Konten dari Pengguna

Terbentur oleh Semesta, Hanya Impian Belaka

Farah Nadhilah

Farah Nadhilah

journalism student.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farah Nadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tempat yang pernah kusemogakan. Foto: Farah Nadhilah
zoom-in-whitePerbesar
Tempat yang pernah kusemogakan. Foto: Farah Nadhilah

Rasanya mustahil jika setiap orang tak memiliki impian. Bagiku, impian adalah sebuah tujuan kehidupan. Membuat impian menjadi nyata memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya membutuhkan waktu yang panjang dan penuh dengan pengorbanan.

Lagi dan lagi, impian masa kecilku masih terbayang-bayang sampai hari ini. Yang kandas begitu saja, bahkan belum sempat aku memperjuangkannya. Seperti hilang harapan karena dipatahkan oleh seseorang yang begitu berperan untukku di dalam kehidupan. Entah sudah berapa lama kumengingat ini semua sehingga aku masih menyalahkan keadaan.

“Arsitek,” kataku percaya diri. Di setiap sesi pertanyaan tentang impianku, jawaban yang keluar dari mulutku hanyalah itu. Hingga jawaban itu berhenti kukatakan ketika di masa akhir putih biruku. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, impianku dipatahkan oleh seseorang yang begitu berperan untukku di dalam kehidupan. Setelah kejadian itu, hari-hariku begitu pilu. Hatiku dipenuhi rasa ragu untuk melangkah ke jenjang putih abu-abu.

Di sekolah yang bukan kuinginkan, kumenjalani masa putih abu-abu tanpa tujuan. Sudah kupastikan menjadi arsitek hanya sebatas mimpi semalam, karena saat itu jurusanku adalah ilmu sosial bukanlah ilmu alam. Nilai akademikku menurun drastis, sia-sia rasanya tiga tahun menjalani masa putih abu-abu tanpa adanya ilmu yang kupahami.

Di lain sisi, kukembangkan minat fotografi dan menulis puisi sebagai pelarian atas keresahan semua ini. Ketertarikan minatku pada dua hal ini menjadi pertimbanganku untuk mengambil jurusan di dunia perkuliahan. Namun, niatku mengambil jurusan fotografi di salah satu kampus negeri di kota pelajar, tak direstui oleh Ayahku lagi. Aku diharuskan mengambil kampus di Jakarta dan tentunya kampus negeri.

Akhirnya, kuputuskan untuk mengambil jurusan Sastra Indonesia di kampus perjuangan. Namun, aku sadar diri. Kemampuanku tak sepadan dengan kampus incaran. Aku berdedikasi untuk mengambil masa gap year, yaitu selepas masa putih abu-abu, aku tak mengambil kuliah, tetapi kembali mempelajari materi-materi masa sekolah untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di tahun berikutnya.

Setelah setahun aku melalui proses panjang, aku merasa berkembang. Bertemu teman-teman sepantaran, belajar bersama, dan bertukar pikiran. Tiap hari yang kulalui, selalu kunikmati. Semasa sekolah, untukku, belajar adalah lawan, tapi di masa gap year, belajar adalah kawan. Walaupun aku menikmati semua proses ini, tak menjadi jaminan kumendapatkan apa yang kuimpikan.

Hari pengumuman pun tiba, lagi-lagi impianku terbentur oleh semesta. Entah sudah ke sekian kali, semesta berulah kembali. Pupus sudah impian yang selalu kusemogakan untuk menuntut ilmu di kampus perjuangan.

Seandainya diriku berjuang lebih keras, berdoa lebih kencang untuk mengetuk pintu langit paling atas, akankah semesta mengatakan bahwa diriku pantas? (Penulis: Farah Nadhilah)