing bila suatu negara dinilai dari tingkat pemerataan pendidikannya. Masalah pemerataan pendidikan Indonesia memang belum sepenuhnya terjawab.

Akan tetapi, telah ada upaya mengadopsi teknologi yang membantu pemerataan pendidikan karena pastinya tiap-tiap negara menginginkan kedudukan yang setara dan terhormat dengan negara lain.

Namun, telah muncul tantangan baru terhadap pendidikan kita saat ini. Pendidikan Indonesia terlalu berorientasi pada angka atau hasil akhir dari tugas yang siswa kerjakan.

Alih-alih berfokus pada proses yang dilalui siswa, tak banyak guru yang hanya membuka mata untuk melihat angka yang pantas diberikan. Bukankah hal ini berpengaruh terhadap pemikiran siswa dalam menyelesaikan tugas?

Ilustrasi mencontek. Foto: kriangkrainetnangrong/Shutterstock

Sudah banyak kasus mengenai siswa yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai terbaik. Di samping faktor kurangnya kepercayaan diri siswa, siswa juga merasakan tekanan dari sistem pendidikan. Siswa merasa takut akan kegagalan dan memikul ekspektasi yang berat untuk menjadi sukses.

Memiliki ekspektasi menjadi sukses sangatlah bagus sebagai motivasi, tetapi tidak semua siswa dapat mengendalikan dan mengatur ekspektasinya. Terkadang muncul kecemasan tiap kali berbuat salah dan menganggap ini adalah akhir dari segalanya. Padahal kita tidak akan bertumbuh bila belum pernah terjatuh.

Bahkan terdapat kasus pihak sekolah sendirilah yang menyebarkan kunci jawaban ujian kepada para siswa agar mendapatkan nilai yang bagus. Fenomena ini terjadi di Medan dan Deli Serdang pada 2017 silam.

Akan tetapi, pada kenyataannya hal demikian itu masih terjadi pula di sekitar kita. Jangan biarkan menyontek menjadi hal yang lumrah seolah mentradisi secara turun-temurun bagi siswa untuk mendapatkan nilai bagus.

Seharusnya pendidikan Indonesia mulai memfokuskan pembelajaran yang membuka pemikiran siswa menjadi lebih kritis. Hal ini bisa diterapkan dengan tidak menjadikan suatu jawaban sebagai satu-satunya jawaban yang benar.

Ilustrasi mencontek. Foto: Constantine Pankin/Shutterstock

Siswa seharusnya diperbolehkan menjawab sesuai dengan isi pemikirannya, tetapi tetap dengan bimbingan agar memiliki kesepahaman. Dengan adanya perbedaan jawaban dari tiap siswa, justru ini membuka arah aliran diskusi sehingga siswa bisa saling bertukar pikiran.

Manfaat penerapan sistem ini adalah meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Tentunya di masa kini, keterampilan berpikir kritis (critical thinking skill) merupakan keterampilan yang krusial. Guru juga dapat menyisipkan tugas dengan soal yang memiliki unsur kemampuan berpikir tingkat tinggi alias higher order thinking skill (HOTS).

Dengan adanya soal HOTS, siswa akan tergerak untuk berpikir secara kritis dan mendalam serta belajar cara menganalisis suatu masalah. Selain itu, guru sebagai pendidik dapat menekankan kembali kepada siswa bahwa kejujuran adalah yang utama. Segala proses yang dilalui siswa secara jujur akan lebih bernilai dibandingkan dengan cara instan.