Corona dan Masyarakat Desa

Manusia yang sedang menempa kanuragan di Jurusan Ahwalusasyhiah IAI Ibrahimy Genteng Bumi Blambangan Banyuwangi
Tulisan dari Fareh Hariyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) tentu memang berdampak bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat. Dampak sosial ekonomi pastilah terjadi. Setiap hari kita bahkan melihat bagai mana informasi perihal pandemi ini menghiasi pelbagai media baik cetak, elektronik maupun daring.
Rata-rata framing yang dibangun memang dampak Covid-19 menumbangkan segala sektor. Tapi tentu jangan hanya fokus pada tumbangnya sektor tersebut saja, ada banyak juga dampak positif dari panedemi ini walau saya sendiri juga tidak menganjurkan untuk di syukuri.
Sebabnya apapun “bala’” yang diturunkan sang pencipta pasti ada iktibar yang terkandung di dalamnya. Pun sudah sepatutnya kita bisa menjadikannya hikmah untuk mendekatkan diri kepada pencipta, apalagi saat bulan suci ramadhan seperti saat ini.
Di tengah rentetan dampak yang sering diasumsikan negatif saya sebagai warga desa yang lahir di kota merasakan pripilij dampak positif dari Covid-19 utamanya di lingkungan sekitar desa saya di Kecamaan Glenmore Banyuwangi, tepatnya di Perkebunan Kendenglembu Afdeling Kalitajem Desa Karangharjo.
Ini bermula dari warga desa yang sebelumnya cukup menafikan perihal kebersihan kini mulai berubah. Bayangkan saja, di desa saya ini sungai menjadi salah satu spot favorit warga untuk nongkrong. Baik untuk melepaskan hajat atau sekedar melepas penat dengan cuci-mencuci pakaian. Tapi tenang, sungai di sini masih cukup kuat debit airnya.
Jadi gak bakal lihat deh walau ada hajat warga yang hilir mudik lewat di samping kita saat beraktivitas di sungai. Tidak hanya itu, mayoritas mata pencarian warga sebagai pekerja kebun juga membuat rupa-rupa kegiatan yang berhubungan dengan tanah menjadi ihwal yang mahfum dijumpai.
Jangan heran jadinya, kalau ada warga habis mencangkul di kebun, lepas waktunya jam makan tiba maka langsung pindah menyangkul nasi. Iya kadang walau kagak cuci tangan juga hal itu seperti jadi kebiasaan. Entah lantaran ususnya yang kuat atau kuman dan virus lokal masih tak sanggup menembus pertahanan tubuh masyarakat desa. ~Saya belum bisa memastikanya.
Sebab belum ada penelitian pasti terkait urgensi cuci tangan saat sedang bekerja di perkebunan. Mulai pestisida hingga pupuk kompos padahal jadi teman keseharian. Pun itu tak akan merubah paradigama cuci tangan setiap jam makan tiba walau tangan abis nyentuh yang tidak-tidak, saudara-saudara.
Namun euforia itu perlahan sirna berkat virus impor yang datang dari Tiongkok. Celetuk Pak Dhe saya yang terbiasa makan di kebun dengan segala kearifan lokalnya, mengakui juga ketakutannya melihat berita yang berseliweran di layar kaca berkait Covid-19.
Anjuran untuk tetap di rumah saja tentu tidak bisa dilakukan, lantaran kerja kebun tidak seperti kerja kantoran yang bisa membawa pulang semua pekerjaan. Masak ya iya kebunnya mau di bawa pulang juga. ~Yaa kagak mungkin lahh
Kalau anjuran social distancing hingga physical distancing tentu sudah diterapkan sejak jauh-jauh hari. Bahkan sebelum pandemi ini datang dan negara api belum menyerang. Lha gimana mau dekat-dekatan saat kerja, atau nyiptain kerumunan masa.
Lha wong tiap orangnya saja kebagian puluhan hektar kebun karet. Belum lagi yang kebun tebu, kakao sama kopinya. Opo gak soroo jal,?
Tentu adigium ditengah musibah pasti ada berkah ada benarnya juga bagi masyarakat di desa saya. Sebab pasca ada pandemi Covid-19 habit yang sudah membudaya itu perlahan sirna berkat sosialisasi yang tak kenal lelah dari perangkat desa tertjinta.
Jika dulu penyuluhan hanya di anggap sebagai ajang cuap-cuap yang unfaedah, saat ini justru berkebalikan. Tak sekedar jadi angin lalu, tapi juga menancap bagai sembilu yang mengiris kalbu setiap dengar ceramah Pak Kades perihal virus itu.
Entah karena takut terjangkit virusnya atau hidayah memang sudah tiba, para warga kini jauh lebih mengarti arti sebuah kebersihan dari pada saya sendiri. Sangkin bersihnya apa-apa yang berurusan dengan tangan harus selalu dikaitkan dengan sabunan.
Jangankan mau makan, saya tiap abis pulang selalu dilempar-lempar kalau mau salaman sebelum cuci tangan. Baju harus langsung di cuci walau pagi baru ngambil dari almari. Untung aja gak sampai desemprot desinfektan setiap kedatangan.
Bahkan sekarang kalau mau masuk masjid di desa saya, walau sudah berwudhu dari rumah tetap saja ada penjaga yang mengawasi jama’ah sebelum masuk ke mimbar masjid untuk beribadah. ~cuci tangan dulu pokoknya, pakai protokol standad Puskesmas.
Entah hidayah macam apa yang didapat, tapi ini tentu jadi angin segar, di tengah pandemi Covid-19. Ada secerca asa mengejawantahkan semboyan “At-Thohuuru Syathrul Iman”, yang artinya: “Bersuci merupakan sebagian dari Iman”. Jadi tak hanya cuci tangan saja, sering menjaga wudhu juga dilakukan masyarakat desa akhir-akhir ini.
Jadi, pikirkan kembali lebih jahatan antara Corona yang datang tak di undang ataukah Colokna Rangga yang tiba-tiba hilang dan pergi tanpa pesan. ~Wallahu A'lam Bish Shawabi.
