Dulu Dikeluhkan, Kini Dirindukan

journalism student.
Tulisan dari Farah Nadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Udara yang dipenuhi polusi, hiruk pikuk yang setia menemani, dan orang-orang yang dirasuki emosi setiap pagi merupakan sedikitnya ciri Ibu Kota yang kukeluhkan selama ini. Namun, itu semua tak terjadi lagi. Ada yang berbeda dengan Jakarta saat ini.
Aku terkungkung dalam beton sepanjang hari, serasa terpenjara di rumahku sendiri. Bukan atas keinginanku, melainkan keharusan untuk menyelamatkan diriku. Saat ini, Jakarta sedang tidak baik-baik saja, maksudku lebih dari biasanya, bahkan satu Indonesia hingga di belahan dunia lainnya.
Tiap kali kuingin keluar rumah untuk membeli keperluan, tak lupa kumenggunakan pelindung agar tak terjangkit virus yang mematikan. Aku telusuri jalanan Ibu Kota yang kutemukan hanyalah sepi, toko-toko tidak beroperasi entah sudah berapa hari, beberapa orang yang kutemui terlihat seperti mencemaskan hal yang sedang terjadi.
Segalanya menjadi tidak biasa untuk teguran Tuhan yang luar biasa. Pembatasan sosial diterapkan di berbagai daerah, pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, ketidakstabilan ekonomi dirasakan sejumlah keluarga, dan persoalan lainnya turut menambah panjang daftar luka.
Walaupun banyak yang kukeluhkan untuk semua hal yang menyebalkan di kota ini, kurindu kota kelahiranku sebelum pandemi. Melihat wajah-wajah ambisius yang tak kenal lelah dalam mengejar mimpi, menjelajahi pusat kota untuk mencari inspirasi, hingga sekadar keluar rumah tanpa perlu mengkhawatirkan virus yang membahayakan diri.
Kuharap semesta segera menyembuhkan ini semua. Kusudah jemu dengan segala berita yang ada. Aku menginginkan rutinitas seperti biasanya. Bebas berkegiatan di luar sana. Rencana kegiatan yang telah kususun serapi baju di lemari pakaianku, kini harus kutunda untuk sementara waktu. Entah berapa lama lagi aku harus menunggu. Namun, satu yang pasti, aku rindu hari-hari yang lalu. (Penulis: Farah Nadhilah)
