Konten dari Pengguna
Full Day School sebagai Solusi Pendidikan atau Beban Baru bagi Siswa
7 September 2025 11:24 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Full Day School sebagai Solusi Pendidikan atau Beban Baru bagi Siswa
full day school bukan sekadar soal menambah jam pelajaran, tapi tentang bagaimana memanfaatkan waktu tersebut dengan bijak dan manusiawi. Jika diterapkan dengan tepat, sistem ini bisa menjadi solusi pFarah Nursalimah
Tulisan dari Farah Nursalimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar proses mentransfer ilmu, melainkan juga sarana untuk membentuk karakter, membangun kepribadian, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks. Sejalan dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang aktif dan memberdayakan potensi peserta didik secara menyeluruh baik secara intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual.
ADVERTISEMENT
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa tantangan dalam dunia pendidikan kian hari kian berat. Maraknya perilaku menyimpang di kalangan pelajar, seperti pelecehan seksual, tawuran, hingga penyalahgunaan teknologi, menjadi bukti bahwa pendidikan saat ini belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter siswa yang kuat. Di tengah arus informasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, banyak siswa terjerumus dalam pergaulan bebas dan aktivitas negatif yang meresahkan.
Melihat kondisi ini, pemerintah Indonesia terus berupaya mencari solusi, salah satunya dengan menerapkan kebijakan Full Day School. Sistem ini mengharuskan siswa belajar selama delapan jam sehari di lingkungan sekolah. Tujuannya sederhana namun ambisius, mengurangi waktu luang yang berpotensi digunakan untuk kegiatan negatif, dan menggantinya dengan aktivitas pendidikan yang terstruktur dan produktif di bawah pengawasan guru.
ADVERTISEMENT
Di tengah upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, berbagai sekolah mulai mengadopsi sistem full day school. Konsep full day school memang menjanjikan. Dengan waktu belajar dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, diharapkan siswa dapat lebih terfokus dalam belajar, terhindar dari pengaruh lingkungan negatif, serta memiliki waktu yang cukup untuk pembinaan karakter dan kegiatan ekstrakurikuler. Namun, di balik semangat perbaikan pendidikan ini, muncul berbagai tantangan nyata yang dirasakan langsung oleh siswa, guru, maupun orang tua.
Salah satu tantangan utama adalah keletihan siswa. Durasi belajar yang panjang membuat banyak siswa merasa kelelahan, menurunkan motivasi dan daya konsentrasi mereka di kelas. Tidak sedikit siswa yang mengeluh kesulitan mengatur waktu antara belajar, ibadah, dan kegiatan tambahan di luar jam sekolah. Akibatnya, beberapa dari mereka mengalami penurunan prestasi akademik dan mulai enggan berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, fasilitas sekolah juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Keterbatasan ruang istirahat dan area olahraga turut memengaruhi kenyamanan dan keseimbangan aktivitas fisik serta mental siswa. Padahal, dengan jam sekolah yang panjang, kebutuhan akan ruang untuk beristirahat dan bersosialisasi menjadi semakin diperlukan. Meskipun demikian, penerapan Kurikulum Merdeka menjadi harapan tersendiri. Guru-guru mencoba menerapkan metode pembelajaran yang menarik, bahkan berbasis teknologi, untuk menjaga semangat belajar siswa. Hasilnya cukup positif 65% siswa mengaku sistem ini membantu meningkatkan kedisiplinan mereka. Namun tetap saja, 40% siswa merasa beban belajar terlalu berat, menandakan perlunya evaluasi dalam penataan jadwal dan pendekatan pengajaran.
Menariknya, keberhasilan siswa dalam sistem ini sangat berkaitan erat dengan kemampuan mereka dalam manajemen waktu. Siswa yang mampu mengatur waktu belajar, istirahat, dan kegiatan tambahan, cenderung meraih hasil akademik yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang kesulitan dalam hal ini mengalami penurunan pencapaian dan kelelahan berkepanjangan. Dari sisi orang tua, dukungan terhadap full day school cukup kuat. Mereka percaya bahwa sistem ini dapat membantu anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang positif dan terstruktur. Namun, mereka juga menyuarakan kekhawatiran akan dampak kelelahan dan mengusulkan adanya penyesuaian jadwal serta penambahan waktu istirahat untuk menjaga semangat belajar anak.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, pertanyaan pun muncul: Apakah full day school benar-benar solusi pendidikan, atau justru beban baru bagi siswa? Jawabannya mungkin tidak hitam-putih. Sistem ini memiliki potensi besar untuk membentuk siswa yang cerdas dan berkarakter, selama penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan siswa, kondisi sekolah, serta evaluasi berkelanjutan dari semua pihak terkait. Yang jelas, agar sistem ini bisa menjadi solusi nyata, diperlukan lebih dari sekadar memperpanjang jam belajar. Diperlukan pendekatan yang holistik, yang memperhatikan aspek akademik, emosional, sosial, dan spiritual siswa. Jika itu bisa dilakukan, maka full day school bukan hanya sekadar agenda reformasi pendidikan, tetapi bisa menjadi tempat tumbuhnya generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Sistem full day school diterapkan di Indonesia untuk memberikan waktu belajar lebih banyak kepada siswa. Ini bertujuan agar siswa lebih memahami pelajaran dan dapat mengembangkan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa siswa merasa sistem ini positif karena mereka bisa bertanya lebih banyak, mengikuti pelatihan, dan aktif dalam organisasi sekolah, yang dapat meningkatkan percaya diri. Namun, banyak siswa juga merasa lelah akibat jam sekolah yang panjang. Tugas menumpuk dan waktu istirahat yang sedikit menyebabkan stres. Siswa mengaku merasa kelelahan dan ingin cepat pulang. Masalah lainnya adalah kesenjangan adaptasi. Tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama untuk menyesuaikan diri dengan sistem ini, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau tinggal jauh dari sekolah. Bagi mereka, full day school bisa terasa seperti beban tambahan, bukan peluang pengembangan.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi sistem ini? Kuncinya ada pada keseimbangan. Waktu belajar yang panjang harus diimbangi dengan waktu istirahat dan aktivitas menyenangkan. Sekolah juga perlu menyediakan dukungan emosional dan sosial bagi siswa agar mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan. Guru dan orang tua perlu bekerja sama menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan. Dengan demikian, full day school bukan sekadar soal menambah jam pelajaran, tapi tentang bagaimana memanfaatkan waktu tersebut dengan bijak dan manusiawi. Jika diterapkan dengan tepat, sistem ini bisa menjadi solusi pendidikan. Namun jika tidak dikelola dengan baik, ia justru bisa menjadi beban baru yang mematikan semangat belajar siswa.

