Konten dari Pengguna

Merawat dari Nol: Perjuangan Sunyi Perawat Baru di Ruang Kerja Nyata

Farah Fauziyah
Mahasiswa S-1 Keperawatan Universitas Airlangga
1 Desember 2025 17:02 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Merawat dari Nol: Perjuangan Sunyi Perawat Baru di Ruang Kerja Nyata
Artikel ini mengangkat pengalaman nyata Cici Dwi Hendriyanti, seorang perawat dengan lima tahun pengalaman kerja, tentang tantangan adaptasi, perbedaan teori dan praktik, serta pentingnya komunikasi
Farah Fauziyah
Tulisan dari Farah Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar Perawat Dengan Latar Belakang Menggunakan Stetoskop (Sumber : id.pngtree.com)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Perawat Dengan Latar Belakang Menggunakan Stetoskop (Sumber : id.pngtree.com)
ADVERTISEMENT
Bekerja sebagai perawat tidak hanya soal seragam putih dan senyum ramah. Di balik itu, ada cerita tentang adaptasi, tekanan, dan pembelajaran yang tidak pernah berhenti. Hal itu disampaikan oleh Cici Dwi Hendriyanti, perawat di RS Adi Husada Kapasari yang telah mengabdi selama lima tahun.
ADVERTISEMENT
Awal kariernya dimulai di ruang rawat inap bedah. Setahun kemudian, ia dipindahkan ke Instalasi Bedah Sentral (OK). Peralihan tersebut bukan hal mudah. Ia menuturkan bahwa adaptasi adalah tantangan terbesar, terutama bagi perawat baru. “Dari tindakan sampai penanganan sangat berbeda. Saya belajar dari nol. Belum lagi karakter orang di setiap ruangan itu beda-beda,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa teori dan praktik di dunia nyata tidak berdiri saling berlawanan. “Semuanya berdasarkan teori, apalagi kita menangani manusia, bukan hewan. Prosedur tetap harus dijalankan sesuai pengkajian dan diagnosa,” katanya. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa standar prosedur operasional menjadi fondasi utama keselamatan pasien (Haryanto, 2022).
Cici juga membagi kunci beradaptasi di lingkungan rumah sakit: percaya diri, berani bertanya, dan tidak menutup diri. Menurutnya, banyak perawat baru merasa takut atau pendiam, padahal komunikasi adalah keterampilan yang justru menyelamatkan.
ADVERTISEMENT
Bagaimana dengan kesalahan kerja? Cici bersyukur belum pernah melakukan kesalahan berarti. Namun ia menekankan pentingnya mengecek identitas pasien sebelum tindakan seperti nama, tanggal lahir, dan kecocokan prosedur. “Itu wajib, untuk meminimalisir kesalahan,” tegasnya.
Dalam tekanan dunia kerja yang tinggi, ia menjaga kesehatan mental dengan memisahkan urusan rumah dan pekerjaan. “Pandai-pandailah menjaga diri, memilih teman, dan menjaga lisan,” tuturnya.
Soal pendidikan lanjutan, ia menilai pelatihan dan update ilmu wajib dilakukan. “Ilmu perawat itu mengalir. Kita nanti jadi senior dan harus menularkan ilmu pada junior,” katanya.
Cici menutup pesannya untuk para lulusan baru: “Kerjakan dengan hati. Jangan ada yang mengganjal. Lakukan semampunya, tapi sesuai teori. Jalani saja, nantinya tidak seberat yang dibayangkan.”
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Haryanto, D. (2022). Keselamatan Pasien dalam Praktik Keperawatan Modern. Jakarta: PPNI Press.
Nursalam. (2021). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Profesional. Jakarta: Salemba Medika.
Simamora, R.H. (2020). Kompetensi Perawat Baru dalam Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.