Incling, Eksistensi, dan Gen Z

Pelajar di Yogyakarta
Tulisan dari Zakia Farah Halawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

DIKENAL dengan segudang budaya dan karya seninya? Mana lagi kalau bukan salah satu kabupaten yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kulon Progo atau yang biasa dijuluki dengan The Jewel of Java. Kabupaten yang terletak di sebelah barat Kota Yogyakarta ini dikenal dengan kesenian yang beragam, salah satunya kesenian incling.
Incling Krumpyung Langen Bekso Wiromo merupakan salah satu kesenian di Kulon Progo yang terletak di Dusun Gunung Rego, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo. Didirikan 9 September 1989. Pelatih pertama kali kesenian ini Surajiyo (60) dan Suprapto (75). Langen Bekso Wiromo memiliki arti tarian yang gerakan dan iringannya selaras berirama. Tujuan didirikannya melestarikan kesenian tradisional guna meningkatkan rasa cinta tanah air.
Sejarah Incling
Menurut salah satu pengurus Incling Krumpyung Langen Bekso Wiromo, Suradi (52), kesenian ini mengangkat kisah tentang peperangan antara Kerajaan Bantarangin dengan Kerajaan Jenggala Kediri. Dahulu Kerajaan Bantarangin di Ponorogo, sedangkan Kerajaan Jenggala di Kediri. Awal dari peperangan ini Prabu Klana Sewandana yang berasal dari Kerajaan Batarangin ingin melamar Dewi Kili Suci, salah satu putri keturunan Kerajaan Jenggala. Dewi Kili Suci tidak menerima lamaran itu karena selama hidupnya memilih tidak menikah dan terjadilah peperangan antara dua kerajaan tersebut.
Kerajaan Jenggala yang berperang adalah para panji (gelar bangsawan), yaitu Asmara Bangun, Gunung Sari, Kartolo dan Carang Puspo. Dewi Kili Suci bibi dari Panji Asmara Bangun. Para panji ini melawan utusan dari Bantarangin: Singa Barong dan Banteng Wulung. Tidak hanya karena Prabu Klana Sewandana ditolak lamarannya, latar belakang Kerajaan Bantarangin menyerang Kerajaan Jenggala memperluas kekuasaan dengan menjajah daerah milik kerajaan Jenggala. Pada saat perang tersebut, Singa Barong dan Banteng Wulung kalah dan akhirnya melarikan diri.
Kerajaan Jenggala mempersiapkan diri menghadapi serangan balik dari Kerajaan Bantarangin dengan melatih para prajurit, seperti latihan perang gada, pedang pendek, tombak dan pedang panjang atau pamungkas.
Incling Krumpyung Langen Bekso Wiromo menggunakan perangkat gamelan yang awalnya hanya gong kempul, kendang, angklung krumpyung dan kecrek. Seiring berjalannya waktu, kesenian ini menambahkan penggunaan perangkat gamelan, seperti demung dan saron. Keunikan dari incling ini adalah irama yang digunakan merupakan laras slendro. Gending yang menjadi irama pengiring Incling Langen Bekso Wiromo yaitu Bendrong, Rowo Kidul, Gudril, dan Eling-eling. Terdapat juga lagu yang dibawakan sinden untuk mengiringi pementasan ini, biasanya lagu-lagu macapat, seperti Sinom, Pucung, Dhandhanggula, dan lainnya.
Menurut salah satu sesepuh Incling Langen Bekso Wiromo, Edi Winarto (83), penari menggunakan properti jaran kepang yang terbuat dari bambu dan kayu yang dicat dengan empat warna: merah, putih, kuning dan hitam. Warna tersebut memiliki arti, merah atau Bro Puspo artinya mlebu geni tanpo kobong (masuk api tanpa terbakar), putih atau Sonyo Sakti artinya ngambles banyu tanpo teles (masuk ke air tanpa basah), kuning atau Sukamto artinya ngambles bumi tanpo nglubang (bisa masuk ke dalam bumi tanpa membuat jalan atau lubang) dan hitam atau Cipto Wiloho artinya mabur tanpo elar (bisa terbang tanpa sayap).
Jaran kepang di incling terbagi menjadi dua: jaran kepang ndangak dan jaran kepang ndungkluk. Jaran kepang ndangak atau menghadap ke atas menggambarkan manusia untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan jaran kepang ndungkluk atau menghadap ke bawah menggambarkan manusia untuk berbakti atau tunduk kepada ibu pertiwi. Terdapat juga bendera Dewi Sri dan bendera Anoman yang dibawa oleh para prajurit atau penari ketika sedang pementasan. Bendera Dewi Sri melambangkan kemakmuran sedangkan Bendera Anoman melambangkan kekuatan.
