Yen Terpuruk, BOJ Kerek Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

Undergraduate Economic Education Student at Universitas Negeri Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Farel Ariansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada 18 September 2026, level ini merupakan yang tertinggi sejak April 1995. Keputusan tersebut diambil melalui voting ketat dengan skor 7-2, dan terdapat dua anggota dewan yakni Toichiro Asada dan Ayano Sato yang menolak kenaikan tersebut, sinyal ini mengindikasikan masih terdapat adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral soal kecepatan pengetatan moneter.
Kenaikan suku bunga acuan sebenarnya sudah diantisipasi oleh pasar. Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyoroti risiko inflasi inti yang berpotensi melampaui target 2%, seiring makin agresifnya korporasi Jepang menaikkan upah dan harga jual. Namun keputusan itu menempatkan BOJ dalam dilema yakni meredam inflasi dan menahan pelemahan yen atau membiarkan beban fiskal pemerintah yang membengkak.
Yield Obligasi Melonjak, Tekanan Fiskal Membayangi
Yield surat utang pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun sempat menyentuh 2,93% pada pertengahan Agustus, tertinggi sejak September 1996. Kenaikkan juga merembet ke tenor lebih panjang: yield 20 tahun naik ke sekitar 3,815% dan tenor 30 tahun ke 4,07%. Kenaikan yield tenor panjang biasanya mencerminkan tuntutan investor atas kompensasi risiko inflasi dan kesehatan fiskal jangka panjang. Setidaknya ada 2 faktor yang mendorong kenaikan yield tersebut diantaranya, sebagai berikut:
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ
Suku bunga acuan yang lebih tinggi membuat obligasi baru menjadi lebih menarik, hal tersebut dikarenakan obligasi baru menawarkan imbal hasil lebih besar, sehingga harga obligasi lama harus terkoreksi turun.
Kekhawatiran Fiskal
Anggaran tahun fiskal 2026 diperkirakan menembus JPY 122 triliun, dengan penerbitan obligasi baru di atas JPY 28,6 triliun dan stimulus JPY 21,3 triliun. Pemerintahan SM Sanae Takaichi juga berencana menamvah belanja dan memangkas pajak, sehingga pasar harus menyerap makin banyak obligasi.
Yang menarik, lonjakan yield awal ini tidak ditopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, melainkan ekonomi Jepang hanya tumbuh 1,1% secara tahunan pada kuartal II 2026, jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 2%. Artinya, pergerakan pasar obligasi lebih dipicu kekhawatiran inflasi dan pelemahan yen ketimbang optimisme ekonomi.
Inflasi Produsen naik, Yen Masih Tertekan
Harga produsen Jepang naik 7,6% secara tahunan pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi ekonom sebesar 7,4%. Angka Juli bahkan direvisi baik menjadi 7,7%, tertinggi sejak Februari 2023, dipicu kenaikan harga minyak dan batu bara, bahan kimia, peralatan informasi-komunikasi, serta logam non-besi. Meski secara bulanan harga turun 0,2%, tren tahunannya tetap tinggi, hal tersebut mengindikasikan adanya sinyal tekanan biaya di tingkat produsen yang berpotensi diteruskan ke konsumen, diperparah kenaikan upah dan konflik di Timur Tengah yang mengerek harga energi.
Di sisi lain, yen belum kunjung menguat. Pada akhir jUli, yen sempat anjlok ke 163,73 per dolar AS, level terlemah dalam sekitar empat dekade. Kondisi ini memicu intervensi pertama antara Jepang-AS sejak 2011. Menurut estimasi Goldman Sachs, Jepang menggelontorkan sekitar US$85 miliar hanya dalam dua hari pertama, jauh lebih besar dari porsi AS. Akibatnya, cadangan devisa Jepang anjlok sekitar US$80 miliar pada Agustus. Yen sempat pulih, namun masih bertahan di kisaran 156-159 per dolar AS, mendekati level psikologis 160.
Akar pelemahan yen terletak pada lebarnya selisih suku bunga Jepang-AS, yang mendorong investor memilih aset berdominasi dolar. Yen yang lemah membuat biaya impor, terutama energi dan pangan, yang kian mahal memicu apa yang disebut inflasi impor. Kondisi ini membuat Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara terbuka mendesak BOJ mempercepat pengetatan kebijakan demi menopang yen.
Dampak ke Pasar Global, Termasuk Indonesia
Di dalam negeri, permintaan pendanaan korporasi Jepang terus tumbuh, meski muncul kekhawatiran investasi yang terlalu panas. Peminjam mulai merasakan beban cicilan kredit rumah yang lebih berat, meski diimbangi penguatan upah riil. Bagi pasar global, normalisasi kebijakan BOJ yang lebih cepat berpotensi menggeser arus modal dunia. Selama bertahun-tahun, yen menjadi sumber pendanaan murah melalui skema carry trade. Jika yield JGB terus naik, aset Jepang akan semakin menarik bagi investor domestiknya sendiri, dan hal tersebut membuka peluang arus modal yang selama ini parkir di luar negeri, termasuk di pasar negara berkembang seperti Indonesia, berbalik ke Jepang.
Era suku bunga ultra-rendah Jepang yang bertahan lebih dari dua dekade kini resmi berakhir. Pertanyaan besarnya: seberapa cepat dan seberapa jauh normalisasi ini bisa berlanjut tanpa mengguncang pasar obligasi atau menggagalkan pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya solid.
