Konten dari Pengguna

Konsep Kematangan: Perbandingan Teori Belajar Behavioristik dan Humanistik

Faranida Aulia Rahmah

Faranida Aulia Rahmah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faranida Aulia Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto anak sedang belajar. sumber foto: https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-pupils-sitting-in-a-classroom-with-raised-hands-12716111/
zoom-in-whitePerbesar
foto anak sedang belajar. sumber foto: https://www.pexels.com/photo/photo-of-a-pupils-sitting-in-a-classroom-with-raised-hands-12716111/

Kematangan merupakan suatu kondisi kesiapan, fisik maupun mental, yang dicapai melalui proses pertumbuhan atau perkembangan. Seorang anak yang sudah memiliki kematangan, ditandai dengan adanya:

a. Fokus perhatian si anak

b. Durasi perhatian berlangsung

c. Perkembangan saat diberikan pembelajaran atau pelatihan

Teori-Teori Belajar

Teori belajar psikologi behavioristik dikemukakan oleh para psikologi behavioristik, para ahli yang mengemukakan sering disebut dengan “contemporary behavioris” atau juga bisa disebut dengan “S-R pyshchologist”. Para ahli ini berpendapat bahwa perilaku atau tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcment) dari lingkungan

Teori Belajar Behavioristik

a. Teori Belajar Connectionism (Thorndike)

Teori ini dikenal sebagai "trial-and-error learning," di mana belajar melibatkan pembentukan koneksi antara stimulus dan respons.

b. Teori Belajar Conditioning

Ivan Pavlov: Melalui eksperimen dengan anjing, Pavlov menunjukkan bahwa refleks dapat dipelajari dan dipengaruhi oleh latihan. Ia membedakan refleks bersyarat (dipelajari) dari refleks tidak bersyarat.

- John B. Watson: Mengembangkan teori Pavlov di Amerika, Watson berfokus pada refleks dan reaksi emosional manusia, menunjukkan bahwa perilaku dapat dilatih melalui conditioning. Namun, ia mengakui kelemahan teori yang hanya melihat belajar sebagai proses otomatis.

- Guthrie: Memperluas pandangan Watson, Guthrie menjelaskan metode untuk mengubah kebiasaan buruk, seperti:

  • Metode reaksi berlawanan: Mengaitkan stimulus buruk dengan reaksi yang lebih positif.

  • Metode membosankan: Mengizinkan perilaku buruk terus berlanjut sampai individu bosan.

  • Metode perubahan lingkungan: Menghilangkan stimulus negatif dengan mengganti lingkungannya.

c. Teori Systematic (Clark C. Hull)

Hull menekankan bahwa kebutuhan individu mempengaruhi efisiensi belajar. Teori ini mencakup prinsip pengurangan stimulus pendorong, dengan fokus pada motivasi dan pengurangan kebutuhan untuk memudahkan proses belajar. Penerapan teori ini di kelas meliputi:

  • Teori belajar yang berdasarkan pengurangan stimulus.

  • Tujuan instruksional yang jelas dan spesifik.

  • Pengaturan ruang kelas untuk mendukung proses belajar.

  • Penyampaian materi dari yang sederhana ke kompleks.

  • Peningkatan motivasi melalui kecemasan yang terukur.

  • Distribusi latihan untuk menghindari kelelahan.

Implikasi Teori Belajar Behavioristik

Penerapan teori behavioristik dalam pendidikan mencakup penyediaan bahan ajar yang siap, pengajaran terstruktur, pembelajaran berbasis hasil, penggunaan pengulangan dan pelatihan untuk membentuk kebiasaan, serta pemberian penguatan positif dan negatif sesuai perilaku yang diinginkan.

Teori Belajar Humanistik

Teori ini menekankan bahwa proses belajar harus mengutamakan kepentingan untuk memanusiakan manusia. Fokusnya adalah pada isi yang dipelajari dibandingkan dengan proses belajar itu sendiri.

1. Teori Need (Kebutuhan) oleh Abraham Maslow

Maslow, seorang psikolog, mengkritik pandangan negatif terhadap manusia dalam psikologi dan memperkenalkan teori kebutuhan yang menyatakan bahwa manusia dimotivasi oleh kebutuhan tertentu. Kebutuhan ini dibagi menjadi dua kategori: kebutuhan dasar dan kebutuhan super.

- Kebutuhan Dasar (Physiological Needs): Meliputi kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup, seperti makanan, air, dan tempat tinggal. Kebutuhan ini harus dipenuhi sebelum individu dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.

- Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs): Berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman dan nyaman. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu dapat mengalami gangguan kepribadian.

- Kebutuhan Kasih Sayang dan Kebersamaan (Love and Belongingness): Dorongan untuk berinteraksi secara emosional dengan orang lain. Kurangnya kasih sayang dapat menghambat perkembangan individu.

- Kebutuhan Harga Diri (Self-esteem):Meliputi rasa percaya diri dan penghargaan dari orang lain. Ini mencakup prestasi, pengakuan, dan status.

- Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-actualization): Merupakan kebutuhan tertinggi yang muncul setelah kebutuhan lain terpenuhi. Ini mencakup keinginan untuk mengembangkan dan mengekspresikan potensi diri.

2. Implementasi Teori Need dari Maslow

Maslow percaya bahwa manusia pada dasarnya baik dan kreatif, serta termotivasi oleh kebutuhan tertentu. Dalam dunia pendidikan, penerapan teori ini dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar siswa agar mereka dapat mencapai kebutuhan yang lebih tinggi. Guru dan orang dewasa perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pemenuhan kebutuhan fisiologis, seperti menyediakan waktu untuk olahraga, makanan bergizi, dan waktu istirahat yang cukup. Hal ini penting untuk menciptakan kondisi yang mendorong kreativitas dan etos kerja siswa.