Berdamai dengan Masa Lalu untuk Menemukan Kembali Keberanian Berbicara

Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Farah Dhania Dianingtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita menahan diri untuk menyuarakan pendapat kita meskipun kita memiliki ide yang bagus? Tidak sedikit orang yang memilih untuk tetap diam saat berbicara di ruang kelas, di forum diskusi, atau bahkan dalam percakapan sehari-hari. Menurut Saya, kurangnya kepercayaan diri sejak awal tidak selalu menyebabkan rasa takut berbicara.
Ia biasanya berasal dari pengalaman masa lalu yang belum selesai.
Pengalaman tersebut dapat berupa kritik yang menyakitkan, pendapat yang diabaikan, atau ditertawakan saat presentasi. Bagi orang lain, peristiwa kecil seperti itu dapat meninggalkan kesan yang signifikan. Kita mulai membuat kesimpulan tanpa disadari bahwa lebih aman untuk tetap diam daripada mengambil risiko lagi untuk disalahkan atau dipermalukan. Dampaknya, suara kita secara bertahap hilang, dan peluang kita untuk maju juga terlewatkan.
Di sinilah pentingnya berdamai dengan masa lalu. Berdamai bukan berarti melupakan atau menganggap bahwa luka tersebut tidak pernah ada. Berdamai berarti mengakui bahwa peristiwa itu memang terjadi dan pernah menyakitkan, tetapi tidak lagi dibiarkan untuk menentukan cara kita memandang diri sendiri. Kita dapat belajar melihat kejadian lama dengan lebih tenang, bahwa kegagalan berbicara di masa lalu tidak sama dengan ketidakmampuan di masa kini.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah jujur terhadap perasaan sendiri. Mengakui rasa takut, malu, atau kecewa bukanlah kelemahan, akan tetapi awal dari proses pemulihan. Kemudian, kita perlu memberi ruang bagi diri untuk memaafkan. baik memaafkan orang yang pernah menyakiti maupun memaafkan diri sendiri yang dahulu belum tahu bagaimana harus bersikap. Apabila beban terasa terlalu berat, berbagi cerita dengan keluarga atau teman terdekat adalah langkah yang bijak dan patut dihargai.
Keberanian berbicara juga dapat dilatih secara bertahap. Kita bisa mulai dari hal kecil, misalnya menyampaikan satu pertanyaan dalam diskusi kelas atau memberikan tanggapan singkat di kelompok belajar. Setiap keberanian kecil akan menjadi bukti baru bahwa kita mampu. Seiring waktu, bukti-bukti tersebut akan menggantikan ingatan lama yang selama ini membuat kita ragu.
Sebagai manusia, di lingkungan tempat kita berdiri, di kampus, ranah politik, dan lainnya, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi sesama. Mendengarkan dengan penuh perhatian, menghargai perbedaan pendapat, dan menyampaikan kritik dengan santun dapat membantu sesama manusia merasa diterima. Sebab,
keberanian berbicara tumbuh paling baik di tempat yang menghargai suara setiap orang.
Pada akhirnya, masa lalu memang tidak pernah bisa diubah, tetapi cara kita memaknai sepenuhnya berada dalam kendali kita. Dengan berdamai, kita tidak sedang menutup lembaran lama, melainkan belajar membacanya dengan hati yang lebih lapang. Dari sanalah keberanian untuk berbicara dapat tumbuh kembali, perlahan namun pasti.