Sebelum diadakannya pementasan, dilakukan ritual membakar kemenyan yang bertujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar acara dapat berjalan dengan lancar, mengundang indang (roh halus atau makhluk astral) agar datang ke pementasan sesuai aturan-aturan pawang, dan memohon izin 'sing mbahurekso' daerah. Mbah Dwijo merupakan pawang sepuh di Incling Langen Bekso Wiromo. Berjonggo atau gambuh atau pawang Incling ini memiliki tugas mengundang dan mengembalikan indang ke tempat asalnya.
Beranggotakan 26 orang, antara lain 4 orang penari onclong, 6 orang penari putri atau prajurit, 2 orang penari singa barong, 2 orang penari banteng wulung, 2 orang bancak doyok atau penasihat menggunakan topeng, 1 orang sinden dan 9 orang sebagai wiyogo. Umumnya penari incling mengenakan celana panji, baju panjang atau pendek, jamang, topong, iket, sampur, dan aksesoris lainnya.
Selain itu, ada juga tenong atau sesaji yang harus disediakan, yang bertujuan untuk memenuhi permintaan penari yang ndadi atau kesurupan. Tenong tersebut berisi golong, tumpeng, nasi asin, kendi klowohan, janur kuning, jenang (merah putih, katul atau kabul, sliringan, palang, baro-baro, tulak), pisang raja atau sanggan, kembang kinang, daun dadap, dawet, ketupat lepat, dua telur ayam jawa, daun ketela, kembang setaman, rujak degan, dan abon-abon (sirih, arta tindih, jajan pasar, lawe wenang).
Incling diselenggarakan di tempat terbuka seperti, lapangan, halaman, atau panggung. Untuk mengundang atau menanggap kisaran sepuluh sampai lima belas juta, dengan harga ini dapat melihat pementasan kesenian incling yang berdurasi empat sampai lima jam. Umumnya dilakukan malam hari tetapi bisa juga dilakukan pada siang hari. Perbedaan utama antara incling dengan jatilan yaitu jatilan mengangkat cerita dari Babad Pajang sedangkan incling mengangkat cerita dari Babad Kediri.
Pencapaian Incling
Dari awal didirikan, kesenian ini pernah mengikuti acara tahunan seperti Festival Kesenian Yogyakarta (1990), syuting di acara televisi seperti TVRI dan RCTI (1994), pertama kali diundang di Bangsal Kepatihan Yogyakarta (1996), mengikuti acara di Pura Pakualaman, Benteng Vredeburg, Taman Budaya Yogyakarta, Pagelaran Keraton, Museum Sono Budoyo, Kampoeng Mataraman, serta Taman Budaya Kulon Progo.
Tahun 2018, mengikuti International Gamelan Festival di Solo dan mendapatkan juara satu. Incling Krumpyung Langen Bekso Wiromo telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2021. Selain diselenggarakan untuk event kebudayaan, incling biasanya memenuhi panggilan acara hajatan, seperti tasyakuran pernikahan, khitanan, ulang tahun, dan lain sebagainya.
Seluruh perangkat gamelan dan properti penari dipusatkan di rumah Suradi atau sekretariat Incling Krumpyung Langen Bekso Wiromo. Tempat ini tidak hanya untuk menyimpan alat-alat dan properti, tetapi digunakan untuk ritual midang jaran setiap Bulan Suro (Asyura).
Midang jaran merupakan suatu aktivitas memandikan jaran kepang menggunakan air kembang yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta untuk menjaga agar budaya kesenian incling ini tetap lestari.
Saat ini, kesenian incling Langen Bekso Wiromo masih terjaga dengan baik. Kesenian ini menyuguhkan penampilan memukau yang tetap dijaga sedari dulu. Incling Langen Bekso Wiromo juga melakukan pemajuan dalam kesenian mereka. Dalam upaya pelestarian kesenian ini tentu memiliki berbagai tantangan, salah satunya betapa sulit mendapatkan parogo atau pemain guna regenerasi dalam kesenian incling.
Sebagai generasi muda di era modern, bisa melakukan beberapa hal untuk tetap menjaga keberadaan kesenian incling. Sebagai contoh, mempromosikan kesenian incling yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Daerah Istimewa Yogyakarta kepada khalayak umum. Media promosi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya melalui media sosial, seperti Instagram, TikTok, Twitter, YouTube dan lainnya.(*)
