Heart Rate atau Detak Jantung Kamu Tinggi Ketika Berlari?

Pengajar di Sekolah Islam Ar Rafi' dan Penggemar Olahraga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fardiansyah Chalik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum berlari dan mengikuti tren lari ini alangkah baiknya jika kita memperhatikan beberapa faktor penting sebelum memulainya, jangan sampai niat hati ingin berolahraga malah menjadi bencana untuk tubuh kita sendiri.
Pernah dengar tentang heart rate, mungkin di kalangan penggemar olahraga kata tersebut sudah tidak asing lagi heart rate sendiri adalah jumlah detakan jantung dalam satuan menit. heart rate, merupakan salah satu indikator penting dalam melakukan kegiatan pacu jantung seperti berlari.
Sebagai contoh detak jantung normal orang dewasa ketika tidak berlari adalah 60 sampai 100 detak per menit, namun beberapa atlet khususnya pelari biasanya bisa memiliki denyut terendah di 30-40 detak per menit, hal ini menunjukkan seorang atlet memiliki fungsi jantung yang efisien dan kebugaran kardiovaskular yang sangat baik.
Banyak juga faktor yang mempengaruhi fungsi dan detak jantung kita yaitu usia, jenis kelamin, suhu udara, emosi, dan penggunaan obat-obatan.
Pada dasarnya ketika berolahraga detak jantung akan cenderung naik namun di sisi lain kenaikan yang berlebih juga memiliki resiko yang berbahaya salah satunya adalah serangan jantung, idealnya orang dewasa usia 20-30 tahun memiliki detak jantung saat berolahraga maksimal 180 detak per menit. Jika melebihi 180 detak per menit kita harus berhati-hati dikhawatirkan kita dapat terkena stroke, gagal jantung, dan henti jantung.
Nah, kali ini minsport memiliki beberapa tips agar HR dapat stabil dan turun yaitu :
Kurangi pace lari kalian hingga dirasa HR menurun dan nafas kembali normal atau kalian pengguna jam tangan olahraga yang memiliki indikator pengukuran HR dapat melihatnya sebagai patokan saat berlari.
Jika HR kalian tinggi yang paling penting adalah tetap atur dan jaga tempo nafas kalian, tetap tarik nafas melalui hidung dan menghembuskan nafas dari mulut secara teratur.
Saat setelah atau sebelum berlari memang nikmatnya mengkonsumsi stimulan seperti kopi ataupun minuman berenergi lainnya, hal ini dapat memacu detak jantung kamu menjadi sangat cepat dan akan membahayakanmu saat berlari, jika ingin minum kopi sebaiknya setelah berlari dan dijeda sekitar 15-30 menit setelah berlari.
Kalian pelari pemula ataupun hanya ikut-ikutan tren dan ingin berlari kencang sekaligus?, Oh tentu tidak bisa. Pelari pemula seperti kita sangat disarankan melakukan peningkata kecepatan secara bertahap sesuai dengan kemampuan diri dan lama serta efektifitas kita dalam berlatih.
Selanjutnya kita harus selalu memperhatikan hidrasi tubuh saat berlari dan faktor istirahat yang cukup, hidrasi yang baik sangat disarankan agar kita tidak terkena heatstroke saat berlari ataupun dehidrasi yang parah, selain dari hidrasi faktor istirahat yang cukup dengan minimal tidur 6-8 jam sangat mempengaruhi kinerja jantung di keesokan harinya ketika kita berlari.
Terakhir yang terpenting yaitu berlatih, jika kita ingin memiliki pace lari yang ideal untuk dilihat orang maka cara terbaik yaitu berlatih ada banyak program latihan lari seperti interval, fartlek, longrun, easyrun, dan recovery run yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan target program yang ingin dicapai.
Dari beberapa tips di atas semoga teman-teman dapat mencapai hasil yang maksimal dalam berlari ataupun olahraga pacu jantung lainnya, dan menghindari resiko serangan jantung mendadak yang diakibatkan kita terlalu memaksakan diri dalam berolahraga.
Jangan sampai niat hati berolahraga malah menjadi bencana untuk kita.
